Mendadak Bandung

Di postingan sebelumnya, saya mencoba menulis post dalam Bahasa Jerman. Hahahhaha. Sembari isi waktu, dari bulan Agustus saya les Jerman online. Kualitas so-so sih, untuk sekedar familiar sama grammar dan beberapa perbendaharaan kata, oke lah.

Anyway, seperti yang di posting sebelumnya, akhir pekan lalu, habis sepedahan ke Pantai Indah Kapuk sama keponakan saya, lagi golek-golek, tiba tiba kepikiran pengen liburan. Karena si Kakak sudah bisa menyetir, saya tanya mau ke Bandung ngga. Semalam saja. Selama 20 bulan terakhir kami memang tidak pernah keluar kota (Bogor tidak dihitung ya Hahaahha), tidak pernah staycation juga. Saya yang biasa Race-cation sana sini jujur jenuh juga, apalagi setahun terakhir mostly di rumah.

Kami booking hotel untuk semalam di daerah Dago, Four Points karena itu yang masih ada kamar kosong! Kirain era air BnB dan menjamurnya penginapan murah, cari hotel lebih mudah, ngga juga ternyata.

Long story short, sekitar jam 1 siang dari TangSel, ketebak sih, sekitar Jakarta Outer Ring Road menuju Bekasi ya macet dan….saya lupa, sangking jarangnya berpergian, ruas toll Bekasi menuju Karawang sudah elevated! Waduh, bensin tingat setengah ini! Terlalu menggampangkan masalah, karena berpikir akan isi bensin di rest area pertama setelah Bekasi itu!

Toll elevated sekitar 36km, lumayan ya memperpendek waktu tempuh dan bensin masih aman. Melajulah saya menuju rest area berikutnya di Km 70’an yang stuck tidak bergerak! Ah malas! saya memutuskan membatalkan ke rest area dan terus menyetir. Saya mengingat-ingat, sepertinya baru kemarin saya menyetir mobil ke Bandung. BIasanya disupiri! rasanya lama betul, tidak sampai-sampai. Sampai pintu toll Bandung sekitar jam 5, dan bensin sudah tinggal 2 garis. Expected kan macet ya, googling pom bensin terdekat masih 2Km lagi. Duh. Keluar pintu tol Pasteur, setelah lampu merah belok kiri langsung cari pom bensin sesuai yang dikatakan google map. Dapat sih – just in time – tapi balik ke kota lagi, mutar-mutar dan macet juga. Baru kemudian tahu, sepanjang Jalan Pasteur banyak pom bensin berserakan! Jiah! Kena prank google map.

Sampai jam 6 sore di hotel, check in, mandi dll. Saya minta tolong adek untuk membeli makan malam di sebelah hotel, note that, kami bertiga belum makan siang. hahahaahh. Setelah makan saya memutuskan untuk tidur cepat, capek bok! Sementara anak-anak minta ijin ke Braga, mau foto-foto.

Besok paginya, saya bersepeda. Sudah dapat saran rute dari teman kantor dulu, teh Ria. Rutenya dago – arah Braga – arah Soekarno Hatta – Kiaracondong – belakang Gedung Sate, dan karena agak familiar sama daerahnya saya ke Kupat Tahu Gempol, duh favorit. Baru mau mesan, tiba tiba Wawan whatsapp bilang sudah sampai di BikeStory, tidak jauh dari penginapan saya. Saya, Wawan dan Mas Wawank memang janjian bertemu, mereka teman dari jaman PPE, manajemen trainee di bank pertama saya. Kedua Bapak-bapak ini, bertugas di Bandung dan none of them (us) work in our first bank. 😀 Sementara anak-anak ke ITB jalan-jalan. BIkestory di Taman Sari ini lumayan enak makanannya, bakwannya enak banget! Mau nangis makannya! Ada toko kue kecil jualan cookies, enka-enak juga.

Sebelum check out kami memutuskan menginap semalam lagi, cari hotel yang lebih murah! Lalu kami visit Om Yan dan Tante Rosa, kerabat dekat alm Om dan almh ibu saya. Mereka sudah tahunan tidak bertemu anak-anak. Lalu kami ke hotel berikutnya. Sedang menunggu lift, saya bertemu Cici Yos, rekan di kantor yang sama dengan Teh Ria. Beliau lagi mengantar anak bungsunya tanding tenis di GOR Saparua. Sepertinya, kondisi berangsung normal ya. Sudah mulai ada sport match lagi, meski penonton dibatasi.

Besok paginya saya keliling saya jalan kaki sekitar 5Km. Enak sekali udara Kota Bandung saat itu, dingin, seperti lagi musim gugur. Hahahah #halu. Ci Yos whatsapp saya, katanya ketemu anak-anak di tempat sarapan dan dia menawarkan voucher sarapan dia yang tidak terpakai. Wah, saya sudah di Kupat Tahu jalan Gempol, macam wajib makan ini di Kota Bandung. hahahaha Akhrinya saya pakai juga buat minum kopi dan bubur ketan hitam ketika keadaan ruang sarapan sudah mulai sepi. Chaos banget lihatnya. Dan suka sebal lihat tamu yang ambit makanan banyak-banyak lalu tidak habis.

Saya sampai les Jerman dulu, si Kakak ketemu Temennya di Braga, sekitar jam 12 kami check out dan makan siang di Braga sekalian jemput Kakak.Saya janjian lagi sama Wawan. Setelah makan siang, lalu kami menuju Pasteur dan pulang.

Nah, sekitar 1Km menuju elevated toll di daerah Karawang, Kakak yang saat itu menyetir nabrak pinggiran bahu jalan. Ban Mobil kami di sebelah kiri sobek! Alhamdulilah saat itu kondis tidak ramai dan dapat segera menepi. Kami telpon pihak Jasa Marga. Cut the story, anak-anak ikut mereka membeli ban di Karawang untuk menggantikan ban mobil yang sobek. Baru saya sadar , ban belakang belum diganti dari pertama kali beli mobil. Astaga! Lalainya saya selama ini.

What a trip! singkat dan penuh kenangan!

Back to the pool

After the C**** outbreak on March 2020, pools (of course) were closed, it was re-opened, but things got worse back then. My team were practicing in an apartment’s pool once as alternative but since I was unvaccinated back then, I never came.

Yesterday was marked as my first time, pool swimming again with an old squad whom I never met for the past 18 months. Additionaly, I’m glad my swimming wear still fit me and I didn’t lose the buoy, fins and paddle hahahaha! Only my open water google was broke, torn into half.

I came late due to heavy traffic as a subsequent of heavy rain! (Pheww Jakarta!) so I missed the warm up session – i did it alone! Then I hugged the coach spontaneously!

My coach gave me different swimming set, i did it all alone, but then I stopped, gave Parvita and Dondok a hug in the middle of the set ~~~ in the middle of the pool 😅

Dondok was a C***d survivor. I never thought the reunion could be soo sentimentil! I mean, our practice was twice a week back then. On weekend, sometimes we went out for dinner. However, I wasn’t that close to them, but not seeing them for almost 20 months is different story! I’m glad we “made it” some how.

Glad things slowly return to normal and I am able to reunited with my swimming squad again. I thanked God for that!

The pandemic tought us how short life is.

Back after 20 months!
Quick dinner and catch up after the practice

dzulhijah

www.instagram.com/p/CRewN4Vpe-j/

Berdasarkan draft novel kehidupan yang kadang saya tulis, harusnya minggu-minggu ini saya lagi di sana. Sore ini mungkin di Arafah.

Well ya, we all know, the decisions.

Decades ago, I thought naik haji/hajj pilgrimage is only a matter of – sign up – make huge amount of deposit – than patiently waiting for your turn – paid the rest of the fee. It’ll take years, that’s why I have signed up fron few years ago.

Ada rasa sedih, for sure. Tapi namanya juga panggilan ya, bener-bener privilege / hak perogratif Allah swt, siapa yang hendak DIA undang, untuk datang ke rumahnya.

Tahun ini kebetulan ada rekan saya, Ira, yang memang 7 tahun terakhir tinggal di Arab Saudi, yang dapat kesempatan itu. Masya Allah.

Happy Eid Adha!

#thingsmoneycanbuy

Late birthday gift or early Ramadhan Gift

I found this funny 😀

I had easy ride with male former colleagues yesterday. Only 3 of us, we did have “Gocapan – GOwes CAri saraPAN” every now and then.

When our ride about to end, one of the boys said

“Here, from us! Late birthday gift! We notice that’s the only arm sleeve you have”

Zzzzz…”I HAVE TWO! For God Sake” 🤣

I thanked them of course! A nice surprise and secretly murmuring to myself “one of you guys probably had plenty of this”

I reminded the episode again, my male closest friends, Edy and Dony never did such a thing! I dont think so! Liz the one who always leaded them 🤣

But hey, I found it cute tho’!

The Gift

Actually, I had those arm sleeves with exactly the same brand, but it was torn when I had the bike accident last September.

Thank you Boys! You guys are too sweet and too silly!

Adek bangga kok…

Jadi ketika saya merasa pilihan yang saya buat itu salah, rasa gelisah benar benar menghantui saya.

Saya sampai menangis di pagi hari, mencari keberadaan ayah saya, layaknya saya di usia 5 tahun!

Memang banyak yang bilang, setua pun apa anak, tetap butuh approval orang tuanya, sekedar afirmasi.

Menjelang malam, di meja makan, anak bungsu saya bertanya. Kenapa gelisah.

Saya beberkan semuanya dan berkata:

“Bunda cuma pengen Totok (panggilan anak anak untuk ayah saya, harusnya Atok/atuk/datuk, tapi si kakak sebagai cucu pertama dulu manggilnya Totok, ya ke terusan), adek sama kakak bangga sama bunda. Bunda malu, gagal lagi di umur segini.

Seraya mengunyah makanan, si bungsu berkata

“Adek bangga kok sama bunda, bunda kan single figter”

Lalu air mata mamak mengalir…deras.