Jangan Injak Lantai Merah!

Tadi siang, saya baca tweet seseorang nongol di timeline.

Saya ketawa kecil, lalu ingat pengalaman sendiri sekitar awal-mid 2002.

Saya ingat banget, waktu itu, saya dan kawan kawan ODP kantor pertama saya lagi di Mall Taman Anggrek. ntah mau makan atau nonton film Amelie. Ada 10-an orang lah.

Yah namanya Mall ya, lantainya kan mozaik gitu.

Image Source: propertydata.com

Terus nih, lagi jalan di hallway tidak begitu ramai, tiba tiba Lubeck teman saya ngomong

“jangan injak Lantai Merah

terus dia loncat loncat yang tegelnya selain warna merah.

Terus saya dan Fajar ikut-ikutan, lompat lompat antar tegel sembari teriak teriak “Jangan injak lantai merah!”

We were on our early 20’s live the fullest :))

Minus ya kelakuannya, kayak anak kecil!

Dan…

Saya ingat banget ada keluarga dengan dua anak kecilnya sekitar 8-10 tahun melihat kelakukan kami bengong gitu. Aneh banget nih kelakukan mbak dan mas ini, begitu kira kira pikiran mereka.

Menyadari kami jadi tontonan, kami berhenti. Saya ingat Tino, yang akhirnya mengembalikan karir dia sebagai oil and gas specialist (jadi dulu dia engineer, terus belot ikutan MDP Bank, tapi ngga selesai dapat panggilan dari oil company gitu).

Tino nyamperin kami sampe bilang “bikin malu aja nih calon officer Bank (tempat saya kerja)”

kami bertiga sih cengenges2x aja.

Sejujurnya saya lupa ada kejadian itu, sampai baca tweet tadi.

Terus kepikiran, kalau sampai 2 bocah yang melongo melihat kami saat itu dan ingat kejadian belasan tahun lalu, jangan sampaaaiiii mereka sekantor dengan salah satu dari kami.

Malu kan yaa :-/

Me and my big mouth

Lokasi : Sebuah Restoran India di area Tanah Abang. Tepatnya Di Thamrin Residence lantai 2. Keliatan dari jalan lah. Di Restoran ini, jarak antar meja deketan. Saat makan siang tadi, di sebelah meja kami, ada customer lain, orang India banget (bukan kayak Amir Khan atau Salman Khan ya).

Dulu waktu SD, guru IPS, bu Ria pernah menerangkan, geografi India itu sedemikiannya, sehingga orang orang Chenai dan Mumbai berbeda physical figure-nya. Karena kantor gw ada 3 cabang di negara tersebut ( Mumbai, Chenai dan New Delhi), sometimes I can tell who is from where.

Salman / Amir khan itu dari daerah barat lah.Yang duduk sebelah gw tadi, karakter mukanya beda sama si Ranjit lah, my colleague from Singapore Branch.Ranjit yang duduk di sebelah Maggie, di foto itu yang perempuan gw dan Maggie, you can tell lah… 😉Anyway, si Mr – katakanlah – Patel ini makan sendiri, sembari baca koran lokal-nya dia. Tulisan India gitu. How do I know? Ya kan jarak antar meja dekat, gw bisa liat.

Teman gw lagi cerita, ketemu sebuah keluarga last weekend, anak mereka lucu lucu.

The father from Dublin while the mother from Cebu. A Mix race family.

Gw – seperti biasa dengan suara yang ngebass se RT bisa dengar – komen:

“ya iyalah anaknya cakep. Mix Race, indo gitu. Gw juga kalo kawin ama cowok sebelah cakep anak gw“. Kata gw ngasal.

10 menit kemudian Mr Patel bayar makan dan senyum ke gw sebelum melangkah keluar.

Mampus….India jual kain di tanah abang kayaknya, ngerti gw ngomong apa. *tepok jidat*.

Anyway, nama restorannya Little India. Harga lebih murah dibanding Queen Tandori – Plaza Mutiara.

Kalau lagi pengen masakan India (I like Indian food) dulu gw ke Pasar Festival, ada yang di Food Court ada yang Ko Ah Noor apa ya namanya , di lantai 1.

Sekarang Jakarta makin jahanam macetnya, NEHI bener deh lunch bela belain ke Kuningan dari Sudirman. So, this place is good! Glad my friend found it.

We shared this meal, cost less than IDR 200,000 with drink.

Those extra words

 

bangka

Lintas Timur – Pulau Bangka

 

It was just my routine, commuting between TangSel and Palmerah, on the women-only compartment! Packed as usual, in the state of trying to make ends meet. As always, I bought an extra bag with me, usually for lunch box or novel to read and an umbrella. When I got to the compartment, found available empty space, then I asked a lady who stand in front of me to put extra bag on top shelf.

Arriving at my destination, of course I asked her help again to take my bag down.

She did.

I said thank you.

She nodded

without looking at my face.

I said “Have a good day!”

in my surprise, she turn her head and smiled

“You too”, she replied.

Honestly speaking, when I said “Have a good day” I was basa-basi 😀 . It wasn’t sincere!

But the response I received was something and I guess, our quick encounter boost each other’s mood that morning! I felt happy and I hope she did too!

Those extra words! 

Come to think of it, after I arrived at the office and was greeted by the security officer..

“Selamat Pagi, Mbak”

besides greeted them back, now I added

 Sehat Pak?

Their replies and wider smile make me happy! Really!

Those extra words!

Try it yourself, for me it feels nice to boost someone’s mood from simple thing.

Those extra words! 🙂

 

ab in die Falle

Gute Nacht!

 

PS : that is a picture that my sister took recently during our Bangka trip. Will write it soon or be friended with me on Facebook, I’d share some pictures!