Just like the rest of you

Well, my plan to do 42K for 42 years is ….terminated! All the races I signed up, surely cancelled.

Including this one, suppose to be my 2nd World Major Marathon and 5th Full Marathon.

My initial plan was taking my dad so we can have trip to Muncie Indiana. It’s a-3-hour-drive from Chicago. Dad lived there in early 80’s.

A bit sad, but of course I’m relief. Insya Allah I’ll have a year of training, financial preparation and…SEMOGA REJEKI AKU JUGA DOUBLED BIAR BISA BAWA ANAK-ANAK KE KAMPUNG KAKEKNYA ((kampung))) LIHAT TEMPAT IBUNYA MAIN AYUNAN DULU…

Ok, this is exaggerating 😉

Well, see you next year, then!

Gua Garunggang Sentul

Begitu PSBB dibuka, saya punya rencana, mau ke Sentul.

Cerita dikit, setelah 3 bulan di rumah saja kecuali kalau harus ke kantor, baru tiga minggu lalu saya lari ke luar rumah. Itu pun di cluster. Kalau tidak pagi benar, atau setelah magrib. Tujuannya tentu saja untuk meminimalkan ketemu orang. Lalu baru Minggu akhir May setelah Ramadhan saya keluar cluster dan shock! Ramai banget. Padahal saya sudah pagi benar keluar.

Karena butuh banget lari, mau tidak mau harus nge-trail. Pikiran saya,karena di kampong/ hutan/ gunung probalilitas ketemu orang sedikit. Tapi ya seperti diketahui bersama (atau pengetahuan saya terbatas), kalau nge trail paling dekat ke Sentul. Walaupun penerapan PSBB sangat longgar, saya memilih menunggu sampai PSBB selesai, per peraturan pemerintah.

Akhirnya Dua Minggu lalu saya ke Sentul dengan rute trail yang baru. Gua Garunggang. Dari beberapa media online, sering disebut mini Jurasic Park. Saya kesana mengendarai mobil dulu, arah Curung Lewi Ijo. Nanti ada parkiran yang dikelola orang local, ya sekenanya ya. Hahahah. Saya janjian sama Teh Ria, duapuluh tahun lalu kami satu rumah di Duri Riau. Pernah ketemu sekali di Jakarta, awal 2000’an, setelah itu ngga ketemu lagi.

But we keep in touch via socmed. Dimana saya tahu, beliau jualan ikan Tude. Lebaran kemarin saya pesan untuk hampers beberapa rekan. Jadi deh, kita mulai ngobrol di whatsapp. Jadi pergi kemarin, reuni saya setelah hampir 20 tahun tidak ketemu, dan sedihnya ngga bisa pelukan! Huhuhu. Tos siku doank.

back to the story, lalu nanti terlihat plang kecil menuju Gua Garunggang, silahkan melewati jalan setapak, melintasi sungai, perkampungan, hutan pinus lalu perkebunan. Viewnya cantik, tracknya menurun.

Sekitar 2K jalan baru deh ketemu Situs Gua ini. Nanti pengunjung dikenakan biaya IDR 15,000/orang. Saya tidak tahu nih resmi apa tidak. Oh ya, bisa selusur gua ya, turun pakai tangga kecil. Turun vertical ya…Cuma karena saya takut (gelap boo, harusnya bawa head lamp) saya batalin deh.

Setelah cukup puas dan mati gaya di Garunggang, yang minim penjelasan juga kenapa situs tersebut bisa ada di tengah gunung (menurut teman saya, harusnya dari kikisan air sungai ribuan tahun lalu), kami nyari kali…untuk mandi-mandi dan ketemu.

Yah, begitulah trip singkat saya!

what I do…

when I spent the whole day at home. NONTONIN YOUTUBE! hahah. Nah karena ngga bisa kemana-mana, saya nontonin yang bagian jalan jalan lah. Terus tertarik sama channel Rusian Plus.

Awalnya karena bagian dari mati gaya kebanyakan jam kosong (on weekend, on weekday sih tetep depan laptop) , saya baca cerita seorang kenalan, Pak Albert namanya. Saya kenal blio waktu menjemput anak saya sholat Jumat di St Petersburg Mosque. Long story short, saya nemu IGnya dan suka dengan cerita keluarga kecilnya. Istrinya orang Vladivostok. Saya awalnya ngga tau nih kota letak persisnya dimana hahah. Pas tau, ih jauhnya mereka merantau!

saya kan suka ingin tahu ya, what is like on the other side of the world, what do they do for living, how do spent their days, kayak gitu gitu deh hahaha. jadi aja tertarik nonton youtube si Rusian Plus ini

ih, kok kotornya, infrastrukturnya ngga jauh sama Jakarta! hahahahah!

lalu tertarik lagi nonton video Kazan. sebenarnya waktu ke Rusia kemaren ingin mampir sini, tapi budget saya kurang. Namanya iseng browsing tiket dapat yang affordable, langsung merem beli. Itternary selanjutnya menyesuaikan ketersediaan tabungan. teheee….

terus iseng liat video St Petesburg, hahahahah. Baru sadar dibalik Church of Spilled Blood ada taman keren. Padahal waktu itu sempat istirahat sebentar, tapi ngga explore tamannya lagi. Plus, ngga mengunjungi gedung tertingginya! Tourism spot yang lain, didatangin sih. hahahah iseng banget lagian kayak ujian nge cek ulang jawaban.

Habis melihat tiga video di atas, tetap aja sih, belum tertarik kembali kesana. Murmansk mungkin, but who knows?

If you can’t stop thinking about it…

Don’t stop working for it…

Kalau kata google sih, kata katanya Michael Jordan. Mungkin kurang pantas nulis di sini, tapi blog memang buat saya mengingat apa rencana, pengalaman bahkan pembelajaran buat saya. Besides, writing keeps my sanity.

Ya sejujurnya sih, saya suka kepikiran hutang saya sama almh Ibu saya.

Saya pun suka becanda mau kuliah di Negara Scandinavia tapi bahasa pengantar bahasa Inggris. Komen-komen saya sama Ashar, teman saya yang awal 2000’an kuliah di Perancis kayak gini.

Minggu lalu, teman saya – ID-, lagi menunggu hasi Post Graduate studynya. Tahun lalu Master dia selesai, blio ke Amrik, btw.

Terus bicara kuliah, terus komen gini di grup:

img_1045

saya sampai nulis di twitter, hitung umur anak-anak dan umur saya, kayaknya saya baru lega bisa leluasa punya pengeluaran besar di mid 40. That year, both my kids will be in college. Will it be too late or will I be too old?

Sampai Imel bilang teman blio ada yang S1 di usia 60’an. :)) Hebat semangat belajarnya.

Akhirnya saya iseng browsing2x sampai saya buat spreadsheetnya.

Isinya

Nama Universitas

Program Study

Durasi study

Biaya study

Link Univ tersebut

Requirement (TOEFL, GMAT/GRE)

Ini dari program study yang mendekati background saya. Kebetulan di satu negara.

untuk negara lain, saya bikin tab page lagi. Ingat! Kalau ngayal harus detail!

img_0977-1

GMAT nya paling kecil 550! Duhhhh hahahahah. Udah mau nyerah saja rasanya. Belum mikirin Tuition Fee.

Oh ya, saya baru tahu juga, di Austria, Master program relatif affordable buat program study yang mendekati background saya. Sekitar Euro 400/semester dan total 4 semester. Ada satu program study yang saya incer di negara itu (yang bahasa pengantarnya bahasa Inggris).

Requirement mereka juga lebih tinggi, tentunya. Yet considering, I have time, harusnya punya persiapan lebih matang.

Living cost bisa hampir mirip dengan living cost saya sekarang, paling mahal biaya sewa rumah. Dan ini diaminin Doni, sahabat SMA saya yang phD di Itali dan Inggris.

Hmm….we’ll see! Terima Kasih teman-teman twitter yang sudah menanggapi draft novel kehidupan saya! Hahahaha!

Bike To Work

Dari waktu di Midplaza, or to be precise, dari waktu punya Road Bike, saya sudah kepikiran mau bike to work! Biar kek’ saudara saudara di Belanda…#halah.

Alasannya, begitu saya turun dari Stasiun Palmerah, saya saya sangat kesulitan cari feeder. Alternative ya kalau ngga taxi (harus patungan, kalo ngga mahal, at least IDR 25,000/trip) atau ojek (IDR 15K/trip). Tahun segitu belum ada Ojek Online apalagi Trans Jakarta. Apalagi kalau hujan, bubar semua. 

Tapi pelan pelan, transportasi umum membaik ya. Saya sendiri sih lebih bertekad pakai Trans Jakarta saja daripada ojek online. Sama saja seperti ojek pangkalan, bikin macet karena mereka menumpuk di jalan.

Jakarta Hijau

OOT dikit, saya heran lihat orang-orang, yang memperlakukan transportasi berbasis aplikasi online ini sebagai supir pribadi. Masih di Stasiun Kebayoran sudah mesan ojek , atau masih di kantor belum rapih-rapih, sudah mesan ojek, suruh supirnya nunggu di jalan bermenit menit. Sinting kalian! Kalo hidup lau pada sulit, gw ngerti deh kenapa! Ngga usah play victim!

OK anyway, balik lagi. Selipan nge-gas.Seiring dengan membaiknya transportasi umum Trans Jakarta, yang frekuensi busnya lebih sering dan busnya bagus bagus, saya perlahan tapi pasti melepaskan ketergantungan sama ojek online ini lah. Rute bus Trans Jakarta bertambah, sehingga saya bisa naik TJ dari stasiun Palmerah ke kantor. Tinggal jalan 10 menit. Hitung-hitung olahraga.  Ini bisa nge-cut expense saya lumayan banyak bahkan nge-cut tummy line saya lho! Serius!

Sampai…tetangga saya bilang 

“Kita kalo ikut le’ Tape ngga bisa deh ngandelin sepedahan weekend aja. Harus bike to work nih!”

Jadi, saya dan tetangga saya, Bulan April besok join race sepeda. Le’Tape Indonesia namanya. Cek link saja ya gan!

Baru deh kepikiran cita-cita lama! BIKE TO WORK! Buat selingan latihan sepeda.

Kebetulan saya kenal  rekan –rekan Rocketers Indonesia yang memang menjadikan commuting with bike, sebagai lifestyle mereka. Toh di kantor memang ada shower room buat karyawan yang mau olahraga di pagi hari / pulang kerja.

Saya juga Tanya-tanya sama teman kantor yang bike to work. Berikut list yang diperlukan kalo mulai B2W an

  • Lampu sepeda depan dan belakang. Lampu belakang sudah punya, tinggal lampu depan. Rechargeable LED BICYCLE Lamp minimal 10W (edited: lebay amat 400). Fungsinya kalau penerangan jalan kalau gelap.
  • Gembok sepeda. Saran merk Abuss, tapi saya cari kemarin ngga ketemu. Pake yang ada aja.
  • Jaket kedap air berguna di musim hujan kaya gini. Waterproof dan wind breaker.
    Tools sepeda, ban serep dan adapter ban dalam dan Waterproof bag. 

Dari list di atas, yang saya tidak punya Cuma LED Bicyle lamp aja. Beli di Rodalink harganya sektiar IDR 400K. Sisanya punya lah, karena kan anaknya suka ngetrail dan memang nge-road bike…#halah.

OH, adapater ngga punya dink,belum sempat beli . Adapater ini dibutuhkan karena ban dalam untuk road bike, pentil buat mompa ban-nya kecil. Jadi kalo seandainya ban kurang angin, harus dipompa pinggir jalan, ya butuh adapter ini.

Pertama kali bike to work, duh saya komat-kamit doa. Emang ngga santai traffic Tangsel-Jaksel, tapi manageable lah. Kalau memang minta jalan, kasih tangan bilang terima kasih sebagian besar pengguna jalan appreciate, ngga klakson terganggu, semoga begini terus ya.

Hahahah. Saya sih percaya banget treat people the way you want to be treated. Bahkan pernah mau nyebrang (gotong sepeda) dari depan Senayan City, sopirnya TJ berhenti, padahal harusnya saya yang kena lampu merah.

Sampai saya nulis ini, udah 3x bike to work, sekali aja bike to home. Tenang, saya selalu dikawal kok. Jujur belum berani sendirian.

Sehingga saat ini meja kantor isinya :

  • Sabun mandi …tentunya…
  • Facial oil, merek Biore
    Bedak bayi, ini buat menyerap kaki basah karena hujan atau keringat,
    Body lotion and cologne. Saya pernah baca di twitter, kalo membalurkan lotion langsung pake cologne hasilnya stay agak lama, Kayaknya ngga terbukti di saya sih. Hahhaha
My body care at office desk
  • Oya, gimana baju gantinya? 
  • Saya bawa sehari sebelumnya. Baju kerja, jilbab dan handuk. Jadi backpack ngga berat pas sepedahan. Bedak and lipstick disimpan juga di meja kantor, biar ngga demek-demek amat. Siapa yang bike to work juga di sini? Cerita donk!

    Lucu ya Bag packnya?