Day 10: my best friend

Duh, saya skip 4 hari.

Mau cerita my best friend waktu SD. Dia anak baru di kelas 3. Ntah kenapa saya jadi dekat banget sama dia.

Waktu pisah kelas, pasti dia menunggu saya pas jam istirahat. Pasti.

Anaknya tinggi, cantik banget. namanya October Thursday Gonzales. Unik ya? campuran Menado dan Phillipin.

Menjelas SD berakhir ntah kenapa saya ribut sama dia. Ingat banget pas ambil raport ibu saya dan ibu dia duduk bareng satu bangku, bikin saya dan Thursday salah tingkah. Hahahah. No news after lulus SD.

Saya mencoba mencari dia di Friendster (pada jamannya), FB bahkan Linkedin. Karena orang di Linkedin pasti pakai nama asli kan? Hasil Nil! Ada yang kenal?

Day 6 : single and happy

Well, kalau boleh diterusin, single mom and happy.

Ngga bohong sih, acap kali saya butuh partner diskusi, terutama anak-anak. Akhirnya harus membuat beberapa keputusan sendiri. Konsekuensi memilih berpisah dan meminta hak asuh anak, yang kerap kali bahkan sepertinya selalu diterjemahkan para ibulah yang juga menanggung biaya hidup anak.

Saya tinggal meminta sama pemilik kehidupan, dicukupkan kebutuhannya.

Anak-anak sehat, berprestasi, banyak yang bilang mandiri dan dewasa. Ya ada sih bikin pusing, iseng khas anak remaja yang anti kemapaman, tapi masih di koridor lah.

Dan walaupun tinggal sama Papa, saya bukan sandwich generation. Blio mencukupi hidupnya sendiri.

So basically, I’m happy 🙂

Day 5 : my parents

Sekian hari setelah ibu saya berpulang, kami berberes barang beliau. Kami dalam hal ini adalah Papa dan saya. Wajar, saya kan kembali tinggal bersama mereka setelah biduk rumah tangga saya karam.

Waktu 2 minggu terakhir sisa hidup almh, kami membeli beberapa alat kesehatan. Tidak kepikiran sewa saat itu karena semua mendadak.

Papa yang membereskan barang-barang tersebut, mengembalikan pada kemasannya dan menyusun di box besar. Saya mendengar lirihan beliau :

“Yah, kita berdua sudah mencoba yang terbaik,ma”

Beliau berkata, dengan kata kata persis sama, kalau mereka berdiskusi untuk menyelesaikan sesuatu. Namanya juga hidup berumah tangga. It takes two to tanggo.

Day 2: things that make you happy

Pagi ini saya kecelakaan. Saya naik sepeda mau kembali ke rumah. Ada range rover putih nyengol saya

Ntah gimana tangan kanan saya bisa masuk bagian mobil blio. Bagian ban

Saya terseret dan jatuh berdarah. Orangnya kabur.

Kesel

Pendek kata saya ke UGD

CT scan aman

Tangan kanan saya tulangnya retak

Besok pagi operasi

Ndak papa, saya tetep bahagia kepala saya ngga kenapa napa

30 days: day 1

Tadinya mau mulai tanggal 1, tapi tidak bisa tidur, mulai hari ini aja deh.

Awal semester kedua 2020, saya punya boss baru. Yang lucu, 10 tahun lalu, blio pernah wawancara saya lho, but he didn’t chose me. Hahaha thing didn’t work out between us back then. Kata blio.

Unfortunately, blio memilih untuk mengakhiri pengabdiannya di kantor ini, per bulan ini.

Tadi kami zoom meeting, pamitan.

Pesannya “Kamu jangan jutek banget! Yang santai aja kalo ngomong. Orang-orang bisa salah terima”

Well, ya! Banyak yang bilang saya galak! RM maupun analis kantor lama suka komen gini. Dan rekan saya, Mekar, akhirnya mengerti kenapa saya “galak” 🤣

Tapi “jutek” atau “galak” itu, personality bukan ya?