what I do…

when I spent the whole day at home. NONTONIN YOUTUBE! hahah. Nah karena ngga bisa kemana-mana, saya nontonin yang bagian jalan jalan lah. Terus tertarik sama channel Rusian Plus.

Awalnya karena bagian dari mati gaya kebanyakan jam kosong (on weekend, on weekday sih tetep depan laptop) , saya baca cerita seorang kenalan, Pak Albert namanya. Saya kenal blio waktu menjemput anak saya sholat Jumat di St Petersburg Mosque. Long story short, saya nemu IGnya dan suka dengan cerita keluarga kecilnya. Istrinya orang Vladivostok. Saya awalnya ngga tau nih kota letak persisnya dimana hahah. Pas tau, ih jauhnya mereka merantau!

saya kan suka ingin tahu ya, what is like on the other side of the world, what do they do for living, how do spent their days, kayak gitu gitu deh hahaha. jadi aja tertarik nonton youtube si Rusian Plus ini

ih, kok kotornya, infrastrukturnya ngga jauh sama Jakarta! hahahahah!

lalu tertarik lagi nonton video Kazan. sebenarnya waktu ke Rusia kemaren ingin mampir sini, tapi budget saya kurang. Namanya iseng browsing tiket dapat yang affordable, langsung merem beli. Itternary selanjutnya menyesuaikan ketersediaan tabungan. teheee….

terus iseng liat video St Petesburg, hahahahah. Baru sadar dibalik Church of Spilled Blood ada taman keren. Padahal waktu itu sempat istirahat sebentar, tapi ngga explore tamannya lagi. Plus, ngga mengunjungi gedung tertingginya! Tourism spot yang lain, didatangin sih. hahahah iseng banget lagian kayak ujian nge cek ulang jawaban.

Habis melihat tiga video di atas, tetap aja sih, belum tertarik kembali kesana. Murmansk mungkin, but who knows?

If you can’t stop thinking about it…

Don’t stop working for it…

Kalau kata google sih, kata katanya Michael Jordan. Mungkin kurang pantas nulis di sini, tapi blog memang buat saya mengingat apa rencana, pengalaman bahkan pembelajaran buat saya. Besides, writing keeps my sanity.

Ya sejujurnya sih, saya suka kepikiran hutang saya sama almh Ibu saya.

Saya pun suka becanda mau kuliah di Negara Scandinavia tapi bahasa pengantar bahasa Inggris. Komen-komen saya sama Ashar, teman saya yang awal 2000’an kuliah di Perancis kayak gini.

Minggu lalu, teman saya – ID-, lagi menunggu hasi Post Graduate studynya. Tahun lalu Master dia selesai, blio ke Amrik, btw.

Terus bicara kuliah, terus komen gini di grup:

img_1045

saya sampai nulis di twitter, hitung umur anak-anak dan umur saya, kayaknya saya baru lega bisa leluasa punya pengeluaran besar di mid 40. That year, both my kids will be in college. Will it be too late or will I be too old?

Sampai Imel bilang teman blio ada yang S1 di usia 60’an. :)) Hebat semangat belajarnya.

Akhirnya saya iseng browsing2x sampai saya buat spreadsheetnya.

Isinya

Nama Universitas

Program Study

Durasi study

Biaya study

Link Univ tersebut

Requirement (TOEFL, GMAT/GRE)

Ini dari program study yang mendekati background saya. Kebetulan di satu negara.

untuk negara lain, saya bikin tab page lagi. Ingat! Kalau ngayal harus detail!

img_0977-1

GMAT nya paling kecil 550! Duhhhh hahahahah. Udah mau nyerah saja rasanya. Belum mikirin Tuition Fee.

Oh ya, saya baru tahu juga, di Austria, Master program relatif affordable buat program study yang mendekati background saya. Sekitar Euro 400/semester dan total 4 semester. Ada satu program study yang saya incer di negara itu (yang bahasa pengantarnya bahasa Inggris).

Requirement mereka juga lebih tinggi, tentunya. Yet considering, I have time, harusnya punya persiapan lebih matang.

Living cost bisa hampir mirip dengan living cost saya sekarang, paling mahal biaya sewa rumah. Dan ini diaminin Doni, sahabat SMA saya yang phD di Itali dan Inggris.

Hmm….we’ll see! Terima Kasih teman-teman twitter yang sudah menanggapi draft novel kehidupan saya! Hahahaha!

Bike To Work

Dari waktu di Midplaza, or to be precise, dari waktu punya Road Bike, saya sudah kepikiran mau bike to work! Biar kek’ saudara saudara di Belanda…#halah.

Alasannya, begitu saya turun dari Stasiun Palmerah, saya saya sangat kesulitan cari feeder. Alternative ya kalau ngga taxi (harus patungan, kalo ngga mahal, at least IDR 25,000/trip) atau ojek (IDR 15K/trip). Tahun segitu belum ada Ojek Online apalagi Trans Jakarta. Apalagi kalau hujan, bubar semua. 

Tapi pelan pelan, transportasi umum membaik ya. Saya sendiri sih lebih bertekad pakai Trans Jakarta saja daripada ojek online. Sama saja seperti ojek pangkalan, bikin macet karena mereka menumpuk di jalan.

Jakarta Hijau

OOT dikit, saya heran lihat orang-orang, yang memperlakukan transportasi berbasis aplikasi online ini sebagai supir pribadi. Masih di Stasiun Kebayoran sudah mesan ojek , atau masih di kantor belum rapih-rapih, sudah mesan ojek, suruh supirnya nunggu di jalan bermenit menit. Sinting kalian! Kalo hidup lau pada sulit, gw ngerti deh kenapa! Ngga usah play victim!

OK anyway, balik lagi. Selipan nge-gas.Seiring dengan membaiknya transportasi umum Trans Jakarta, yang frekuensi busnya lebih sering dan busnya bagus bagus, saya perlahan tapi pasti melepaskan ketergantungan sama ojek online ini lah. Rute bus Trans Jakarta bertambah, sehingga saya bisa naik TJ dari stasiun Palmerah ke kantor. Tinggal jalan 10 menit. Hitung-hitung olahraga.  Ini bisa nge-cut expense saya lumayan banyak bahkan nge-cut tummy line saya lho! Serius!

Sampai…tetangga saya bilang 

“Kita kalo ikut le’ Tape ngga bisa deh ngandelin sepedahan weekend aja. Harus bike to work nih!”

Jadi, saya dan tetangga saya, Bulan April besok join race sepeda. Le’Tape Indonesia namanya. Cek link saja ya gan!

Baru deh kepikiran cita-cita lama! BIKE TO WORK! Buat selingan latihan sepeda.

Kebetulan saya kenal  rekan –rekan Rocketers Indonesia yang memang menjadikan commuting with bike, sebagai lifestyle mereka. Toh di kantor memang ada shower room buat karyawan yang mau olahraga di pagi hari / pulang kerja.

Saya juga Tanya-tanya sama teman kantor yang bike to work. Berikut list yang diperlukan kalo mulai B2W an

  • Lampu sepeda depan dan belakang. Lampu belakang sudah punya, tinggal lampu depan. Rechargeable LED BICYCLE Lamp minimal 10W (edited: lebay amat 400). Fungsinya kalau penerangan jalan kalau gelap.
  • Gembok sepeda. Saran merk Abuss, tapi saya cari kemarin ngga ketemu. Pake yang ada aja.
  • Jaket kedap air berguna di musim hujan kaya gini. Waterproof dan wind breaker.
    Tools sepeda, ban serep dan adapter ban dalam dan Waterproof bag. 

Dari list di atas, yang saya tidak punya Cuma LED Bicyle lamp aja. Beli di Rodalink harganya sektiar IDR 400K. Sisanya punya lah, karena kan anaknya suka ngetrail dan memang nge-road bike…#halah.

OH, adapater ngga punya dink,belum sempat beli . Adapater ini dibutuhkan karena ban dalam untuk road bike, pentil buat mompa ban-nya kecil. Jadi kalo seandainya ban kurang angin, harus dipompa pinggir jalan, ya butuh adapter ini.

Pertama kali bike to work, duh saya komat-kamit doa. Emang ngga santai traffic Tangsel-Jaksel, tapi manageable lah. Kalau memang minta jalan, kasih tangan bilang terima kasih sebagian besar pengguna jalan appreciate, ngga klakson terganggu, semoga begini terus ya.

Hahahah. Saya sih percaya banget treat people the way you want to be treated. Bahkan pernah mau nyebrang (gotong sepeda) dari depan Senayan City, sopirnya TJ berhenti, padahal harusnya saya yang kena lampu merah.

Sampai saya nulis ini, udah 3x bike to work, sekali aja bike to home. Tenang, saya selalu dikawal kok. Jujur belum berani sendirian.

Sehingga saat ini meja kantor isinya :

  • Sabun mandi …tentunya…
  • Facial oil, merek Biore
    Bedak bayi, ini buat menyerap kaki basah karena hujan atau keringat,
    Body lotion and cologne. Saya pernah baca di twitter, kalo membalurkan lotion langsung pake cologne hasilnya stay agak lama, Kayaknya ngga terbukti di saya sih. Hahhaha
My body care at office desk
  • Oya, gimana baju gantinya? 
  • Saya bawa sehari sebelumnya. Baju kerja, jilbab dan handuk. Jadi backpack ngga berat pas sepedahan. Bedak and lipstick disimpan juga di meja kantor, biar ngga demek-demek amat. Siapa yang bike to work juga di sini? Cerita donk!

    Lucu ya Bag packnya?

    The Ritual

    Itu foto papa saya, di Shuvarnabumi Airport, Bangkok. Akhir Juni, 2019.

    Waktu kecil papa kerap bawa kami ke Singapur. Disela sela business tripnya, hadiah dari kantor untuk liburan, etc.

    Dulu saya pernah tulis di blog lama saya, Sebelum pulang ke tanah air, saya punya ritual lho! Berdiri di bawah giant information board ini Changi Airport, membaca satu persatu port of destinations, yang mana jauh lebih bervariasi dibanding dengan information board di Cengkareng.

    Terus berharap, semoga suatu saat kesampaian ke kota kota yang namanya ada di buku Atlas.

    Saya sempat screen cap tulisan saya dulu..

    Waktu saya post itu, tahun 2005, ada blogger lain, Lalu namanya (saya ingat orang Lombok, apa kabar ya dia? Blog nya sudah de activate) bertanya. “Udah ada yang di cross mbak?”

    Saya bilang belum hahahaha

    Saya baru ingat lagi tulisan lama saya ini waktu lihat papa berdiri, iseng melihat announce board.

    Eh, ternyata sudah ada yang di centang! 😉

    Year End Gift

    Early this year, my sister told me she got the Ballot to run in Chicago Marathon.

    “you got the ballot?”

    Gee…I forgot to register.

    Then I remember, I didn’t even sign up for the ballot.

    Simple, I had booked ticket for four to Russia on June.

    Ha ! Certainly I wouldn’t have budget for another long-haul, expensive trip. Better not positioning myself between this and that!

    Something came up, my sis couldn’t make it to USA this year, she has to defer to the following year, which is…2020.

    Well, next year I’m going 42. I have plan for myself, doing 2-4 FM in one year. #42K42Y or 42 KM 42 years. Hahahahhaha! But I’m not sure on which event I’ll be participating. Thinking of Jogja on April, but I had signed up for a bike race in Lombok (also in April).

    There will be noooo way my supervisor allows me taking another annual leave. Then I’m thinking about Bandung, Gold Coast, Jakarta or Chiang Mai.

    Last October, I tried my luck again- somehow ! My second attempt for Chicago marathon’s ballot.

    Registered and I forgot until last night.

    I just had my strength training with a new club, the coach is my close friend.

    Then we went home by Train and we just reserve our seat then there was a message from my sis:

    “you got the ballot?

    Oh my…I checked my mail! Zip zero nothing nada!

    Tried again…

    “Application Update for the Bank of America Chicago Marathon” and it said…

    🙂

    Alhamdulilah!

    Buat yang di kereta terakhir jurusan Rangkasbitung jam 8.30 pm malam kemarin….maap banget ada yang teriak teriak di Gerbong 2 yaaa!

    It was me! I couldn’t be happier! Sumpah! I just love how the universe works with our luck…I mean, last time I was in Berlin – my first WMM, it was also with my sister!

    And wish me luck, gonna be my 5th Full Marathon and my second World Major Marathon.

    Yes!!! I don’t think I’d be able to run another 2-3 marathon next year! Mahal boo ke Amrik! Hahahah!

    PS : my second degree cousin who now lives in norway will also joining the event.

    I did read my Berlin Marathon race recap, and I did write my next WMM is Chicago! Hahahahaha!

    Sedikit cerita

    Saya pindah ke perusahaan Jepang awal tahun 2012. Tiba tiba saya ingat lho, waktu Ramadhan Day one.

    Waktu selesai sholat dzuhur, doa yang saya panjatkan “Semoga bisa ke Jepang bawa anak anak tahun depan” 😀 saya tulis juga di Tumblr saya.

    Aslik! Orang orang minta macem macem saya remeh banget permintaannya.

    Mungkin karena terpengaruh lihat teman teman yang sering ke Jepang untuk bisnis maupun liburan.

    Beda banget sama temen teman kantor sebelumnya yang mentok mentok Hong Kong. Hahahahah.

    Yah, seperti yang diketahui bersama. Doanya waktu itu belum dikabulkan. Tuhan katanya Maha Tau kebutuhan umatnya ya, saya masih harus kumpulin uang dulu buat anak anak sekolah. Minimal sampai mereka masuk SMA (saat itu mereka masih SD kelas 3 dan 2) haahahah

    Tuhan juga tau, bawa anak anak ribet seumur itu, saya pasti ikutan capek. Hahahahaha

    Doa saya dikabulkan 5,5 tahun kemudian. Bisa bawa ayah saya pulak.

    Anak anak karena sudah remaja, bisa bantuin baca peta, pesan makanan ato belanja di Lawson.

    Kebayang deh kalo saya pergi ke Jepangnya tahun 2013. Haahhaah encok pasti!

    At Kiyomizudera Kyoto

    Em Ar Te (read: MRT)

    As far as I can remember, first time I took Underground Train slash MRT when I was in 3rd grade, apprx 9 years old.

    It was in Singapore, my parents annually took us there.

    I went “wooow” since It didn’t exist in Jakarta.

    As I said, we kept coming back to S’pore and taking MRT wasn’t fantastic journey anymore. Yet, I always in awe, since the country keeps building new lines, expanding the stations,etc.

    For instance, Dhouby Ghout was once a small, quite MRT station. I remembered the station was majorly renovated in 2005, and now it is a huge transit station. I haven’t travelled back to Singapore for 3 years so I have no idea what lines are new.

    I’m 41 years old, so do the calculation in what year I took MRT for the first time.

    When I was in Singapore for work, I must say, I felt like I was the coolest Tangsel Citizen because hey! I took MRT to work! On daily basis!

    Fast forward, Jakarta finally have one! I bet many of you have friends or you- yourself had posted short video or pictures of the long-awaited MRT in your socmed account.

    Yet Being overshared I am, I didn’t post any! Tumben kan? Hahahaha

    When I took MRT (in Jakarta) for the first time, I feel amazing when it goes escalated. From senayan station to Asean Station.

    All the people in the compartment exclaimed “WOOOOOWWWW”

    I bet they are just like me, middle class who travelled here and there including Singapore, yet, still in awe in a public transportation that goes underground to bla bla feet above the ground!

    If you asked me, the MRT is not feasible for me in term of expenses and time consuming. It’s IDR 15,000 more expensive/trip and extra 30 minutes to get home/office.

    But yes, there’s a feeling, a proud feeling that I took MRT to commute in a country where I live!

    Lebak Bulus Bound

    It is not surprising, that business area near the station goes very very well! People from Sudirman went to Blok A just to eat Nasi Padang. Because it only took 10 mins from their desk now (vs 45 mins by taxi)

    Last Friday I asked my colleague to have lunch somewhere,near MRT station. Everybody agreed!

    We were in the same elevator with our Irish Boss. He asked where we have our lunch, we explained and his reply was (of course he said this in English)

    “Halah! Kalian heboh banget sih sama MRT! gw kira semua kota dilalui MRT, taunya cuma 1 line pendek”

    In case google translation doesn’t work : you guys are exaggerating! I thought it is covering the whole city! Turns out only 1 short distance”

    Ih misterrr! nunggunya lamaaaa tau!!!