Cerita Naik Pesawat

Saya lagi menunggu supervisor saya memeriksa pekerjaan saya (nulis ini 8 pm Jakarta Time). Duh, emang deh nih WFH ya, bikin jam kerja sepanjang hari. Tapi bersyukur saja, masih kerja! masih dapat gaji!

Anyway, lagi menunggu pak boss meriksa kerjaan saya, blogwalking lalu baca tulisan Deni., ketawa tawa sendiri cerita konyol blio.

Saya tidak ingat, kapan pertama kali naik pesawat. Pernah lihat album masa kecil, ada foto saya sama almh ibu saya di pesawat, kalau tidak salah beliau cerita itu dulu first trip kami (saya) dari Pekanbaru ke Jakarta. Usia saya masih 1.5 tahun, masih jadi anak tunggal. Enam tahun pertama hidup saya, di ibukota Propinsi Riau ini.

Karena tinggal di PKU, justru lebih sering naik pesawat ke Singapur kala itu. Liburan kesana jauh lebih murah dibanding ke Jakarta. Later on, lumayan seringlah naik pesawat, naik Foker 27 juga beberapa kali, ATR juga pernah (pesawat baling-baling). Even ke Jogja, ibu saya yang suka mabok darat ya memilih naik pesawat. Malah, pengalaman saya nyebrang Pulau Jawa ke Sumatra naik ferry pertama kali ya…pas ke Lampung tahun 2018.

Anyway, beda sama cerita Deni, yang saya mau cerita, pertama kali saya naik pesawat PAKAI UANG SENDIRI. hahahha

Jadi ceritanya waktu saya jadi MDP di perusahaan pertama, saya ditempatkan di Surabaya bersama 4 rekan lain. Untuk ke Surabaya dibayar kantor tentunya. Jatahnya sih, tiket kereta eksekutif. Ingat betul waktu itu banjir Jakarta (awal 2002), dan musim hujan parah sepanjang daerah pesisir utara. Kereta selepas dari Semarang, terlambat berjam-jam, masih ingat sepanjang rel melihat penduduk yang rumahnya terendam air. ntah daerah mana. Saya ingat banget Surabaya dingin terus!

Setelah selesai penempatan, ya tentu di suruh kembali ke Training Center kan. Saya memberanikan diri mohon minta kas saja ke HR Rep di Surabaya…dan disetujui, karena memilih naik pesawat. Capek banget perasaan naik kereta.

Perlu diingat, saat itu, konsep low-budget flight diperkenalkan dan mulailah perang harga antar maskapai. Sehingga dari jatah tiket KA Eksekutif (saya masih ingat IDR 180K dari Surabaya ke Jakarta) saya tinggal tambah IDR 120K ….naik MANDALA AIRLINES, SURABAYA-JAKARTA! bweuh! Bangga lho! biar low-budget, Pakai uang sendiri!

Ingat banget langsung pamitan dari Cabang Tunjungan, di antar Devi dan Alex ke Djuanda Airport naik mobil tua alex yang AC nya suka mati itu! hahhahahah. Saya kenal dua alumni ITS ini waktu kerja praktek di Duri, Riau, dua tahun sebelumnya. Sayangnya, saat ini saya lost contact sama Devi. hiks!

Alex, Devi, saya dan lila di Djuanda airport

Makanya saya sempat sedih waktu maskapai yang sahamnya dimiliki angkatan darat ini, bangkrut. Walau pernah dicoba diselamatkan lewat Saratoga Group dan Tiger, umurnyapun tak lama. sad! kenangannya booo!

PS: Pompi dan Herdi yang memilih tetap naik kereta demi menunjang masa muda harus berpetualang, sampai 18 jam di kereta kalau ngga salah. Jalur utara waktu itu ada masalah, sehingga kereta mereka harus lewat selatan.

Gua Garunggang Sentul

Begitu PSBB dibuka, saya punya rencana, mau ke Sentul.

Cerita dikit, setelah 3 bulan di rumah saja kecuali kalau harus ke kantor, baru tiga minggu lalu saya lari ke luar rumah. Itu pun di cluster. Kalau tidak pagi benar, atau setelah magrib. Tujuannya tentu saja untuk meminimalkan ketemu orang. Lalu baru Minggu akhir May setelah Ramadhan saya keluar cluster dan shock! Ramai banget. Padahal saya sudah pagi benar keluar.

Karena butuh banget lari, mau tidak mau harus nge-trail. Pikiran saya,karena di kampong/ hutan/ gunung probalilitas ketemu orang sedikit. Tapi ya seperti diketahui bersama (atau pengetahuan saya terbatas), kalau nge trail paling dekat ke Sentul. Walaupun penerapan PSBB sangat longgar, saya memilih menunggu sampai PSBB selesai, per peraturan pemerintah.

Akhirnya Dua Minggu lalu saya ke Sentul dengan rute trail yang baru. Gua Garunggang. Dari beberapa media online, sering disebut mini Jurasic Park. Saya kesana mengendarai mobil dulu, arah Curung Lewi Ijo. Nanti ada parkiran yang dikelola orang local, ya sekenanya ya. Hahahah. Saya janjian sama Teh Ria, duapuluh tahun lalu kami satu rumah di Duri Riau. Pernah ketemu sekali di Jakarta, awal 2000’an, setelah itu ngga ketemu lagi.

But we keep in touch via socmed. Dimana saya tahu, beliau jualan ikan Tude. Lebaran kemarin saya pesan untuk hampers beberapa rekan. Jadi deh, kita mulai ngobrol di whatsapp. Jadi pergi kemarin, reuni saya setelah hampir 20 tahun tidak ketemu, dan sedihnya ngga bisa pelukan! Huhuhu. Tos siku doank.

back to the story, lalu nanti terlihat plang kecil menuju Gua Garunggang, silahkan melewati jalan setapak, melintasi sungai, perkampungan, hutan pinus lalu perkebunan. Viewnya cantik, tracknya menurun.

Sekitar 2K jalan baru deh ketemu Situs Gua ini. Nanti pengunjung dikenakan biaya IDR 15,000/orang. Saya tidak tahu nih resmi apa tidak. Oh ya, bisa selusur gua ya, turun pakai tangga kecil. Turun vertical ya…Cuma karena saya takut (gelap boo, harusnya bawa head lamp) saya batalin deh.

Setelah cukup puas dan mati gaya di Garunggang, yang minim penjelasan juga kenapa situs tersebut bisa ada di tengah gunung (menurut teman saya, harusnya dari kikisan air sungai ribuan tahun lalu), kami nyari kali…untuk mandi-mandi dan ketemu.

Yah, begitulah trip singkat saya!

Update Tanaman!

Hihihi. Karena beberes tanaman kemarin, saya mikir, nih halaman jelek banget ya. Berantakan, ngga ada estetikanya.

Lalu, tentu saya browsing pinterest, IG, dll halaman rumah orang. Cantik cantik banget. Karena sadar kemampuan desain landscape tidak ada, saya ingin cari jasalah. Well, akhirnya dapat via IG. Owner-nya orang Tangsel juga, jadi tidak merepotkan dia kalau harus bolak balik.

Tidak tau kenapa, saya lagi suka kaktus. Mungkin karena gagal tinggal di Arizona jaman dulu kalik ya, makanya kepikiran hahahaha.

Jadi, saya meminta si mbak penyedia jasa landscape itu, untuk menyediakan tanaman kaktus. Dia datang survey, bla bla ngasih harga penawaran yang saya bilang budget saya sekian. Jadi tanamanpun disesuaikan.

Beliau janji datang hari Senin. Nah, malamnya saya mimpi tanaman saya sudah rapih. Lalu di mimpi ibu saya komentar “kalau gini aja mama juga bisa! Ngapain pakai jasa”

Saya jawab: “iya juga ya ma”

Tidak lama, saya terbangun! Hahahaha. Almh ibu saya memang jagoan lah kayak gini-gini. Dulu rumah kami di Puri Indah ada kolam ikan bertingkat yang dia desain sendiri batu batuan, air mancur, saringan pembuangan air, sampai tanaman yang cocok. Nanti saya update deh, kalau fotonya ketemu.

Meanwhile, ini bentuk halaman saya sekarang. Ayah saya hobi banget nongkrong di sini berjam jam, ngopi sekalian trading (yes, trading saham blio)

What I do (part 2)

When I have plenty of time at home 😉

Gardening!

my late mother had green thumb, well mine is black :)). She had a very neat garden with lot of plants and even flowers!

When we moved to current house 3 years ago, I brought some of her plants. However, since barely care about them, I took those plant for granted and our side yard is a mess!

Well not until recently whenI can’t contact the part-time garderner a.k.a tukang rumput panggilan, since he had traveled back to his kampong for Partial lock-down anticipation.

I decided to chop the grass, by myself! Manually with grass scissor! Meine Hand tut weh! My hand hurt and it took two days to trim the grass! I chopped two papaya trees that grow uncontrollably.

Then, since it was weekend, I can’t go anywhere, I clean up some of the plants. This messy aloe vera in one pot, for instance!

All stacked on one pot, I parted them
Saving my mom last anggrek, the least I can do

Cute eh?

And separated Snake Plant ( Sansiviera) to many pot! I ran out of pot, I ordered on line! Now I have this inside the house!

Not only that, I put some on my bedroom too! Ha!

And in my surprise, it was relaxing! Of course I opted for easy-to-manage-plants! I even discussed this with Kak Indah and De and planning to swap plants when this pandemic over!

Still I wonder how people neatly arrange its indoor plants!

Found in twitter

Ride to Pura Parahyangan Jagatkarta

Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya rencana ikut Le’tape Indonesia. Perlu latihan nanjak! Akhir pekan lalu, saya dan tiga rekan lain ke situ dari Sentul City naik sepeda! Total 55K pp.

Letaknya di Tamansari,Bogor, di kaki gunung salak. Menuju Pura, berat banget! Tanjakannya sadis! Sampai di atas sejuk banget udaranya! Dan jangan lupa, mampir di warung makan depan pura. nasi merah sambal kecombrangnya enak banget betttt!

Sejujurnya, saya baru tahun lho Pura ini ada. Kayaknya dulu Anta, teman kuliah S2 yang beragama Hindu-Bali pernah sekilas cerita, tapi ngga nyimak banget.

Oh ya, karena kami bukan Hindu, tidak boleh masuk melebihi gerbang di atas. Tapi kalau lihat foto di google, bagus banget. Namanya juga di puncak ya. Pura ini juga terbesar kedua setelah Pura Besakih.

Senang banget sih, cuma yang sebel trafficnya emamg! Mana saya takut turunan, belum harus sigap sama angkot, motor dll yang lewat.

The Struggle is Real
(Kayak)
PaspFoto Keluarga Besan :))
Enak Banget gilaaaaaa!!!!