The Notebook

Biar sekarang sudah jamannya digital, I still write on Notebook. Dari 10 tahun lalu, notebook favorite saya tetap sama.

Memang sih, harganya di atas rata-rata. Itu pintar pintar alokasi expense saja sih ūüėČ

Moleskine yang sekarang, kecil saja. Segenggam tangan ukurannya. Sudah 3 tahun punya ini.

Waktu saya tweet tentang diary hardcase ini, teman saya Ariemega nanya isinya apa.

Ngga penting penting banget rupanya.

Draft itternary Eropa Trip *excuted*

Draft untuk Kasus Financial Planner

Akhir tahun 2015, saya ambil sertifikasi Financial Planner. Rencana awal mau kerja freelance saja, tapi tetap harus presentasi suatu kasus kalau mau join firma. Long story short, saya cemen. Takut gagal. Tidak diteruskan cita cita ini

√úbung machte Perfekt

Latihan Bahasa Jerman. Kalau ada daily quiz di instagram atau twitternya DW (DeutschWelt) biar tidak lupa saya suka tulis lagi. Hahahaha.

Termasuk THINGS TO DO

task list

Ini waktu mau pindahan, bolak balik rumah lama-rumah baru lelah benar.

Things For Sale

wspesifikasi barang-barang yang mau dijual :))

Termasuk mimpi mimpi seperti ini

persiapan dana haji

Sapa Tau ke Itali

Notebooknya sisa 2 halaman lagi. Tapi saya sudah beli yang baru sih.

Dekil Sekali

sampai dekil banget noteboknya.

Ada yang masih pakai notebook untuk menunjang aktivitas sehari-hari? Atau nulis draft novel kehidupan lah :))

PS : forgive my ugly handwriting. Kadang saya juga ngga bisa baca tulisan saya sendiri.

Advertisements

Story from Primary School three decades later

oh my, such a long title!

Anyway, last two Ramadhan, I wrote about my most memorable Ramadhan¬†. One of them is when I went to Catholic School and had to do “Retreat” or Retret in Indonesia, during Ramadhan. Long Story short, I was invited to my Primary School whatsapp group about a year ago. ¬†Sebenarnya itu grup SMP, dimana masih satu yayasan dengan SD saya. Tapi karena orangnya itu itu juga, yang disamain aja grupnya.¬†

One of them turn 40 last May, she made a little celebration by inviting old friends and teachers on Ifthor time. She’s not a muslim but she wanted all her friends to come.

After 3 decades later, I finally met the humble Ibu Elizabeth Рour Catholic Study Teacher! One who woke us for Sahoor during retreat and dismiss us for Ifthor in the middle of mass. I said thank you for her patient, there were 8 of us (moslem students), and she woke us one by one.  And she replied

sudah kewajiban saya. Dosa donk saya kalau ngga bangunin kalian. Itu kan kewajiban agama kalian” – That was my obligation, it would be my sin, if I didn’t wake you up. (fasting) is mandatory in your religion…she said.

How I was very happy, to see her as healthy as I remembered her, 28 years ago.

Bu Elizabeth and I

Happy to reconnect with them again! 

There we are, my friend who played tak jongkok, galasin, hide and seek, main karet, kasti, etc during our recess time, or simple stepping each other foot and said “Sepatu Baru Nih yeee – kenalan donk” – every time we found our friends had new shoes.

owh, kids grew up in 80’s!¬†

Ms Elizabeth is the one of the far right wearing pink.

la dolce far niente

Dua tahun lalu saya posting ini, ringkasan percakapan between me and my old friend. Teman dekat banget sih engga juga, but he’s one of those who happened to be there in each of my milestone.

Minggu lalu, kita kumpul lagi. Rencana berempat, Liz ngga bisa datang. mendadak ke dokter. Buat saya pribadi, ketemu mereka kayak terapi lah. makanya saya suka banget quote ini :

img_2181

Sometimes having coffee with friend is the only therapy you need

Berteman lebih dari separuh umur (dari SMA kelas 2) mereka kan ngerti, saya dulu ngapain aja, salah-benernya dimana, naksir siapa, berantem sama siapa, kayak gitu gitu deh :))

Anyway, seperti yang saya tulis di situ, Don had his Doctorate in Bologna, Italy.

Kemaren ngobrol sana sini, tiba-tiba saya ingat, saya ngga pernah ngeh Don dulu kuliah apaan, terus ngapain aja. I even skipped the fact, he also lived in London for two years. Yang saya ingat, dia ngga jadi kasih oleh-oleh dari Italy karena tasnya kebuang :)) itu yang saya “ungkit” terus sampe 8 tahun kemudian.

Ya sudahlah, dia cerita waktu di Italy jalan-jalan kemana saja. Kalau saya ada rejeki ke Eropa lagi, saya ingin banget balik ke negara ini sama papa (well ya, beside for London for the Marathon)

3 yr old me and mom in Trevi Fountain

Banyak yang bilang sih, kalau ke Italy, ya khusus di negara itu saja. Sangat menarik di setiap kota walaupun sovereign risk nya tinggi. #halah. Diselamatkan oleh keagungan Romawi. Konon kalau ke Spanyol juga gitu sih. Don also told us, how laid back the people are. They do art of doing nothing, il dolce far niente. Kalau orang Jepang kesana bisa stress kali saking laid back nya.

Tiga tahun menuntut ilmu di negara itu, tentu Don sudah¬† kemana mana, bahkan sampai ke selatan tempat mafioso. ish kesel dengarnya. orang banting tulang belajar dia masih bisa jalan jalan lulus nilai memuaskan pulak, sampai profesornya menawarkan untuk ngajar di salah satu universitas di Eropa situ! Some people…. dasar otak encer!

So he came up with these cities kalau saya mau liburan 2 minggu.

Dengan rincian,

Masuk Italy ke Milan, keluar dari Rome. Penerbangan dari Indonesia (ntah transit mana) bisa masuk dari 1 kota lagi, tapi saya lupa.

Milan 2 malam

Venice 1 malam Рtapi kalau bisa mampir Verona yang femes dengan cerita  Romeo and Julliet

Florence 2 malam – naik pesawat ke …

Napoly 2 malam

Rome 3 malam

Spare 2 malam di jalan. Yah nasib, cuti Banyak ngga bisa sebulan diambil :))

Besoknya, hari Senin. hari kejepit nasional. Suasana seperti hari Jumat. Saya browsing donk, berapa lama naik kereta between those cities. Sebaiknya apa yang dilihat lebih dahulu, ke menara Pisa dari Florence gimana, dll dll. Semangattttt banget, macam ada budget buat jalan jalan lagi. Tapi kan kalau ngayal harus detail ya! Pas kejadian kita tahu harus ngapain, lebih mudah eksekusi rencana! Sepakat kita?

Cetak cetek tuts komputer heboh lalu..

Bossku saya ke meja

Bellissimo!!!!

Ketahuan ngga kerja!

Me and my big mouth

Lokasi : Sebuah Restoran India di area Tanah Abang. Tepatnya Di Thamrin Residence lantai 2. Keliatan dari jalan lah. Di Restoran ini, jarak antar meja deketan. Saat makan siang tadi, di sebelah meja kami, ada customer lain, orang India banget (bukan kayak Amir Khan atau Salman Khan ya).

Dulu waktu SD, guru IPS, bu Ria pernah menerangkan, geografi India itu sedemikiannya, sehingga orang orang Chenai dan Mumbai berbeda physical figure-nya. Karena kantor gw ada 3 cabang di negara tersebut ( Mumbai, Chenai dan New Delhi), sometimes I can tell who is from where.

Salman / Amir khan itu dari daerah barat lah.Yang duduk sebelah gw tadi, karakter mukanya beda sama si Ranjit lah, my colleague from Singapore Branch.Ranjit yang duduk di sebelah Maggie, di foto itu yang perempuan gw dan Maggie, you can tell lah… ūüėČAnyway, si Mr – katakanlah – Patel ini makan sendiri, sembari baca koran lokal-nya dia. Tulisan India gitu. How do I know? Ya kan jarak antar meja dekat, gw bisa liat.

Teman gw lagi cerita, ketemu sebuah keluarga last weekend, anak mereka lucu lucu.

The father from Dublin while the mother from Cebu. A Mix race family.

Gw – seperti biasa dengan suara yang ngebass se RT bisa dengar – komen:

“ya iyalah anaknya cakep. Mix Race, indo gitu. Gw juga kalo kawin ama cowok sebelah cakep anak gw“. Kata gw ngasal.

10 menit kemudian Mr Patel bayar makan dan senyum ke gw sebelum melangkah keluar.

Mampus….India jual kain di tanah abang kayaknya, ngerti gw ngomong apa. *tepok jidat*.

Anyway, nama restorannya Little India. Harga lebih murah dibanding Queen Tandori – Plaza Mutiara.

Kalau lagi pengen masakan India (I like Indian food) dulu gw ke Pasar Festival, ada yang di Food Court ada yang Ko Ah Noor apa ya namanya , di lantai 1.

Sekarang Jakarta makin jahanam macetnya, NEHI bener deh lunch bela belain ke Kuningan dari Sudirman. So, this place is good! Glad my friend found it.

We shared this meal, cost less than IDR 200,000 with drink.

What goes around comes around

Diantara beberapa atasan saya selama saya kerja, ada satu yang paling spesial. Ramah dan beneran punya leadership. Perempuan, tapi ngga nyinyir! Malah marahin anak buahnya yang perempuan kalau nyinyirin bonus marketing. :))

Perjalanan karirnya, ngga bisa dibilang mulus sih. Seingat saya, tahunan belio di posisi yang sama. Berusaha pindah bagian untuk dapat pangkat atau posisi tertentu (dengan cara halal/seharusnya, bukan tipe injek sana sini cari muka ke atasan) namun berkali kali mental.

Setelah hampir satu dekade menanti, seingat saya karirnya mulai membaik, step by step, year by year.

Banyak rekan saya terpaksa menceritakan masalah personal dan selalu dapat support dari blio. Kalau urusan kerjaan sudah tidak usah ditanya lagi…Full support walau kadang-kadang sadis.

Untuk uruan pribadi, tidak selalu mulus juga. Salah satu anaknya berkebutuhan khusus. jadi tiap sabtu harus menjalani terapi ini itu. Tapi tampaknya beliau santai saja menjalani.  Buat saya, sulit ya. ibu bekerja anak berkebutuhan khusus, asisten domestik ngga ada, dll.

Kadang waktu istirihat kantor, dia pakai untuk menyiapkan tugas anaknya. menyiapkan ya..bukan membuat kan. Semua dia lakukan agar rumah dan kantor beres.

Suatu saat, pernah teman ¬†saya tertimpa masalah kantor. Merembet kemana mana, akhirnya beliau dan saya kena juga. Dia berusaha menenangkan kami. Anyway, saya memilih keluar dari lingkaran masalah setelah ada titik terang sih. ngga ninggalin gitu aja…

Beberapa waktu kemudian saya akhirnya resign dari perusahaan itu.  Hari terakhir seingat saya boss saya tidak ditempat. Dan Waktu itu, blio bukan atasan saya lagi.

ketika beliau ulang tahun, saya whatsapp blio. mengucapkan selamat dan update kabar. Anak sulungnya lulus dengan predikat sangat baik dari sebuah PTN bonafid di Bandung sana, pun adeknya kuliah di tempat yang sama.

Sisa masa baktinya mungkin sekitar 2-3 tahun lagi, but I think she’ll close it beautifully.

40!

August 2017

Foto saya masih disimpan di album Flickr. taken August 2007, 29 yrs old.

29 January 2018

Foto saya, 29 Januari 2018.

Kebetulan, jalan jalan sebentar menunggu pesawat kembali ke tanah air. Umur saya pas 40 tahun! Alhamdulilah!

Ada yang berubah ngga? Hahahha

Oh ya, nama daerahnya Dataran Merdeka. Saya liat daerah tersebut makin rapih, tertata dan menarik wisatawan. Ada sungai dekat situ kalau malam ada lampu yang menghiasi. cakep sih katanya.

Pas turun dari pesawat, tiba tiba liat ini

17:06

My birth certificate said, I was born at that hour!

Shanghai Airport : first drama of the year!

Hello! Selamat Tahun Baru!

Awal tahun ini saya pergi liburan. mendadak, baru beli tiket pertengahan November kemarin. Sungguh senep rasanya gara-gara plan saya gagal total. So I picked up a country, just because tempat saya cari nafkah kantor pusatnya di negara tersebut :)) actually, it never been in my travel wish list.

Namanya pergi mendadak dan black dates (high peak season) harga tiket sudah meroket! Mau ngga mau demi eksistensi offline maupun online cari yang paling murah. Dengan tujuan Osaka, transit di Shanghai.

Dramanya…

  • Maskapai penerbangan tsb, doesn’t have reprsentative office in Jakarta. Saya sampai minta tolong Aster, yang tinggal di KL untuk cek sesuatu.
  • Check in Manual. Aslikkkk. jadi ground staff cari tempat duduk dsb itu manual, pakai kertas macam nonton bioskop di Kabupaten!
  • No automatic Connecting flight! Jadi sampai Shanghai harus keluar imigrasi, ambil luggage, check in lagi, imigrasi lagi, security check in lagi! We are talking the same flag ship here!
  • As you probably know, kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi Pudong Airport juga tidak jago-jago amat. Sampai di Shanghai malah harus check up suhu tubuh. Ribet sendiri merekanya *tepokjidat*
  • Pas harus keluar imigrasi, saya kan panik! I don’t have China Visa! Termyata ada temporary permit 24 jam yang antriannyaaaa! #kzl! Akhirnya speak speak kampret bisa diduluin because my flight will be for another one hour. Sampai counter, tetap harus isi kartu imigrasi kedatangan dulu. *prettr*
  • Bolak balik tiket diperiksa sampai lecek tuh kertas tiket.
  • Kelar ambil luggage, mau check in luggage tidak ada ground staff untuk international flight. Saya lari ke information, dan dengan santainya engkoh-engkoh maskapai bilang “panggil aja salah satu dari (staff yang urus) domestic flight! Letaknya sebelahan. Jritttt! Ari manehhh!
  • Habis bisa check in harus melalui prosedur imigarasi lagi donk. Lalu ke lantai 3 yang tidak jelas petunjuknya harus kemana. Duh gusti! Saya lari sana lari ini lelahnya.
  • Sampai lantai 3, untuk internatiomal flight boardingnya di ujung Terminal 1 Pudong. GUBRAK! Lari-lari lagi donk!
  • Pas antri imigrasi, boarding pass jatuh ntah kemana. *dramaaaa* ternyata tertinggal di counter tempat mengisi kartu imigrasi keberangkatan.
  • Security check in lagi, panjangnyaaaa! Dengan speak speak preman Tangsel, saya ngoceh aja ke petugas imigrasi dia bilang “ke Line nomor 2 saja” Line no 2 untuk yang TOP URGENT lah. Yang mepet waktu boarding.
  • Finally! Sampai juga ke ruang tunggu!

PS : drama tersebut melibatkan ayah saya yang Alhamdulilah masih kuat lari sana sini di Pudong Airport plus dua ABG Tangsel yang baru tau mereka akan ke Jepun dua minggu sebelum berangkat! How do I get their visa photo? Akik bilang buat jaga jaga :))

Shanghai, 7 Januari 2018

Pudong Airport

No similar drama on the way back! Thank God! Flight Transfer is just the way it is!