#10daysforAsean Enjoy Jakarta

Saya pernah sekilas baca di sebuah artikel tentang Asean, kira-kira bunyinya seperti ini :
‘Anomali Anggota Asean (sok) damai di luar, memperkaya senjata di dalam’
Ini terkait dengan hal yang saya singgung di postingan sebelumnya tentang ketegangan di perairan Laut China Selatan.
Dalam kasus ini, Indonesia berada di pihak yang netral (terima kasih kepada negara kita yang luas wilayah lautnya lebih besar dibanding daratan) yang kerap kali berusaha meredam konflik ini di forum Asean.

OOT sedikit : saya pernah training tentang analisa keuangan, dimana pemberi materi, Johny Tan, adalah seorang Warga Negara Singapur.
Mr. Tan berucap seperti ini ‘your country can afford having 50% of its citizen illeterate, my country can’t ‘
iya, saya kembali disadarkan oleh potensi negara ini.

Ini baru bicara potensi Human Resource negara kita belum potensi alamnya.

Berdasarkan dua point diatas saya bisa bilang adalah wajar menjadikan Indonesia sebagai ‘rumah’ untuk negara anggota Asean. Sehingga wajar adanya ibukota Indonesia ini menjadi Diplomatic City of Asean.

Dampak positifnya tentu saja dapat menjadi gerbang masuk untuk negara maju lain yang menjalin kerjasama dengan negara Asean dalam bentuk Asean+ 3, dengan China, Jepang dan Korea Selatan.

It doesn’t take a genius to read between the line, prediksi cash flow yang masuk ke negara kita! Saat ini saja bisa dibilang produk apapun tersedia di kota ini!

Masalahnya adalah siapkah kita (Kota Jakarta) ? You guys know the answer? 😉

Sudah saya singgung juga di postingan lain sebelumnya, lagi-lagi, infrastruktur kita belum baik jika boleh dibilang tertinggal dari ibukota pengagas Asean (kecuali Manila, yang 11-12)

Kota ini merugi secara ekonomi sebesar IDR 40 trilliun karena macet. Mungkin belum termasuk kerugian polusi udara dari asap kendaraan bermotor. Jumlah ruang terbuka kalah jauh dengan Ho Chi Minh City. Waktu saya lari pagi di Bukit Aman, seperti yang saya tulis, saya melihat tupai dan monyet liar. Hal yang sepertinya mustahil saya jumpai jika lari di Jakarta.

Pembangunan kota ini buat saya tidak seimbang. ‘Nganggur’ dikit dijadikan lahan komersial.
Saya pernah tulis di account Path saya:
‘Adakah kota lain di dunia dimana keterangan 5 minutes walk equal 30 minutes drive?” Pada siang hari dari depan kantor, jarak antar tempat yang dihabiskan dalam 5 menit berjalan sama dengan 30 menit berkendaraan!

Ibarat rumah yang ingin menjamu tamu atau kerabat dekat agar betah dan nyaman, Jakarta sangat sangat sangat sangat perlu berbenah.

Foto dibawah saya ambil dari atas Kali Krukut yang awal tahun ini meluap airnya.
Saya berjalan dari gedung kantor ke stasiun Dukuh Atas. Perjalan sepajang 1km itu kurang nyaman sebetulnya. Selain trotoar sempit, kondisinya juga jelek bebatuan, plus harus berbagi dengan pengendara sepeda motor yang memakai badan trotoar karena Jalan Sudirman, jalan protokol kota ini macet luar biasa.

20130904-123853.jpg

Ingin saya di kiri kanan atau setidaknya satu sisi kali ini saja ada track untuk jogging dan sepeda.
Sebagai commutter, penduduk sub urban konstribusi saya hanya tidak buang sampah sembarangan dan memakai angkutan umum. Hahaha 😀
Jujur saya agak kesal sama teman-teman yang hampir setiap hari selalu update status ‘macet’ dan rentetan makian.
Padahal mereka memaki dari mobil pribadi berpendingin udara,
they are part of traffic!
Tapi dipikir- pikir mereka tidak salah 100% karena angkutan umum jelas tidak memadai khususnya bagi kelas menengah yang ditambahkan lagi oleh para seleb socmed #kelasmenengahngehe

Saya secara de facto terakhir menjadi warga kota ini tahun 2007, secara De yure baru 2011 (dengan mati-nya masa berlaku KTP saya yang berlambang Monas) .
Tapi antusias mengikuti sepak terjang kedua politisi yang sedang naik daun dalam merapihkan ibukota negara tercinta ini.
Semoga keluarga mereka pun sama tangguhnya dengan kepala keluarga mereka.

Penutup:
This is what my nike+ app say after I’m done with my target.
“Congratulation! You just complete your goal! your record never stood a chance’

Rekor saya update blog 10 hari in a row demi berpartisipasi dalam acara yang seru Lomba Blog #10daysforAsean dari Aseanblogger.com

Mohon maaf jika isi dan pemakaian kata kurang berkenan, sok tahu,atau apapun itu 😀 Beberapa postingan, termasuk postingan hari ini, saya update lewat mobile phone. Banyak typo ;))

Buat teman-teman followers di WP, besok ya saya update cerita seru saya di bromo 10k dan mungkin cerita lari cantik di kabupaten palawan! Yes, saya besok travelling lagi :))

#10daysforASEAN Impossible is Nothing

2 more to go,
Gee, saya baru baca baik baik aturan main, baru sadar boleh bolong 3x! Hahahaha
But similar with running, i’m in the track competing with no one, I’m trying to beat myself!
Bisa tidak posting 10 hari berturut? :))

So, bear with me for the last two days! 😀

Langsung saja, sesuai tema, April lalu dilangsungkan KTT Asean ke 22 di Brunei Darusalam yang kembali menegaskan tiga pilar persatuan untuk politik dan keamanan, ekonomi terakhir sosial dan kebudayaan.
Bisakah?

Saya berpendapat progress ini akan makan waktu karena ( no surprise!) beberapa masalah politik di negara anggotanya.
Mungkin ada yang sempat baca berita Partai Demokarat Thailand bertengkar memaksa PM Yingluck turun dari jabatannya.
Geser sedikit ke Kamboja, pemimpin partai oposisi meminta bantuan PBB untuk menyelesaikan konflik pada pemilu akhir Juli lalu.
Masalah yang ada mirip dengan negara kita yaitu data pemilih dan tinta.
Atau Laos dengan mayoritas penduduknya disinyalir masih kekurangan gizi dan issue HAM etnis Rohingya di Myanmar.

Pendek kata tingkat kesejahteraan antar warga negara juga jompang jauh jika dilihat dari GDP per kapita negara anggota.
Tertinggi adalah Singapura dengan USD 50,714 dan terendah Myanmar sebesar USD 804.
Ya, saya tahu, hampir di tiap belahan dunia manapun sepertinya begini ya, tapi coba tengok negara di Latin America, yang kebanyakan sama sama negara berkembang. Urutan tertinggi adalah Uruguay dengan GDP per capita sebesar USD 14,672 dan terendah Nicaragua USD 1,202.
Gap lebih sempit sedikit dibanding singapur-myanmar. Data dikutip dari http://www.globalproperty.com

Di pilar pertama, politik dan keamanan menurut hemat saya masih PR buat pemimpin negara Asean. Masih ribut tentang perairan dan perikanan di Laut China selatan antara Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina dan China.
Belanja persenjataan negara yang saling claim ini meningkat tiap tahun.
Negara mana yang diuntugkan dari situasi ini?

Kalau politik masih tegang, bagaimana dengan legowo meramaikan Asean Free Trade Area yang sudah digagas dari tahun 1992 agar perdagangan antar negara makin dinamis?

Terakhir, masalah sosial dan budaya impak belum stabil nya politik dan ekonomi di setiap negara anggota Asean.

Mungkin , ibarat karyawan yang harus bertemu performance appraisal demi mengevaluasi kineja tahun itu, untuk mecapai ketiga target pilar ini sepertinya perlu Key performance index bagi pemerintah negara anggota Asean.
Susah?
Pastilah, jadi pemimpin negara memang tidak mudah kan? Pasti makan waktu.
Yet, taken from Adidas marketing slogan, impossible is nothing.

#10daysforAsean Mabuhay Pinoy!

Pada topik hari kedelapan Lomba Blog 10days for Asean, saya kembali sadar, negara di Asia Tenggara ini have a lot in common,kita sama-sama memiliki pemimpin negara yang dipilih kembali (atau harus memilih) yang sama untuk waktu yang lama.

Malaysia dengan PM Mahatir Muhamad, Indonesia dengan Pak Soeharto, Singapore dengan Lee Kuan Yew dan topik negara hari ini, Filipina dengan Ferdinand Marcos. Saya masih ingat lhoo menemani papa saya menonton Dunia Dalam Berita di TVRI  ketika dia “dipecat” jadi presiden dan kemudian digantikan  dengan the late Cory Aquino, dimana suaminya terbunuh (dan diduga di dalangi oleh Marcos).

PS : tolong jangan hitung umur saya, ya! hahahahahha. Yang baca ini jangan-jangan belum lahir pada masa itu.

Bagi saya, between Indonesia and The Philippines share a lot in common as well! Sama-sama negara kepulauan, sadly but true — banyak tenaga kasar kedua negara ini yang bekerja di negara yang lebih makmur  dan mempunyai bahasa yang hampir mirip :D. Airport internasional yang masih-masih butuh perbaikan dan rasanya infrastruktur kota Manila hampir mirip dengan Jakarta, banjir jika hujan deras! Bahkan memiliki presidean wanita pada saat bersamaan, Ibu Megawati dan Gloria Arroyo! Ketika Ibu Megawati melakukan kunjungan kenegaraan pada tahun 2001 , saya pernah baca di media, ini semacam  reuni untuk mereka karena  pernah makan malam bersama di Istana Nagara ketika sama-sama jadi anak presiden. Gloria Arroyo adalah anak mantan presiden juga Diosdado Macapagal.

luneta-parkSaya tahu karena  saya punya rekan blogger dari negeri ini dengan ID teacherjulie. Bahkan kalau saya menulis status dalam Bahasa Indonesia, dia bisa mereka-reka apa yang saya tulis dan benar :D. Teacherjulie tidak menulis blog lagi, sekarang kami ‘berkomunikasi’ melalui Instagram.

Obrolan sama dengan Grace waktu saya ketemu di Johor Baru kemarin pun sangat lancar dan akrab. Seolah-olah we have been through the same thing karena kondisi negara kita membentuk seperti itu :))

Ketika Marcos turun, seingat saya hampir sama kejadiannya dengan ketika alm Pak Harto turun jadi presiden 15 tahun kemudian, demonstrasi besar-besaran akibat korupsi yang menggila, pelanggar hak asasi manusia dan kebebasan pers. Sayangnya, sama dengan Indonesia, pasca naik dan turun presiden yang berkali-kali itupun masalah korupsi belum selesai bahkan semakin parah di jaman Joseph Estrada, mantan presiden pengganti Corry Aquino yang juga mantan bintang film! yeah..yeah..they had ‘presiden ganteng’ as well :D. Ring any bell?

Oh ya, sebelum saya lupa dan issue ini yang menjadi kesimpulan saya untuk tema hari kedelapan ini. Beberapa tahun yang lalu, lewat photo blog saya (yang sekarang tidak aktif), saya ikut meme photo yang diikuti oleh blogger seluruh dunia. Jadi ada seorang blog hosting tema tertentu dan kita harus posting foto dengan tema tersebut di blog yang kita punya. Disini saya kenal dengan Teacher Julie, Mimie Watson dan Jeroi (ada di  Fb dan timeline twitter saya). Banyak sekali peserta dari negara ini dibanding dengan negara Asia Tenggara lain. Ini juga didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris mereka yang buat saya diatas rata-rata blogger Indonesia saat itu.

Ambil contoh paling mudah saja ya. Tempat paling gampang mengekspresikan diri adalah social media kan? Misalnya Facebook. Prosentase pengguna internet di Indonesia adalah 22.12% dan pengguna FB  20.55%,  prosentase pengguna FB dibanding pengguna internetnya mencapai 92% sedangkan untuk Filipina pengguna internet lebih tinggi  32.38% dengan penguna FB 28.8%, prosentase pemilik akun/pengguna internet 88.96%. Kedua tertinggi untuk negara di Asia Tenggara :D. Data diambil dari om wiki.

In short, sama seperti kita, blogger Indonesia, blogger Filipina memiliki kesempatan yang sama luasnya untuk kebebesan ekspresi dan berpendapat. Saya bahkan tahu tentang Boracay dari blog yang saya baca saat itu. Talking about democracy,  in fact,  negara ini lebih dulu menggulingkan pemerintah yang otoriter di jaman Marcos!

Foto Rizal Park saya ambil dari sini. Cek juga perjalan Mas Cumi disini!

Diikuti untuk lomba hari kedelapan . Two days to go ! 😀

PS : judul saya dapat dari majalah Jalan-Jalan edisi bulan Desember yang mengangkat fitur kota Manila. Artinya, Hello, long live.

#10daysforASEAN The Landlocked Country

tema hari ke 6.
Mencoba menulis di Zahara lounge, menunggu pesawat Citilink yang akan membawa saya ke Malang.
#ok, ini pamer mau liburan 😀

Jujur, selain Lhuang Prabang saya jarang mendengar hal lain tentang Laos, negara terakhir yang bergabung dalam Asean bersama Myanmar.

Kebetulan, minggu lalu saya membuat trivia question di account PATH saya, menanyakan satu satunya negara anggota Asean yang tidak mempunyai garis pantai. yes, the answer is Laos .

Negara ini dikepung Kamboja di sebelah selatan, Thailand dan Myanmar
Disisi barat, China di utara dan Vietnam di sebelah timur.

Sebagai negara yang tidak memiliki laut, jelas tidak memiliki crops Angkatan Laut dan sangat bergantung pada Sungai untuk denyut nadi perekonomian salah satunya Sungai Mekong yang juga memisahkan negara ini dengan Thailand.

Coba tengok awal peradaban, pasti dari daerah pesisir.

— berhenti dulu, boarding! —

— touch down Malang! —-

Jadi menurut saya, perekonomian yang cocok untuk negara ini berbasis argikultur.
Teknologi yang sepatutnya dikembangkan pun sebaiknya untuk menunjang argikultur dan dari titik sini Laos bisa memiliki peran lain dalam partisipasi membangun Asean. Jadi lumbung makanan negara di Asia Tenggara misalnya, seperti negara tetangganya Thailand serta komoditas lain berbasis perkebunan atau pertanian.

Kasarnya, bila rakyat sudah sejahtera lebih mudah bagi suatu pemerintahan untuk mengatur dan bernegosiasi demgan negara lain.

Terlebih negara ini memiliki umat Budha yang cukup besar, dimana para biksu hidup sangat sederhana menggantungkan hidup kepada penduduk yang mereka temui ketika melakukan ritual pagi.

maaf, tidak ada gambar dalam postingan ini ya 🙂

Besok saya mau ikut 10K di bromo! I’m sure i’ll have so much fun.

#10daysforASEAN the Coffee experience

Ah, Vietnam !
Harusnya, September tahun lalu saya menginjakan kaki pertama kali di negeri ini melalui Saigon (Ho Ci Minh City) untuk lanjut ke Na Thrang.

Di benak saya saat menyusun rencana perjalanan akan selalu mengkonsumsi Po Hoa di pinggir jalan dan ‘nongkrong’ di kedai kopinya di mana saja. Level kaki lima sampai coffee shop yang berpendingin udara.
Di kedai kopi memang tempat yang menarik dan pilihan banyak orang untuk menunggu, reuni dengan kawan lama, beristirahat bahkan mungkin mencari inspirasi. Di rumah sakit swasta pun di Jakarta dan sekitarnya tersedia kedai kopi di lobby. Lokal maupun waralaba asing.

Saya dan kopi mempunyai status in a relationship. Walau tak candu, saya tetap merasa perlu mengkonsumsi kopi, hampir setiap hari. 🙂

Teman saya Hanny, selalu memberikan oleh oleh kopi ketika beliau travelling. Ntah kenapa saya suka kopi Flores walaupun rasanya sedikit asam. Kopi Flores ini oleh-oleh Hanny ketika berlibur di Pulau Komodo.

Cara saya menyiapkan kopi non instant, meyeduhnya dengan Moka Pot. Moka Pot adalah penyeduh kopi dari Italia, dimana anda meletakkan bubuk kopi disaringan teko bagian tengah. Di bagian dasar teko, diisi air lalu dibakar di kompor. Air yang mendidih akan mendorong serbuk kopi ke bagian atas.
Di bagian atas moka, secangkir kopi siap anda konsumsi sesuai selera.
Sensasi bau kopi yang terbakar is ultimate experience.
Saya biasa menambahkan susu.
Oh, kopi yang dihasilkan dari Moka Pot bebas ampas.
Unik kan cara menyajikannya?

Pun dengan kopi yang di Vietnam disebut Ca Phe.

Saya pertama kali mengetahuinya di restoran kecil bernama sabang 16.
Vietnam Drip kalau tidak salah nama alat penyaji kopi ini.
Kalau dengan Moka Pot, kopi dialirkan dari bawah keatas dengan bantuan energi panas, kalau Vietnam drip, as it is sesuai hukum gravitasi.

Bubuk kopi diletakkan dalam dry filter lalu dipadatkan/di press lalu ditutup kembali dengan saringan lain. Setelah itu dituangkan air panas pada bagian atas, kemudian air kopi menetes satu demi satu melalui penyaring. Konon, kabarnya waktu 4 menit adalah yang paling baik untuk menikmati secangkir kopi ala Vietnam ini.
Sama seperti Moka Pot, kopi yang dihasilkan bebas ampas.

Saya tidak tahu, kopi di Sabang 16 memakai kopi jenis apa tapi saya tetap menikmatinya. Saya menambahkan susu dan es untuk mendapatkan Ice Coffee Vietnam sesuai selera.
Ini gambarnya, maaf buram.
20130830-103617.jpg

Sajian kopi ala Vietnam ini tampaknya sudah menjamur di ibu kota.
Jadi, bisa saja kita memakai kopi lokal untuk disajikan dengan Vietnam Drip ini.
kombinasi yang menarik, seperti saya menyajikan kopi Flores dengan Moka Pot.
Penikmat kopi jutaan orang di seluruh dunia, tidak mengenal kasta, gender atau apapun.

Dengan dunia yang sudah border less’ memang hal yang wajar untuk mengkombinasikan cara A dengan cara B.
Tidak saja dalam penyajian makanan, dalam alunan musik dan model busana misalnya, hal yang biasa mencampurkan unsur etnik B dan etnik C.

Kembali ke masalah kopi ini, tentu saja jika ingin memasarkan kopi lokal untuk pangsa pasar yang luas harus dari kopi terbaik.
Produsen dan distibutor terbesar di Vietnam, yang mempunyai merek dagang Trung Nguyen Coffee mempunyai sertifikasi EUREGAP , standard internasional . Intinya sih pengelolahan kopi merek ini dari perkebunan sampai proses pengelolahannya sudah aman dan ramah lingkungan.
Ya, lagi-lagi PR untuk produsen kopi lokal Indonesia 🙂

Penutup: ah, next time Uncle Ho! Saya akan naik kereta dari Ho chi Minh City – Na thrang – Da nang untuk ke Hanoi.

PS: kalau saya sedang latihan rutin, berlari dengan target 10km, maka Nike+ ketika selesai di km ke 5 akan memberitahu
‘5 km completed half way point’ 🙂
Half way point juga untuk “lomba Blog #10daysforAsean dari http://www.aseanblogger.com”

#10daysforAsean Dulu Dia Burma

Mencoba konsisten untuk #10daysforAsean hari keempat 😀

Jauh sebelum kasus Rohingya, hal yang terlintas di kepala saya ketika mendengar nama Birma (atau Myanmar setelah berada dibawah kepemimpinan Militer di akhir 1980-an) adalah Aung San Suu Kyi kemudian kasus pipa gas Yadana yang pernah dibahas dalam kasus Hukum Etika Bisnis ketika saya kuliah dulu.

Proyek Pipa gas Yadana, kolaborasi antara 2 perusahaan minyak raksasa Total dan Unocal yang menggandeng partner lokal dari Thailand dan BUMN-nya Myanmar dibangun untuk membawa gas bumi di Laut Andaman ke Thailand melalui Myanmar. Proyek ini selesai akhir tahun 1990-an.

Kontroversi proyek ini karena disinyalir adanya pelanggaran hak asasi manusia, kerja paksa, prostitusi dan rentetan masalah yang timbul kemudian.
Pihak militer yang ditugaskan sebagai pengawas kerap memaksa warga sipil untuk bekerja, jikalau menolak, maka akan dipukul bahkan dibunuh.
Bisa dibayangkan kondisi ekonomi penduduk desa yang dilewati pipa gas ini. Di kelas, grup diskusi pun alot, kepentingan kapitalis kerap menyusahkan warga sipil.

*sigh*
Negara tetangga ini memang mempunyai banyak PR untuk membenahi urusan domestiknya.
Sulit untuk membangun ekonomi suatu negara ketika masih ada pelanggaran hak asasi manusia disitu.
Total Gross Domestic Products Myanmar yang saya kutip dari http://www.tradingeconomics.com hanya USD 53 bio, jauh dari negara sebelahnya Thailand sebelahnya USD 366 bio. Saya tidak membandingkan dengan Indonesia (USD 878 bio) karena tingkat konsumsi negara kita tinggi pararel dengan tingginya populasi.

Anyway dengan kondisi ekonomi yang masih berantakan dan pasti berdampak pada keadaan sosial suatu populasi, saya merasa wajar jika pemeritah Myanmar yang kini dipimpin orang sipil sejak tahun 2010, perlu menseleksi warga asing yang akan masuk negaranya walaupun itu sekedar visa turis.

Standard keamanan tiap negara juga berbeda. Setiap pemerintah wajib melindungi warga negaranya. ya kan?
Thailand bahkan hanya mengijinkan tinggal selama 15 hari via darat.
Meanwhile, let’s hope for better Asean

20130829-113024.jpg

Foto Yadana Project diambil dari sini

#10daysforAsean Bangunan Tua itu Disebut Candi

Sewaktu saya kecil, sepertinya saya didoktrin kalau Candi Borobudur termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Bangga? Pasti!

Tak ayal saya meminta orang tua untuk mengajak liburan kesini dan dikabulkan sebagai hadiah naik kelas, puluhan tahun lalu! Hahahahah berusaha menyembunyikan umur.
Sayangnya sejak kunjungan pertama itu, saya belum kembali mengunjungi candi yang dibangun pada abad ke 8 Ini

Tapi ya, seingat saya memang besar dan megah! Kami langsung ke atas karena saat ini cuaca sangat panas, adik saya masih kecil. Jadi saya tidak banyak keliling untuk memperhatikan relief patung yang juga menyimpan cerita.
Sekedar kisi-kisi, 2-3 tahun sebelumnya candi ini di bom dan saat saya kesana masih tersisa puing-puing arca. Jadi bisa dibayangkan, sudah lama sekali.

Doktrin ini patah di kelas social study saat itu saya masih SMP dan tinggal di sudut lain bumi ini. No one know where Borobudur is, even teman-teman dari negara lain di Asia seperti Korea dan Pakistan misalnya. Gemas rasanya!

Seiring dengan berjalannya waktu, saya malah lebih mendengar cerita tentang Angkor Wat di Kamboja. Ayah saya langganan majalah National Geography saat itu.
Apalagi ketika sudah kenal internet, forum diskusi di Trip Advisor lebih banyak mengulas Angkor Wat dibanding Borobudur. Saya belum pernah mengunjungi komplek candi ini. Namun seperti yang kita tahu, kedua candi ini sama-sama Candi Budha. Secara struktur bangunan, Borobudur cenderung seperti stupa dan tinggi seperti mendaki gunung. Angkor Wat lebih menyerupai menara karena ada pengaruh kebudayaan Hindu saat awal pembangunannya. Kata Hafidz, rekan saya yang pernah kesana, Borobudur lebih indah. Hal signifikan lainnya yang saya tahu, kedua candi ini juga lebih indah didatangi ketika matahari terbit. Mungkin, karena kebudayaannya yang dibawa pun mirip. Atau bisa jadi karena fungsi awal bangunan ini untuk pengamatan langit di jamannya.
Oh ya, kalau kalian suka berolahraga di luar sekalian jalan jalan, ada dua event lari seru lho di kedua candi ini

Borobudur 10k tanggal 10 November 2013 dan Angkor Wat Half Marathon 1 Desember 2013
Ikutan yuk!

PS: tulisan ini diposting dalam rangka mengikuti #10daysforAsean dari http://aseanblogger.com/lomba-blog-10daysforasean

PS no 2 : foto si Hadidz waktu ke Angkor wat 5 tahun lalu. Dipakai sudah ijin beliau 😀

20130827-214954.jpg