Lesson learned from plants

Melanjutkan cerita saya di sini, ada dua tanaman rumah favorite saya

Spider Plant dan Kuping Gajah.

Tanaman murah (waktu itu – ngga tau sekarang), bahkan kuping gajah ini dikasih Tina.

Kenapa saya suka? Karena si Spider Plant itu awalnya rimbun, saya letakkan di rumah. Di atas lemari. Refrensi yang saya baca, tanaman ini cocok untuk di dalam rumah.

Foto sekitar bulan Juni 2020, lalu saya lupa siram, karena posisinya di atas. Jadilah dia layu, daun rampingnya kering.

Saya coba pindahin keluar, ngga banyak perubahan. Lalu saya ganti potnya, ganti media, dan dia kembali rimbun. Seperti foto di atas. Saya suka anak tanamannya yang menjuntai. Buat saya bagus.

Sama dengan Kuping Gajah di atas (Anthurium). Plant-nya stress, sempat mati, tapi masih ada akar. Saya pindahin pot, ganti media and voila jadi rimbun banget. Bahagia banget tiap minggu suka lihat daun daun baru.

Makanya itu favorite saya! I saw them dying, buy they didn’t give up on themselves.

And this morning I said another affirmation to myself, that I won’t give up on myself, either.

“Liburan” ke Maja

Sekitar 70an Km dari ibukota. Setelah main-main naik Commuter Line 3 tahun lalu, saya memutuskan mendiversifikasikan asset. Kayak orang jaman dulu :/.

Long story short, rumahnya sudah serah terima persis di hari ulang tahun saya tahun ini. Tapi baru nengokin lagi, pasang air, pasang lampu, mid Agustus kemarin.

Karena kemarin long weekend, saya “liburan” ke sana beres-beres. Janjian sama tetangga belakang yang memang beli karena mau dihuni.

Saya sendirian, dikira isolasi mandiri kali ya. Ngga ada mobil, ngga ada AC, ngga ada kompor, air suka mati :D, ngga ada kulkas, ngga ada kasur, sinyal HP kurang kuat dan ngga ada servis grab/go jek. dari rumah ke Gerbang utama sekitar 3K. No feeder! Hahahaha!

But it was fine. Jalan sore Ingin liat cluster lain (dan ternyata ada tetangga di belakang yang buka warung, lumayan lah kalo mau beli indomie saja), kenalan / chit chat sebentar. Karena soremya hujan saya bisa mendengar jelas kodok bernyanyi, apalagi sederet rumah dan deret depan belum dihuni. Ih sepi. Di pondok aren susah tidur karena bising suara motor, di kabupaten Lebak karena kodok dan jangkrik. Hahahah. Tidur di alas kasur tipis oke-oke aja buat saya. Yang ganggu memang sinyal Hp karena saya ikut dua webinar. Ngga maksimal jadinya.

Di rumah baca buku, ngaji (ehm), beres2x, ikut dua webinar, habis juga waktu.

Pagi masih berkabut saya jalan pagi ditemani suara jangkrik. Jam 7.30 teng, panas! Tapi cucian cepat kering (nyuci manual, ngga ada mesin cuci!) hahahah

But like I said, it turn just fine, mungkin karena cuma beberapa hari. Begini rasanya ngga punya privilege, pantas survival skills nya pada mumpuni!’

Bagaimana saya makan? Ya bawa rice cooker kecil heheheh. Tetangga saya, punya kompor dia ngasih saya deh masakan dia.

Gunung Karang, Pandeglang

Berasa di Puncak Ya, liat google sih jarak kedua tempat ini 60Km.

Cerita Naik Pesawat

Saya lagi menunggu supervisor saya memeriksa pekerjaan saya (nulis ini 8 pm Jakarta Time). Duh, emang deh nih WFH ya, bikin jam kerja sepanjang hari. Tapi bersyukur saja, masih kerja! masih dapat gaji!

Anyway, lagi menunggu pak boss meriksa kerjaan saya, blogwalking lalu baca tulisan Deni., ketawa tawa sendiri cerita konyol blio.

Saya tidak ingat, kapan pertama kali naik pesawat. Pernah lihat album masa kecil, ada foto saya sama almh ibu saya di pesawat, kalau tidak salah beliau cerita itu dulu first trip kami (saya) dari Pekanbaru ke Jakarta. Usia saya masih 1.5 tahun, masih jadi anak tunggal. Enam tahun pertama hidup saya, di ibukota Propinsi Riau ini.

Karena tinggal di PKU, justru lebih sering naik pesawat ke Singapur kala itu. Liburan kesana jauh lebih murah dibanding ke Jakarta. Later on, lumayan seringlah naik pesawat, naik Foker 27 juga beberapa kali, ATR juga pernah (pesawat baling-baling). Even ke Jogja, ibu saya yang suka mabok darat ya memilih naik pesawat. Malah, pengalaman saya nyebrang Pulau Jawa ke Sumatra naik ferry pertama kali ya…pas ke Lampung tahun 2018.

Anyway, beda sama cerita Deni, yang saya mau cerita, pertama kali saya naik pesawat PAKAI UANG SENDIRI. hahahha

Jadi ceritanya waktu saya jadi MDP di perusahaan pertama, saya ditempatkan di Surabaya bersama 4 rekan lain. Untuk ke Surabaya dibayar kantor tentunya. Jatahnya sih, tiket kereta eksekutif. Ingat betul waktu itu banjir Jakarta (awal 2002), dan musim hujan parah sepanjang daerah pesisir utara. Kereta selepas dari Semarang, terlambat berjam-jam, masih ingat sepanjang rel melihat penduduk yang rumahnya terendam air. ntah daerah mana. Saya ingat banget Surabaya dingin terus!

Setelah selesai penempatan, ya tentu di suruh kembali ke Training Center kan. Saya memberanikan diri mohon minta kas saja ke HR Rep di Surabaya…dan disetujui, karena memilih naik pesawat. Capek banget perasaan naik kereta.

Perlu diingat, saat itu, konsep low-budget flight diperkenalkan dan mulailah perang harga antar maskapai. Sehingga dari jatah tiket KA Eksekutif (saya masih ingat IDR 180K dari Surabaya ke Jakarta) saya tinggal tambah IDR 120K ….naik MANDALA AIRLINES, SURABAYA-JAKARTA! bweuh! Bangga lho! biar low-budget, Pakai uang sendiri!

Ingat banget langsung pamitan dari Cabang Tunjungan, di antar Devi dan Alex ke Djuanda Airport naik mobil tua alex yang AC nya suka mati itu! hahhahahah. Saya kenal dua alumni ITS ini waktu kerja praktek di Duri, Riau, dua tahun sebelumnya. Sayangnya, saat ini saya lost contact sama Devi. hiks!

Alex, Devi, saya dan lila di Djuanda airport

Makanya saya sempat sedih waktu maskapai yang sahamnya dimiliki angkatan darat ini, bangkrut. Walau pernah dicoba diselamatkan lewat Saratoga Group dan Tiger, umurnyapun tak lama. sad! kenangannya booo!

PS: Pompi dan Herdi yang memilih tetap naik kereta demi menunjang masa muda harus berpetualang, sampai 18 jam di kereta kalau ngga salah. Jalur utara waktu itu ada masalah, sehingga kereta mereka harus lewat selatan.

Gua Garunggang Sentul

Begitu PSBB dibuka, saya punya rencana, mau ke Sentul.

Cerita dikit, setelah 3 bulan di rumah saja kecuali kalau harus ke kantor, baru tiga minggu lalu saya lari ke luar rumah. Itu pun di cluster. Kalau tidak pagi benar, atau setelah magrib. Tujuannya tentu saja untuk meminimalkan ketemu orang. Lalu baru Minggu akhir May setelah Ramadhan saya keluar cluster dan shock! Ramai banget. Padahal saya sudah pagi benar keluar.

Karena butuh banget lari, mau tidak mau harus nge-trail. Pikiran saya,karena di kampong/ hutan/ gunung probalilitas ketemu orang sedikit. Tapi ya seperti diketahui bersama (atau pengetahuan saya terbatas), kalau nge trail paling dekat ke Sentul. Walaupun penerapan PSBB sangat longgar, saya memilih menunggu sampai PSBB selesai, per peraturan pemerintah.

Akhirnya Dua Minggu lalu saya ke Sentul dengan rute trail yang baru. Gua Garunggang. Dari beberapa media online, sering disebut mini Jurasic Park. Saya kesana mengendarai mobil dulu, arah Curung Lewi Ijo. Nanti ada parkiran yang dikelola orang local, ya sekenanya ya. Hahahah. Saya janjian sama Teh Ria, duapuluh tahun lalu kami satu rumah di Duri Riau. Pernah ketemu sekali di Jakarta, awal 2000’an, setelah itu ngga ketemu lagi.

But we keep in touch via socmed. Dimana saya tahu, beliau jualan ikan Tude. Lebaran kemarin saya pesan untuk hampers beberapa rekan. Jadi deh, kita mulai ngobrol di whatsapp. Jadi pergi kemarin, reuni saya setelah hampir 20 tahun tidak ketemu, dan sedihnya ngga bisa pelukan! Huhuhu. Tos siku doank.

back to the story, lalu nanti terlihat plang kecil menuju Gua Garunggang, silahkan melewati jalan setapak, melintasi sungai, perkampungan, hutan pinus lalu perkebunan. Viewnya cantik, tracknya menurun.

Sekitar 2K jalan baru deh ketemu Situs Gua ini. Nanti pengunjung dikenakan biaya IDR 15,000/orang. Saya tidak tahu nih resmi apa tidak. Oh ya, bisa selusur gua ya, turun pakai tangga kecil. Turun vertical ya…Cuma karena saya takut (gelap boo, harusnya bawa head lamp) saya batalin deh.

Setelah cukup puas dan mati gaya di Garunggang, yang minim penjelasan juga kenapa situs tersebut bisa ada di tengah gunung (menurut teman saya, harusnya dari kikisan air sungai ribuan tahun lalu), kami nyari kali…untuk mandi-mandi dan ketemu.

Yah, begitulah trip singkat saya!

Update Tanaman!

Hihihi. Karena beberes tanaman kemarin, saya mikir, nih halaman jelek banget ya. Berantakan, ngga ada estetikanya.

Lalu, tentu saya browsing pinterest, IG, dll halaman rumah orang. Cantik cantik banget. Karena sadar kemampuan desain landscape tidak ada, saya ingin cari jasalah. Well, akhirnya dapat via IG. Owner-nya orang Tangsel juga, jadi tidak merepotkan dia kalau harus bolak balik.

Tidak tau kenapa, saya lagi suka kaktus. Mungkin karena gagal tinggal di Arizona jaman dulu kalik ya, makanya kepikiran hahahaha.

Jadi, saya meminta si mbak penyedia jasa landscape itu, untuk menyediakan tanaman kaktus. Dia datang survey, bla bla ngasih harga penawaran yang saya bilang budget saya sekian. Jadi tanamanpun disesuaikan.

Beliau janji datang hari Senin. Nah, malamnya saya mimpi tanaman saya sudah rapih. Lalu di mimpi ibu saya komentar “kalau gini aja mama juga bisa! Ngapain pakai jasa”

Saya jawab: “iya juga ya ma”

Tidak lama, saya terbangun! Hahahaha. Almh ibu saya memang jagoan lah kayak gini-gini. Dulu rumah kami di Puri Indah ada kolam ikan bertingkat yang dia desain sendiri batu batuan, air mancur, saringan pembuangan air, sampai tanaman yang cocok. Nanti saya update deh, kalau fotonya ketemu.

Meanwhile, ini bentuk halaman saya sekarang. Ayah saya hobi banget nongkrong di sini berjam jam, ngopi sekalian trading (yes, trading saham blio)