Bangkok Trip : Sawasdee Ka!

Hallo! I recently made a trip to the capital of Thailand. Re-visitting this city after more than two decades.

Day One

We took the famous low-budget airline, of course, that arrives at Don Muang Airport. When I’m done with Imigration Check Point, I could recall dad took my pictures on the stairs. I guess, the airport hasn’t changed much. I had no Thailand Baht with me, so I found ATM to withdraw.

Took cab to Siam Area, where we stay, drop the baggages, and found lunch. It close to noon.

Honestly, I didn’t quite remember what Bangkok looked like in mid 90’s, but not so much different from Jakarta. There was no Bangkok Sky Train back in that time, traffic was as worse as Jakarta.

But now, the city is much developed! Compare to our capital city :-/. That was my impression on the first 3 hours after I explored city center a little bit. The BTS were integrated to main office buildings, very convenient to move around.

Kotanya lebih manusiawi dibanding Jakarta. Jajan di kaki lima aja bersih, pada buang sampahnya sendiri. Sekali lagi, ini impressi saya selama 3, jam pertama di sini.

BTS intersection on Siam Area

After we had our lunch, we wondered around aiming to visit Central Embassy, when they have Open House on the top level. It’s a book stores integrated with various food stalls. Gee, I love its ambience. Food are quite expensive though, for IG content (daaaa!), I bought a cup of coffee :-/

Coffee and a book

We took BTS of course for mobility. So we bought Rabbit Card.

Rabbit Card

back to hotel, check-in ( I stayed in Ibis Hotel), took a quick nap (umur tidak bisa dusta, lelah bangun shubuh) , we took Grab Car to Lhong 1919. An area consists of shops and restaurant at the river bank if the famous Chao Praya.

Lhong 1919

The building was once an Army Barrack during the war, and they turn into shopping complex rather than demolished them.

So, there I was again! Took self potrait, with Chao Praya at the back. Hahahahah

17 yrs old me vs 27++ yrs old me

Drivernya ngomel macet, padahal dibanding Jakarta ngga ada apa apanya :))

Many Thai we met speak little English.

Terus pas cerita besok mau ngapain di Bangkok and we crossed the bridge over Chao Praya.

The driver : Wat Poh

Us : just roaming around, find good places to eat

The driver : No, Wat Poh. and her finger point something

Us : oooihh Wat Poh, kita pikir nanya What For

We took grab car again (because there’s no BTS around) to cross the river to visit Asiatique another shopping and dining complex with mini playground for kids and Wheel Ferris.

Asiatique

I like how the city council managed the river. Ciliwung dan Cisadane ngga mau dibuat rapih kayak gini apa ya? Or is it too late?

Chao Praya from the bridge

Night View from Asiatique

Chao Praya from Lhong1919

Had dinner here, it is a challenge to get back to hotel at 10 pm. Compare to Singapore, aksesibilitasnya untuk public transportation masih kalah jauh. Jadi repot, tapi males pake TukTuk. Supirnya pada rese sama turis (katanya).

We took taxi but the driver refused to use argometer. This was the least unpleasant experience. Tapi ngga mahal mahal amat. Ternyata ada bus langsung ke SIAM.

As for the bus, not all are new like Trans Jakarta, but it used tap and the door automatically closed.

No, Kopaja and Metromini on the main road but they do stop only in the designated place. Bukan suka suka aja behentinya. di Jalan Jendral Sudirman kopaja kaleng masih ada lhoo)

Main expenses :

  • Taxi from DMK to Siam + toll fee : Baht 200 + 70
  • Rabbit card : 100 baht for card, 100 baht for top up. Card is not refundable.
  • Grab Cars to Chao praya around 100 Baht per trip.
  • Makan/ngopi dan jajan lain kan tergantung selera yaa :)?

I started to like the city.

#10daysforAsean Ke Salon yuk!

Salon memang indentik dengan peremuan.  Sayapun, walaupun bisa dihitung dengan jari di tangan frekuensi kedatangan ke salon dalam setahun, tetap saja meletakkan “biaya nyalon” dalam cashflow bulanan :D.

Walaupun pada akhirnya budget nyalon kepakai untuk kaus kaki dri-fit atau biaya lomba lari misalnya 😀

Teman saya kak Indah Juli pernah bilang, meskipun berhijab, perawatan diri tetap penting. Creambath misalnya ! Apalagi kalau tukang creambath jago mijit, sedap! Setelah lebaran kemarin , selain creambath saya menyempatkan diri juga untuk lulur dan pijat di salon. Relaksasi!Pernah juga ketika kelelahan berlibur di Lombok bulan Desember lalu, saya pun ke salon.

Mungkin jasa salon ini yang paling sering saya pakai diantara potong rambut, facial, menicure atau pedicure.

Image

Anyway, ketika topik hari ini #10daysforasean mengangkat tentang salon Thailand, yang terlintas dibenak saya adalah Thai Massage-nya atau Nuat phaen thai dalam bahasa lokal, yang kabarnya menggabungkan juga gerakan-gerakan yang lazim dilakukan ketika Yoga. Sayapun untuk kebutuhan stretching  memakai gerakan-gerakan dalam olahraga ini.

Dulu ketika saya kuliah, saya kerap menonton MTV.  Saat itu ada semacam reality show, yang merekam kehidupan kumpulan anak muda dari negara-negara kebanyakan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapore, Hongkong dan Thailand. Nah,  wakil dari Thailand ini berprofesi sebagai aktris, saya lupa namanya. Saat itu dia ingin melakukan perawatan tubuh. Setelah dipijat (bagian tangan saya) kemudian di lulur. Perawatan seluruh badan dia tentu saja tidak diliput :p

Tapi sepertinya menyenangkan ya, belum lagi suasana salon yang rapih, homy dan memakai aroma terapi.  Duh, pengen banget nyoba!

Seandainya ada salon yang menawarkan Thai Massage ada disekitar perumahan saya, pasti saya coba. Tapi, sesuai topik hari ini, bagaimana kalau salon license luar negeri itu menjamur di perumahan saya, apakah akan menggeser salon lokal lainnya?

Buat saya, rasanya tidak ya?

Di sepanjang jalan Elang misalnya, setiap 100 m sepertinya ada salon yang memakai franchise maupun bukan. Fantastisnya, parkiran selalu penuh! Pun hari biasa 😀

Banyak wanita yang merasa pentinganya perawatan tubuh, rambut dan wajah  agar tetap menarik. Pijat pun banyak khasiatnya untuk kebugaran, yang ujung-ujungnya penampilah akan lebih menarik.

Salah satu salon di Jalan Elang ini, bahkan men-charge biaya yang lebih besar ketika hari libur! Tetap saja parkiran salon itu ramai. Tempatnya memang enak, bersih, nyaman dengan pegawai yang ramah, walaupun harganya ngga murah-murah banget, di atas rata-rata malah.

Dengan adanya salon license dari luar negeri yang dengan servis yang baik, affordable price, tempat yang nyaman apalagi kalau disertai complementary drink misalnya bisa dijadikan  review bagi pemilik salon lokal, kan? Bagaimana mengelola bisnis dengan lebih baik agar tetap bersaing.  Mempunyai bisnis sama saja dengan menjadi orang tua, belajarnya seumur hidup! Toh pangsa pasar masih sangat besar.

hmmmm, saya sih kepikiran pom bensin Pertamina. Sejak datangnya Shell dan Total, service pom bensin ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya! Hahahhaha, malah ngelantur.

Anyway, ada yang pernah coba Thai Massage? cerita donk!

foto pinjam dari sini.