#10daysforAsean Mabuhay Pinoy!

Pada topik hari kedelapan Lomba Blog 10days for Asean, saya kembali sadar, negara di Asia Tenggara ini have a lot in common,kita sama-sama memiliki pemimpin negara yang dipilih kembali (atau harus memilih) yang sama untuk waktu yang lama.

Malaysia dengan PM Mahatir Muhamad, Indonesia dengan Pak Soeharto, Singapore dengan Lee Kuan Yew dan topik negara hari ini, Filipina dengan Ferdinand Marcos. Saya masih ingat lhoo menemani papa saya menonton Dunia Dalam Berita di TVRI  ketika dia “dipecat” jadi presiden dan kemudian digantikan  dengan the late Cory Aquino, dimana suaminya terbunuh (dan diduga di dalangi oleh Marcos).

PS : tolong jangan hitung umur saya, ya! hahahahahha. Yang baca ini jangan-jangan belum lahir pada masa itu.

Bagi saya, between Indonesia and The Philippines share a lot in common as well! Sama-sama negara kepulauan, sadly but true — banyak tenaga kasar kedua negara ini yang bekerja di negara yang lebih makmur  dan mempunyai bahasa yang hampir mirip :D. Airport internasional yang masih-masih butuh perbaikan dan rasanya infrastruktur kota Manila hampir mirip dengan Jakarta, banjir jika hujan deras! Bahkan memiliki presidean wanita pada saat bersamaan, Ibu Megawati dan Gloria Arroyo! Ketika Ibu Megawati melakukan kunjungan kenegaraan pada tahun 2001 , saya pernah baca di media, ini semacam  reuni untuk mereka karena  pernah makan malam bersama di Istana Nagara ketika sama-sama jadi anak presiden. Gloria Arroyo adalah anak mantan presiden juga Diosdado Macapagal.

luneta-parkSaya tahu karena  saya punya rekan blogger dari negeri ini dengan ID teacherjulie. Bahkan kalau saya menulis status dalam Bahasa Indonesia, dia bisa mereka-reka apa yang saya tulis dan benar :D. Teacherjulie tidak menulis blog lagi, sekarang kami ‘berkomunikasi’ melalui Instagram.

Obrolan sama dengan Grace waktu saya ketemu di Johor Baru kemarin pun sangat lancar dan akrab. Seolah-olah we have been through the same thing karena kondisi negara kita membentuk seperti itu :))

Ketika Marcos turun, seingat saya hampir sama kejadiannya dengan ketika alm Pak Harto turun jadi presiden 15 tahun kemudian, demonstrasi besar-besaran akibat korupsi yang menggila, pelanggar hak asasi manusia dan kebebasan pers. Sayangnya, sama dengan Indonesia, pasca naik dan turun presiden yang berkali-kali itupun masalah korupsi belum selesai bahkan semakin parah di jaman Joseph Estrada, mantan presiden pengganti Corry Aquino yang juga mantan bintang film! yeah..yeah..they had ‘presiden ganteng’ as well :D. Ring any bell?

Oh ya, sebelum saya lupa dan issue ini yang menjadi kesimpulan saya untuk tema hari kedelapan ini. Beberapa tahun yang lalu, lewat photo blog saya (yang sekarang tidak aktif), saya ikut meme photo yang diikuti oleh blogger seluruh dunia. Jadi ada seorang blog hosting tema tertentu dan kita harus posting foto dengan tema tersebut di blog yang kita punya. Disini saya kenal dengan Teacher Julie, Mimie Watson dan Jeroi (ada di  Fb dan timeline twitter saya). Banyak sekali peserta dari negara ini dibanding dengan negara Asia Tenggara lain. Ini juga didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris mereka yang buat saya diatas rata-rata blogger Indonesia saat itu.

Ambil contoh paling mudah saja ya. Tempat paling gampang mengekspresikan diri adalah social media kan? Misalnya Facebook. Prosentase pengguna internet di Indonesia adalah 22.12% dan pengguna FB  20.55%,  prosentase pengguna FB dibanding pengguna internetnya mencapai 92% sedangkan untuk Filipina pengguna internet lebih tinggi  32.38% dengan penguna FB 28.8%, prosentase pemilik akun/pengguna internet 88.96%. Kedua tertinggi untuk negara di Asia Tenggara :D. Data diambil dari om wiki.

In short, sama seperti kita, blogger Indonesia, blogger Filipina memiliki kesempatan yang sama luasnya untuk kebebesan ekspresi dan berpendapat. Saya bahkan tahu tentang Boracay dari blog yang saya baca saat itu. Talking about democracy,  in fact,  negara ini lebih dulu menggulingkan pemerintah yang otoriter di jaman Marcos!

Foto Rizal Park saya ambil dari sini. Cek juga perjalan Mas Cumi disini!

Diikuti untuk lomba hari kedelapan . Two days to go ! 😀

PS : judul saya dapat dari majalah Jalan-Jalan edisi bulan Desember yang mengangkat fitur kota Manila. Artinya, Hello, long live.

Advertisements

#10daysforASEAN The Landlocked Country

tema hari ke 6.
Mencoba menulis di Zahara lounge, menunggu pesawat Citilink yang akan membawa saya ke Malang.
#ok, ini pamer mau liburan 😀

Jujur, selain Lhuang Prabang saya jarang mendengar hal lain tentang Laos, negara terakhir yang bergabung dalam Asean bersama Myanmar.

Kebetulan, minggu lalu saya membuat trivia question di account PATH saya, menanyakan satu satunya negara anggota Asean yang tidak mempunyai garis pantai. yes, the answer is Laos .

Negara ini dikepung Kamboja di sebelah selatan, Thailand dan Myanmar
Disisi barat, China di utara dan Vietnam di sebelah timur.

Sebagai negara yang tidak memiliki laut, jelas tidak memiliki crops Angkatan Laut dan sangat bergantung pada Sungai untuk denyut nadi perekonomian salah satunya Sungai Mekong yang juga memisahkan negara ini dengan Thailand.

Coba tengok awal peradaban, pasti dari daerah pesisir.

— berhenti dulu, boarding! —

— touch down Malang! —-

Jadi menurut saya, perekonomian yang cocok untuk negara ini berbasis argikultur.
Teknologi yang sepatutnya dikembangkan pun sebaiknya untuk menunjang argikultur dan dari titik sini Laos bisa memiliki peran lain dalam partisipasi membangun Asean. Jadi lumbung makanan negara di Asia Tenggara misalnya, seperti negara tetangganya Thailand serta komoditas lain berbasis perkebunan atau pertanian.

Kasarnya, bila rakyat sudah sejahtera lebih mudah bagi suatu pemerintahan untuk mengatur dan bernegosiasi demgan negara lain.

Terlebih negara ini memiliki umat Budha yang cukup besar, dimana para biksu hidup sangat sederhana menggantungkan hidup kepada penduduk yang mereka temui ketika melakukan ritual pagi.

maaf, tidak ada gambar dalam postingan ini ya 🙂

Besok saya mau ikut 10K di bromo! I’m sure i’ll have so much fun.

#10daysforASEAN the Coffee experience

Ah, Vietnam !
Harusnya, September tahun lalu saya menginjakan kaki pertama kali di negeri ini melalui Saigon (Ho Ci Minh City) untuk lanjut ke Na Thrang.

Di benak saya saat menyusun rencana perjalanan akan selalu mengkonsumsi Po Hoa di pinggir jalan dan ‘nongkrong’ di kedai kopinya di mana saja. Level kaki lima sampai coffee shop yang berpendingin udara.
Di kedai kopi memang tempat yang menarik dan pilihan banyak orang untuk menunggu, reuni dengan kawan lama, beristirahat bahkan mungkin mencari inspirasi. Di rumah sakit swasta pun di Jakarta dan sekitarnya tersedia kedai kopi di lobby. Lokal maupun waralaba asing.

Saya dan kopi mempunyai status in a relationship. Walau tak candu, saya tetap merasa perlu mengkonsumsi kopi, hampir setiap hari. 🙂

Teman saya Hanny, selalu memberikan oleh oleh kopi ketika beliau travelling. Ntah kenapa saya suka kopi Flores walaupun rasanya sedikit asam. Kopi Flores ini oleh-oleh Hanny ketika berlibur di Pulau Komodo.

Cara saya menyiapkan kopi non instant, meyeduhnya dengan Moka Pot. Moka Pot adalah penyeduh kopi dari Italia, dimana anda meletakkan bubuk kopi disaringan teko bagian tengah. Di bagian dasar teko, diisi air lalu dibakar di kompor. Air yang mendidih akan mendorong serbuk kopi ke bagian atas.
Di bagian atas moka, secangkir kopi siap anda konsumsi sesuai selera.
Sensasi bau kopi yang terbakar is ultimate experience.
Saya biasa menambahkan susu.
Oh, kopi yang dihasilkan dari Moka Pot bebas ampas.
Unik kan cara menyajikannya?

Pun dengan kopi yang di Vietnam disebut Ca Phe.

Saya pertama kali mengetahuinya di restoran kecil bernama sabang 16.
Vietnam Drip kalau tidak salah nama alat penyaji kopi ini.
Kalau dengan Moka Pot, kopi dialirkan dari bawah keatas dengan bantuan energi panas, kalau Vietnam drip, as it is sesuai hukum gravitasi.

Bubuk kopi diletakkan dalam dry filter lalu dipadatkan/di press lalu ditutup kembali dengan saringan lain. Setelah itu dituangkan air panas pada bagian atas, kemudian air kopi menetes satu demi satu melalui penyaring. Konon, kabarnya waktu 4 menit adalah yang paling baik untuk menikmati secangkir kopi ala Vietnam ini.
Sama seperti Moka Pot, kopi yang dihasilkan bebas ampas.

Saya tidak tahu, kopi di Sabang 16 memakai kopi jenis apa tapi saya tetap menikmatinya. Saya menambahkan susu dan es untuk mendapatkan Ice Coffee Vietnam sesuai selera.
Ini gambarnya, maaf buram.
20130830-103617.jpg

Sajian kopi ala Vietnam ini tampaknya sudah menjamur di ibu kota.
Jadi, bisa saja kita memakai kopi lokal untuk disajikan dengan Vietnam Drip ini.
kombinasi yang menarik, seperti saya menyajikan kopi Flores dengan Moka Pot.
Penikmat kopi jutaan orang di seluruh dunia, tidak mengenal kasta, gender atau apapun.

Dengan dunia yang sudah border less’ memang hal yang wajar untuk mengkombinasikan cara A dengan cara B.
Tidak saja dalam penyajian makanan, dalam alunan musik dan model busana misalnya, hal yang biasa mencampurkan unsur etnik B dan etnik C.

Kembali ke masalah kopi ini, tentu saja jika ingin memasarkan kopi lokal untuk pangsa pasar yang luas harus dari kopi terbaik.
Produsen dan distibutor terbesar di Vietnam, yang mempunyai merek dagang Trung Nguyen Coffee mempunyai sertifikasi EUREGAP , standard internasional . Intinya sih pengelolahan kopi merek ini dari perkebunan sampai proses pengelolahannya sudah aman dan ramah lingkungan.
Ya, lagi-lagi PR untuk produsen kopi lokal Indonesia 🙂

Penutup: ah, next time Uncle Ho! Saya akan naik kereta dari Ho chi Minh City – Na thrang – Da nang untuk ke Hanoi.

PS: kalau saya sedang latihan rutin, berlari dengan target 10km, maka Nike+ ketika selesai di km ke 5 akan memberitahu
‘5 km completed half way point’ 🙂
Half way point juga untuk “lomba Blog #10daysforAsean dari http://www.aseanblogger.com”

#10daysforAsean Dulu Dia Burma

Mencoba konsisten untuk #10daysforAsean hari keempat 😀

Jauh sebelum kasus Rohingya, hal yang terlintas di kepala saya ketika mendengar nama Birma (atau Myanmar setelah berada dibawah kepemimpinan Militer di akhir 1980-an) adalah Aung San Suu Kyi kemudian kasus pipa gas Yadana yang pernah dibahas dalam kasus Hukum Etika Bisnis ketika saya kuliah dulu.

Proyek Pipa gas Yadana, kolaborasi antara 2 perusahaan minyak raksasa Total dan Unocal yang menggandeng partner lokal dari Thailand dan BUMN-nya Myanmar dibangun untuk membawa gas bumi di Laut Andaman ke Thailand melalui Myanmar. Proyek ini selesai akhir tahun 1990-an.

Kontroversi proyek ini karena disinyalir adanya pelanggaran hak asasi manusia, kerja paksa, prostitusi dan rentetan masalah yang timbul kemudian.
Pihak militer yang ditugaskan sebagai pengawas kerap memaksa warga sipil untuk bekerja, jikalau menolak, maka akan dipukul bahkan dibunuh.
Bisa dibayangkan kondisi ekonomi penduduk desa yang dilewati pipa gas ini. Di kelas, grup diskusi pun alot, kepentingan kapitalis kerap menyusahkan warga sipil.

*sigh*
Negara tetangga ini memang mempunyai banyak PR untuk membenahi urusan domestiknya.
Sulit untuk membangun ekonomi suatu negara ketika masih ada pelanggaran hak asasi manusia disitu.
Total Gross Domestic Products Myanmar yang saya kutip dari http://www.tradingeconomics.com hanya USD 53 bio, jauh dari negara sebelahnya Thailand sebelahnya USD 366 bio. Saya tidak membandingkan dengan Indonesia (USD 878 bio) karena tingkat konsumsi negara kita tinggi pararel dengan tingginya populasi.

Anyway dengan kondisi ekonomi yang masih berantakan dan pasti berdampak pada keadaan sosial suatu populasi, saya merasa wajar jika pemeritah Myanmar yang kini dipimpin orang sipil sejak tahun 2010, perlu menseleksi warga asing yang akan masuk negaranya walaupun itu sekedar visa turis.

Standard keamanan tiap negara juga berbeda. Setiap pemerintah wajib melindungi warga negaranya. ya kan?
Thailand bahkan hanya mengijinkan tinggal selama 15 hari via darat.
Meanwhile, let’s hope for better Asean

20130829-113024.jpg

Foto Yadana Project diambil dari sini

#10daysforASEAN Dangerously Beautiful

Menarik sekali topik #10daysforASEAN yang ketiga, saya memang gemas membahasnya.

Tahun 2011 lalu, saya menjadikan Malaysia sebagai tempat menghabiskan cuti 2010. karena iseng cari tiket, pesawat CGK – PNG sangat sangat masuk akal biayanya.
Pendek kata mulailah saya browsing demi menyusun itternary untuk perjalanan ke Penang ini.
Hasilnya, kurang dari 2 jam saya susah dapat gambaran :

  • Naik apa dari bandara ke georgetown (awalnya memilih menginap di georgetown)beserta biayanya.
  • kemana saja di georgetown dan biayanya
  • Bagaimana ke penang Hill, Keh lok sie Temple dan batu feringi beserta biayanya.
  • Jadwal keberangkatan bus dari penang ke ibukota dan biayanya. Serta waktu tempuh.

Bahkan saya ada bayangan jika ingin melanjutkan perjalanan ke Malaka dengan point-point yang hampir sama.
Oh, informasi diatassaya dapat dari website resmi lho! Bukan catatan blogger atau Trip Advisor.

In short , my trip was very memorable.

Disini saya memulai bertanya,
Ada ngga ya informasi untuk  ke Taman Safari Indonesia dari bandara?

Hasil browsing saya saat itu : nil!
Bahkan ketika saya ingin naik Trans jakarta dari Dukuh Atas ke Kelapa ading, sulit mencari tahu via internet harus naik dari koridor apa.
Ini saya, penduduk Tanggerang yang memakai Bahasa Indonesia. Bagaimana jikalau seandainya orang dari negara lain, yang sedang business trip menginap di Le Meridien Sudirman ingin jalan-jalan ke Kota Tua misalnya?

kenapa “Truly Asia” yang diusung Malaysia  berhasil bahkan termasuk 10 negara yang paling sering dikunjungi versi World Tourism Organization PBB ?

Pengamatan dangkal saya: infrastruktur mereka jauh lebih baik sehingga hanya perlu mengemas dengan sedikit sentuhan!

Tanjung Aan jauh lebih menarik dari pantai di Batu Feringgi!
Tapi coba cari info di google, “How to get to Batu Ferringi from airport”

Bandingkan dengan
How to get to Tanjung aan from airport”

Apa yang anda dapat? 😀

Di Tanjung Aan saya sibuk menolak dengan halus pedagang asongan yang menyemut di sekitar saya. Di Batu Feringgi saya foto dengan 1876 pose ajaib 😀 tanpa merasa terganggu.

Di bandara Soekarno Hatta saja belum tersedia  layanan kereta api menuju pusat kota. Tapi dalam waktu 15 menit  via internet,  saya yakin anda mengetahui berapa biaya naik KLIA Express ke pusat kota beserta waktu tempuh dan frekuensi keberangkatan.

Enough said tentang negri jiran.

Saya ingin menampilkan foto-foto perjalanan saya di negeri ini. Semua koleksi pribadi, asal jepret.
Tiga saja :

Bromo

East Java Trip - Oct 2009 031

Tanjung Aan

SAM_0999

Bahkan di daerah yang bukan tempat wisata, dari Majalengka menuju Cirebon cermei

Baru pemadangannya ya? Belum kulinernya, keseniannya, bahasa daerah, aktivitas sehari hari seperti  aktivitas di Sungai Barito, sejarah negeri ini yang dipaparkan oleh puluhan museum atau bangunan tua seperti Keraton Kasepuhan, Cirebon. Ini baru dari Cirebon. Ada berapa banyak kerajaan di Tanah Air ini? Anda bahkan lebih tahu banyak dibanding saya.
Ketika anak saya tampil di Gedung Kesenian Jakarta, hati saya miris. Saya ingat betul acara ini kalah ramai dengan antrian film Harry Potter yang saat itu mulai  beredar. Sangat minim publikasi! Padahal acara ini gratis lho!
Pada festival budaya saat itu disuguhkan pertunjukan tari Natujang yang hanya ditonton kurang dari 1/4 kapasitas penonton. Btw, ada yang tahu darimana tari Natujang ini  berasal? Inipun kalau saya tidak salah mengutip nama tariannya ya.

natujang4

Sehingga menurut saya tagline untuk pariwisata negari ini simple

 Dangerously Beautiful

Tapi….
Mentang-mentang negara ini cantik dan kaya, please don’t take it for granted.
Buang sampah sembarangan, bersabar antri saja susah, parahnya ada abu rokok di keramik koleksi Musium Nasional! Duh!

Kita saja yang local citizen kurang nyaman, apalagi turis!

PR kita masih banyak, sama-sama benahi. Dari diri kita dengan hal paling sepele.

Anda juga tahu dari mana memulainya 🙂

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Blog 10 days for Asean

#10daysforAsean Bangunan Tua itu Disebut Candi

Sewaktu saya kecil, sepertinya saya didoktrin kalau Candi Borobudur termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Bangga? Pasti!

Tak ayal saya meminta orang tua untuk mengajak liburan kesini dan dikabulkan sebagai hadiah naik kelas, puluhan tahun lalu! Hahahahah berusaha menyembunyikan umur.
Sayangnya sejak kunjungan pertama itu, saya belum kembali mengunjungi candi yang dibangun pada abad ke 8 Ini

Tapi ya, seingat saya memang besar dan megah! Kami langsung ke atas karena saat ini cuaca sangat panas, adik saya masih kecil. Jadi saya tidak banyak keliling untuk memperhatikan relief patung yang juga menyimpan cerita.
Sekedar kisi-kisi, 2-3 tahun sebelumnya candi ini di bom dan saat saya kesana masih tersisa puing-puing arca. Jadi bisa dibayangkan, sudah lama sekali.

Doktrin ini patah di kelas social study saat itu saya masih SMP dan tinggal di sudut lain bumi ini. No one know where Borobudur is, even teman-teman dari negara lain di Asia seperti Korea dan Pakistan misalnya. Gemas rasanya!

Seiring dengan berjalannya waktu, saya malah lebih mendengar cerita tentang Angkor Wat di Kamboja. Ayah saya langganan majalah National Geography saat itu.
Apalagi ketika sudah kenal internet, forum diskusi di Trip Advisor lebih banyak mengulas Angkor Wat dibanding Borobudur. Saya belum pernah mengunjungi komplek candi ini. Namun seperti yang kita tahu, kedua candi ini sama-sama Candi Budha. Secara struktur bangunan, Borobudur cenderung seperti stupa dan tinggi seperti mendaki gunung. Angkor Wat lebih menyerupai menara karena ada pengaruh kebudayaan Hindu saat awal pembangunannya. Kata Hafidz, rekan saya yang pernah kesana, Borobudur lebih indah. Hal signifikan lainnya yang saya tahu, kedua candi ini juga lebih indah didatangi ketika matahari terbit. Mungkin, karena kebudayaannya yang dibawa pun mirip. Atau bisa jadi karena fungsi awal bangunan ini untuk pengamatan langit di jamannya.
Oh ya, kalau kalian suka berolahraga di luar sekalian jalan jalan, ada dua event lari seru lho di kedua candi ini

Borobudur 10k tanggal 10 November 2013 dan Angkor Wat Half Marathon 1 Desember 2013
Ikutan yuk!

PS: tulisan ini diposting dalam rangka mengikuti #10daysforAsean dari http://aseanblogger.com/lomba-blog-10daysforasean

PS no 2 : foto si Hadidz waktu ke Angkor wat 5 tahun lalu. Dipakai sudah ijin beliau 😀

20130827-214954.jpg