Der Ersten Post auf Deutsch

Ganz auf Deutsch 😉

Halo zussamen!

Last wochende, Ich habe ein Kurzreise nach Paris…..van Java! Es war impulsiv dass Meine Totcher kann fahren. Ich habe ein Zimmer in Dago bestellt für ein Nacht und wir angekommen in Hotel am 18.00 Uhr. Es was Four Point Hotel.

Nach Abendessen ich ins Bett gehen aber Meine Kinder ins Braga gegengen.
Am Morgen habe ich kurzreise mit meinem Fahrrad für 20Km, aus Dago nach Kiaracondong. Dann habe ich meine alten Freunden von PPE getroffen in BikeStory. Wir haben Coffee with Sunquist, Bakwan aund Bubur Ayam gegessen und Meine Kinder nach ITB gefährt.
Nach dem Hotel checkout besucht wir meine Relative. Es was eurer esrten Zeit um meine Kinder nach 7 Jahren zu sehen, vielleicht 8 aber 9 ? Ich vergesse.

Dann wir wollten für einmal Nacht, in Dago auch.
Am Montag habe ich Kurzlaufe fur 5km und natürlich Kupat Tahu Gempol gegesen. Ich liebe es, meine Liebelingessen in Bandung.
Zurück nach Tangsel nach Mittagessen, wir haben Unfall, flat tyre im Km 100’s aus Bandung. Oh Nein! Es braucht zwei Stunden den Reifen reparien. ich verstehe dass dem Reifen sind 6 jahre alt!

3sixty
Das Frühstück

Back to the pool

After the C**** outbreak on March 2020, pools (of course) were closed, it was re-opened, but things got worse back then. My team were practicing in an apartment’s pool once as alternative but since I was unvaccinated back then, I never came.

Yesterday was marked as my first time, pool swimming again with an old squad whom I never met for the past 18 months. Additionaly, I’m glad my swimming wear still fit me and I didn’t lose the buoy, fins and paddle hahahaha! Only my open water google was broke, torn into half.

I came late due to heavy traffic as a subsequent of heavy rain! (Pheww Jakarta!) so I missed the warm up session – i did it alone! Then I hugged the coach spontaneously!

My coach gave me different swimming set, i did it all alone, but then I stopped, gave Parvita and Dondok a hug in the middle of the set ~~~ in the middle of the pool 😅

Dondok was a C***d survivor. I never thought the reunion could be soo sentimentil! I mean, our practice was twice a week back then. On weekend, sometimes we went out for dinner. However, I wasn’t that close to them, but not seeing them for almost 20 months is different story! I’m glad we “made it” some how.

Glad things slowly return to normal and I am able to reunited with my swimming squad again. I thanked God for that!

The pandemic tought us how short life is.

Back after 20 months!
Quick dinner and catch up after the practice

Lesson learned from plants

Melanjutkan cerita saya di sini, ada dua tanaman rumah favorite saya

Spider Plant dan Kuping Gajah.

Tanaman murah (waktu itu – ngga tau sekarang), bahkan kuping gajah ini dikasih Tina.

Kenapa saya suka? Karena si Spider Plant itu awalnya rimbun, saya letakkan di rumah. Di atas lemari. Refrensi yang saya baca, tanaman ini cocok untuk di dalam rumah.

Foto sekitar bulan Juni 2020, lalu saya lupa siram, karena posisinya di atas. Jadilah dia layu, daun rampingnya kering.

Saya coba pindahin keluar, ngga banyak perubahan. Lalu saya ganti potnya, ganti media, dan dia kembali rimbun. Seperti foto di atas. Saya suka anak tanamannya yang menjuntai. Buat saya bagus.

Sama dengan Kuping Gajah di atas (Anthurium). Plant-nya stress, sempat mati, tapi masih ada akar. Saya pindahin pot, ganti media and voila jadi rimbun banget. Bahagia banget tiap minggu suka lihat daun daun baru.

Makanya itu favorite saya! I saw them dying, buy they didn’t give up on themselves.

And this morning I said another affirmation to myself, that I won’t give up on myself, either.

“Liburan” ke Maja

Sekitar 70an Km dari ibukota. Setelah main-main naik Commuter Line 3 tahun lalu, saya memutuskan mendiversifikasikan asset. Kayak orang jaman dulu :/.

Long story short, rumahnya sudah serah terima persis di hari ulang tahun saya tahun ini. Tapi baru nengokin lagi, pasang air, pasang lampu, mid Agustus kemarin.

Karena kemarin long weekend, saya “liburan” ke sana beres-beres. Janjian sama tetangga belakang yang memang beli karena mau dihuni.

Saya sendirian, dikira isolasi mandiri kali ya. Ngga ada mobil, ngga ada AC, ngga ada kompor, air suka mati :D, ngga ada kulkas, ngga ada kasur, sinyal HP kurang kuat dan ngga ada servis grab/go jek. dari rumah ke Gerbang utama sekitar 3K. No feeder! Hahahaha!

But it was fine. Jalan sore Ingin liat cluster lain (dan ternyata ada tetangga di belakang yang buka warung, lumayan lah kalo mau beli indomie saja), kenalan / chit chat sebentar. Karena soremya hujan saya bisa mendengar jelas kodok bernyanyi, apalagi sederet rumah dan deret depan belum dihuni. Ih sepi. Di pondok aren susah tidur karena bising suara motor, di kabupaten Lebak karena kodok dan jangkrik. Hahahah. Tidur di alas kasur tipis oke-oke aja buat saya. Yang ganggu memang sinyal Hp karena saya ikut dua webinar. Ngga maksimal jadinya.

Di rumah baca buku, ngaji (ehm), beres2x, ikut dua webinar, habis juga waktu.

Pagi masih berkabut saya jalan pagi ditemani suara jangkrik. Jam 7.30 teng, panas! Tapi cucian cepat kering (nyuci manual, ngga ada mesin cuci!) hahahah

But like I said, it turn just fine, mungkin karena cuma beberapa hari. Begini rasanya ngga punya privilege, pantas survival skills nya pada mumpuni!’

Bagaimana saya makan? Ya bawa rice cooker kecil heheheh. Tetangga saya, punya kompor dia ngasih saya deh masakan dia.

Gunung Karang, Pandeglang

Berasa di Puncak Ya, liat google sih jarak kedua tempat ini 60Km.

Cerita Naik Pesawat

Saya lagi menunggu supervisor saya memeriksa pekerjaan saya (nulis ini 8 pm Jakarta Time). Duh, emang deh nih WFH ya, bikin jam kerja sepanjang hari. Tapi bersyukur saja, masih kerja! masih dapat gaji!

Anyway, lagi menunggu pak boss meriksa kerjaan saya, blogwalking lalu baca tulisan Deni., ketawa tawa sendiri cerita konyol blio.

Saya tidak ingat, kapan pertama kali naik pesawat. Pernah lihat album masa kecil, ada foto saya sama almh ibu saya di pesawat, kalau tidak salah beliau cerita itu dulu first trip kami (saya) dari Pekanbaru ke Jakarta. Usia saya masih 1.5 tahun, masih jadi anak tunggal. Enam tahun pertama hidup saya, di ibukota Propinsi Riau ini.

Karena tinggal di PKU, justru lebih sering naik pesawat ke Singapur kala itu. Liburan kesana jauh lebih murah dibanding ke Jakarta. Later on, lumayan seringlah naik pesawat, naik Foker 27 juga beberapa kali, ATR juga pernah (pesawat baling-baling). Even ke Jogja, ibu saya yang suka mabok darat ya memilih naik pesawat. Malah, pengalaman saya nyebrang Pulau Jawa ke Sumatra naik ferry pertama kali ya…pas ke Lampung tahun 2018.

Anyway, beda sama cerita Deni, yang saya mau cerita, pertama kali saya naik pesawat PAKAI UANG SENDIRI. hahahha

Jadi ceritanya waktu saya jadi MDP di perusahaan pertama, saya ditempatkan di Surabaya bersama 4 rekan lain. Untuk ke Surabaya dibayar kantor tentunya. Jatahnya sih, tiket kereta eksekutif. Ingat betul waktu itu banjir Jakarta (awal 2002), dan musim hujan parah sepanjang daerah pesisir utara. Kereta selepas dari Semarang, terlambat berjam-jam, masih ingat sepanjang rel melihat penduduk yang rumahnya terendam air. ntah daerah mana. Saya ingat banget Surabaya dingin terus!

Setelah selesai penempatan, ya tentu di suruh kembali ke Training Center kan. Saya memberanikan diri mohon minta kas saja ke HR Rep di Surabaya…dan disetujui, karena memilih naik pesawat. Capek banget perasaan naik kereta.

Perlu diingat, saat itu, konsep low-budget flight diperkenalkan dan mulailah perang harga antar maskapai. Sehingga dari jatah tiket KA Eksekutif (saya masih ingat IDR 180K dari Surabaya ke Jakarta) saya tinggal tambah IDR 120K ….naik MANDALA AIRLINES, SURABAYA-JAKARTA! bweuh! Bangga lho! biar low-budget, Pakai uang sendiri!

Ingat banget langsung pamitan dari Cabang Tunjungan, di antar Devi dan Alex ke Djuanda Airport naik mobil tua alex yang AC nya suka mati itu! hahhahahah. Saya kenal dua alumni ITS ini waktu kerja praktek di Duri, Riau, dua tahun sebelumnya. Sayangnya, saat ini saya lost contact sama Devi. hiks!

Alex, Devi, saya dan lila di Djuanda airport

Makanya saya sempat sedih waktu maskapai yang sahamnya dimiliki angkatan darat ini, bangkrut. Walau pernah dicoba diselamatkan lewat Saratoga Group dan Tiger, umurnyapun tak lama. sad! kenangannya booo!

PS: Pompi dan Herdi yang memilih tetap naik kereta demi menunjang masa muda harus berpetualang, sampai 18 jam di kereta kalau ngga salah. Jalur utara waktu itu ada masalah, sehingga kereta mereka harus lewat selatan.