#10daysforAsean Dulu Dia Burma

Mencoba konsisten untuk #10daysforAsean hari keempat 😀

Jauh sebelum kasus Rohingya, hal yang terlintas di kepala saya ketika mendengar nama Birma (atau Myanmar setelah berada dibawah kepemimpinan Militer di akhir 1980-an) adalah Aung San Suu Kyi kemudian kasus pipa gas Yadana yang pernah dibahas dalam kasus Hukum Etika Bisnis ketika saya kuliah dulu.

Proyek Pipa gas Yadana, kolaborasi antara 2 perusahaan minyak raksasa Total dan Unocal yang menggandeng partner lokal dari Thailand dan BUMN-nya Myanmar dibangun untuk membawa gas bumi di Laut Andaman ke Thailand melalui Myanmar. Proyek ini selesai akhir tahun 1990-an.

Kontroversi proyek ini karena disinyalir adanya pelanggaran hak asasi manusia, kerja paksa, prostitusi dan rentetan masalah yang timbul kemudian.
Pihak militer yang ditugaskan sebagai pengawas kerap memaksa warga sipil untuk bekerja, jikalau menolak, maka akan dipukul bahkan dibunuh.
Bisa dibayangkan kondisi ekonomi penduduk desa yang dilewati pipa gas ini. Di kelas, grup diskusi pun alot, kepentingan kapitalis kerap menyusahkan warga sipil.

*sigh*
Negara tetangga ini memang mempunyai banyak PR untuk membenahi urusan domestiknya.
Sulit untuk membangun ekonomi suatu negara ketika masih ada pelanggaran hak asasi manusia disitu.
Total Gross Domestic Products Myanmar yang saya kutip dari http://www.tradingeconomics.com hanya USD 53 bio, jauh dari negara sebelahnya Thailand sebelahnya USD 366 bio. Saya tidak membandingkan dengan Indonesia (USD 878 bio) karena tingkat konsumsi negara kita tinggi pararel dengan tingginya populasi.

Anyway dengan kondisi ekonomi yang masih berantakan dan pasti berdampak pada keadaan sosial suatu populasi, saya merasa wajar jika pemeritah Myanmar yang kini dipimpin orang sipil sejak tahun 2010, perlu menseleksi warga asing yang akan masuk negaranya walaupun itu sekedar visa turis.

Standard keamanan tiap negara juga berbeda. Setiap pemerintah wajib melindungi warga negaranya. ya kan?
Thailand bahkan hanya mengijinkan tinggal selama 15 hari via darat.
Meanwhile, let’s hope for better Asean

20130829-113024.jpg

Foto Yadana Project diambil dari sini

#10daysforAsean Bangunan Tua itu Disebut Candi

Sewaktu saya kecil, sepertinya saya didoktrin kalau Candi Borobudur termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Bangga? Pasti!

Tak ayal saya meminta orang tua untuk mengajak liburan kesini dan dikabulkan sebagai hadiah naik kelas, puluhan tahun lalu! Hahahahah berusaha menyembunyikan umur.
Sayangnya sejak kunjungan pertama itu, saya belum kembali mengunjungi candi yang dibangun pada abad ke 8 Ini

Tapi ya, seingat saya memang besar dan megah! Kami langsung ke atas karena saat ini cuaca sangat panas, adik saya masih kecil. Jadi saya tidak banyak keliling untuk memperhatikan relief patung yang juga menyimpan cerita.
Sekedar kisi-kisi, 2-3 tahun sebelumnya candi ini di bom dan saat saya kesana masih tersisa puing-puing arca. Jadi bisa dibayangkan, sudah lama sekali.

Doktrin ini patah di kelas social study saat itu saya masih SMP dan tinggal di sudut lain bumi ini. No one know where Borobudur is, even teman-teman dari negara lain di Asia seperti Korea dan Pakistan misalnya. Gemas rasanya!

Seiring dengan berjalannya waktu, saya malah lebih mendengar cerita tentang Angkor Wat di Kamboja. Ayah saya langganan majalah National Geography saat itu.
Apalagi ketika sudah kenal internet, forum diskusi di Trip Advisor lebih banyak mengulas Angkor Wat dibanding Borobudur. Saya belum pernah mengunjungi komplek candi ini. Namun seperti yang kita tahu, kedua candi ini sama-sama Candi Budha. Secara struktur bangunan, Borobudur cenderung seperti stupa dan tinggi seperti mendaki gunung. Angkor Wat lebih menyerupai menara karena ada pengaruh kebudayaan Hindu saat awal pembangunannya. Kata Hafidz, rekan saya yang pernah kesana, Borobudur lebih indah. Hal signifikan lainnya yang saya tahu, kedua candi ini juga lebih indah didatangi ketika matahari terbit. Mungkin, karena kebudayaannya yang dibawa pun mirip. Atau bisa jadi karena fungsi awal bangunan ini untuk pengamatan langit di jamannya.
Oh ya, kalau kalian suka berolahraga di luar sekalian jalan jalan, ada dua event lari seru lho di kedua candi ini

Borobudur 10k tanggal 10 November 2013 dan Angkor Wat Half Marathon 1 Desember 2013
Ikutan yuk!

PS: tulisan ini diposting dalam rangka mengikuti #10daysforAsean dari http://aseanblogger.com/lomba-blog-10daysforasean

PS no 2 : foto si Hadidz waktu ke Angkor wat 5 tahun lalu. Dipakai sudah ijin beliau 😀

20130827-214954.jpg