Ke Pondok Pemburu lagi!!!

Sudah lama banget saya ke Pondok Pemburu, Sentul! Nge-cek akun Strava terakhir Chinese New Year 2016!

Lalu teman saya orang Malaysia Afiza, whatsapp saya. Dia ada bisnis trip ke Jakarta, lalu nanya kalau saya ada waktu lowong, mau ke Sentul.

Afiza ini temannya Ejah, pelari trail dari Malaysia juga yang saya kenal waktu BTS. Ejah pernah saya ajak jalan jalan di CFD.

Ejah ngenalin kami via whatsapp, karena Fiza sering ke Jakarta. So, setelah hampir satu tahun “temanan” via IG dan FB, kita ketemuan in person juga.

Mumpung saya free dan penat sama Jakarta yang makin makin macet dan debunya, saya menyanggupi dengan catatan:

  1. Saya ngga akan jemput di loby hotel, dia harus nyebrang karena malas putar balik. This is Jakarta booo! macet 24/7/365!

2. Pulang harus ikut saya ke Bintaro karena kalau saya keluar tol dulu demi drop dia di hotel, macetnyaaaa jahanam!!!! Nehi ya!

Hahahhaahha. Rese ya? Begitulah kalau saya, ngomong pahit di depan aja deh. Situ kalau mau lip service, count me out!

Anyway, Afiza said she didn’t mind, bahkan katanya pagi pagi mau ke Bintaro.

Saya lalu kasih tau Tina, karena dia pengen banget ke Sentul. Dan Tina ajak kawan kawan lain , Dita, Maktin bahkan teman baru Mala dan Sonya mau ikutan juga! Wow rame! Kalau tidak direncanakan malah sering kejadian.

Dan..saya kaget donk Tina ngga bilang ke teman temanya (Dita, Kumala dan Sonya) kalau kita mau nge-trail

  • Dita cuma bawa botol minum segenggam.
  • Kumala pakaian persis kayak mau beli garam di warung. Celana pendek, Handpone di tangan kanan, botol Aqua di tangan kiri *tepok jidat* *jidatsiTina*
  • Sonya sudahlah sempat nyasar, bawa kunci mobil doank ke atas.

Untung ngga hujan, kalo hujan kelar tuh Hp si Kumala! Akiq sih nehi dititipin barang di tas akik!

Dan cuaca saat itu, bersahabat! Sejuk, berangin, matahari nongol malu malu.

And in my surprise, track to Pondok Pemburu is very nice now. rasanya area ini bakal di komersialisasikan deh? 😦

Mau jadi restoran or alike.

Saya sempat kaget juga, di Pondok Pemburu pohon dan bukitnya sebagian di tebang. Konon buat camp area. But on the good side, jadi lebih terang.

Seneng banget rasanya menghirup udara segar, langit biru dan awan putih.

Terus ada cerita lucu.

Di Pondom Pemburu kan ada anjing ya. Banyak lah. Pas kami datang mereka menyalak gitu, ngga galak sih. Ajak main. Terus pas kami 300 meter tracking arah Cisadon, eh anjing itu ikutin kita lho. Setia banget. Kita berhenti foto foto, dia nungguin. Pas kita balik Pondok Pemburu, of course dia ngikutin. Terus berhenti. Seolah mengucapkan selamat jalan.

Lucu banget! Now I understand why dog is a man’s best friend!

Karena sudah siang, kami mampir makan siang. Sudah arah bawah sih, turunan setelah rainbow hills. Cukup bersahabat harganya!

Dita-kiky-tina-maktin-mala-afiza

I think everybody was happy. except Maktin, it was their first trail walk to Pondok pemburu and had no complain!

Kuat kuat amat sih kalian ceuuuuu! Atau takut complain daripada saya tinggalin di Km 0 sendirian? #bihiksss

Afiza senang dapat teman baru orang Indonesia, pada bayarin dia lagi! Menang banyak ya sisssss!

Advertisements

back to Sentul!

Beberapa waktu terakhir, saya merasa kembali ke titik rendah hidup saya. Penat! Sehingga sepertinya saya membutuhkan udara segar (literally!) 

Saya pernah cerita di sini,  sarana ‘komunikasi’ saya sama The Almighty adalah ketika saya lagi trail run. Saya, suara alam dan Dia, kerap lebih ampuh dari sujud panjang selesai sholat.

Akhirnya, hari minggu lalu saya kembali ke Sentul, rute trail beginner Km 0 – Pondok Pemburu. Sekitar 10km pp.

girl in red


Bukit Hambalang. Never get tired of this view


Rindu Tanah Basah 😉

Sudah lama sekali tidak ke Sentul, terutama rute Pondok Pemburu. Terakhir ke Sentul bulan Agustus sepertinya itupun cuma sampai Bukit Hambalang. Bulan May ke rute yang lain.
Kemarin, tidak seperti biasanya, jalan ke Pondok pemburu banyak rintangan, banyak tanah longsor.

Mungkin bulanan musim kering menyebabkan akar pohon melemah, dan ketika hujan lebat, sang akar tak kuat menanahan laju air. mungkin!

Di tengah jalan, saya bertemu seorang ibu. Sepertinya sedikit lebih muda dari saya. Kami hanya berdua, teman saya sudah jauh di depan.

“haduh, teh. longsor tanahnya. kebun saya hancur deh”  berceloteh dengan logat Sunda yang kental. Sembari melihat ke kebunnya di atas. Dua – tiga meter dari jalan.

Saya hanya tersenyum miris sembari melihat “campuran” stek batang singkong dan tanah basah. Lahannya hancur! sebagian. Jalan setapak menuju Pondok Pemburu hanya tersisa untuk 1 kaki. Biar kebayang, betapa parahnya longsor.

“Mau ke Pondok Pemburu ya,Teh? olahraga? hati hati ya!” Lanjutnya lagi ketika saya permisi minta jalan.

Saya tersenyum tambah getir. Walaupun “mesin uangnya” hancur, dia masih sempat mendoakan saya!  Tiba di Pondok Pemburu, lara saya sedikit pupus. berkali-kali ke Pondok Pemburu, kemarin cuacanya paling bagus! cerah namun tidak panas.

 

Shoe-Fie!

Sayapun tiduran di rumput, hal sederhana yang menjadi mewah karena tinggal di TangSel dengan lahan rumah yang sempit dan ketiadaan Taman Kota. Semua lahan kalau tidak disulap jadi perumahan, ya ruko. Memandang langit biru, kiri kanan pohon pohon dengan semilir angin serta suara decitan burung.

sometimes the best thing in life is free.

Setelah itu saya beristirahat di pondok pemburu.  Di sana kami bertemu beberapa trail walker dari Korea yang sudah berumur. tapi masih sehat. Sebagian dari mereka bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik. Mereka membawa bekal sendiri berupa Kimchi dan sayuran. Konon mereka mau melanjutkan di Cisadon atau Bukit Malang. saya malah belum mendengar rute Bukit Malang. -__-

Ah, mudah mudahan  ketika saya seumur mereka, saya tetap sehat , tetap bisa nge-trail seperti mereka. Saya berjalan kembali ke Km 0.

Menikmati kesendirian saya, kepeleset di tanah basah, sembari mendengar suara aliran air, dahan pohon yang patah serta bunyi bunyi serangga. Atau ntah suara binatang apalagi.

Saya bertemu lagi dengan si ibu, yang dengan semangatnya merapihkan kebunnya yang rusak dengan parang dan cangkul.

“eh, udah balik Teh!”  teriaknya dari atas. Suaranya riang.

Kembali saya tersenyum getir, ah! merapihkan rumah tempat saya berteduh yang sangat layak itu saya suka malas!

“Hati hati jalan pulang, teh! minggu depan datang lagi ya! nanti saya bersihkan longsornya”

Ntah siapa nama si teteh. She just teach me a lesson. “Mesin uangnya” hancur, dia seakan tidak peduli. Just fix the mess, life goes on for her, rejekinya sudah dijamin!

Air mata yang sudah saya tahan tahan sejak pertama bertemu blio lebih dari sejam yang lalu akhirnya tumpah juga. He gave me the answer again, to fix my mess!

update: 

akhirnya saya cerita kegundahan saya ke teman SMA. ini komentar salah satu dari mereka:

ki…planning kadang ga sesuai kenyataan…tp tetap syukuri apa yg kita capai smp skrg ini…dan buat planning lagi….