Alone

I hate airport when it comes to long holiday,not to mention everyperson well almost,wear tank top and short,while i was completely dress up not to mention they travel with their babies while mine had to stay with their daddy at home.
But i had the window seat on the right side,so i can snap the magnificent Mt.Bromo.
This is paradise anyway,so suit yourself Kiky.
*abis berenang,heading to Kuta*
Evil grin.

my first borneo trip

*muke gue muke tambang kali yeee*Goofy
Jam 10.30 WITA, mendaratlah GA 530 di Bandara Syamsudin Noor.
Berhubung ini pertama kali saya menginjakan kaki di pulau ini, rasanya perlu diabadikan *narsis akut*
tetep dengan stelan merah walopun beda komposisi.

setelah mengisi perut di satu rumah makan kecil, we headed north.
Sepanjang perjalanan melewati kota banjarbaru dan martapura, apabila melihat pom bensin
maka pemandangan yang ada adalah antrian dump truck pengangkut batubara yang tidak dapat beroperasi karena :

“maaf solar habis” & “maaf bensin habis*

Kali ini sebuah perusahaan tambang batu bara di propose oleh business unit tempat saya bekerja. Rasanya, belum pernah kami membiayai industri sejenis langsung kepada pemilik konsesi, makanya saya “diundang” untuk melihat langsung. good, learning a new thing, quite an ectassy for me.

Dengan mobil 4WD, khas mobil untuk daerah pertambangan, 2 jam kemudian sampailah kami dilokasi pertambangan di Kab Rantau.

So there I was, for the first time in my life I saw :

A crushing plant
(alat ini menghancurkan batu bara dari diameter 25 cm menjadi 5 cm)
and off course a coal mining :

dan ternyata pertambangan ini awalnya dimulai dari atas sana,

sampai saat ini dibawah sana,

hmm…berapa ya tingginya…kiloan meter lah yang jelas.
Heavy quipment itu saja tampak seperti mainan, padahal diameter rodanya lebih tinggi dari saya.

kemudian kami ke site yang lain. Kalau tadi melihat dari kejauhan, sekarnag dimana kita berada didasar pertambangan itu sendiri


mengetahui pertambangan butuh studi eksplorasi yang akurat dengan biaya yang tidak sedikit, walaupun sebagian besar pertambangan di negeri ini menggunakan metode open pit (pertambangan terbuka, setelah eksplorasi cuma butuh min. excavator+ dump truck),
maka saya iseng bertanya kepada nasabah dimana posisi seorang Aman Jagau *ternyata….disensor*ROTFL
eniwei, setelah dieksploitasi, pemilik konsesi wajib mereklamasi kembali daerah tambang yang bolong kemudian ditanam pepohonan.

mengunjungi 2 pit lain dan sebuah crushing plant lain, kami kembali ke Banjarmasin, diatas jam 3 sore Pem Kot banjarmasin menginjinkan truk2x pengakut batu bara masuk kota, maka apabila kami terlambat, yang ada terjebak macet.

Ah sayang, kota martapura terlewat begitu saja tanpa singgah (tentu aja berarti tanpa melihat batu2x indah untuk perhiasan dan kain sasirangan) Sad
*pergi sama brondong mana kepikiran sama kain daerah dan sungkan juga siy minta mampir*
Sampai di Rattan Inn jam 7 malam, saya melihat gambar pasar terapung dari situ timbul niatan untuk ke tempat ini esok pagi dan menyewa taxi hotel. Kapan lagiBig Grin
ternyata, lantai kamar saya sama dengan Novus Spa, fasilitas Spa dari hotel tersebut, iseng bertanya harga paket karena ingin dipijat akibat lelah, quite resonable price for me, sekembali makan malam saya pun ber-spa ria.
dipijat dan dilulur, sedap!relaksasi yang menyenangkan.Massage Therapist

Jam 5.15 WITA, masih ngantuk berats karena Spa kemaren baru selesai jam 11, berangkatlah ke sungai barito.
Ahirnya ngga jadi naik taxi hotel, dipinjamkan mobil nasabah tadi. Untungnya Johnson mau ikut juga, si oriental brondong ini juga tidak mau melewatkan fajar di sungai barito. Good, I got accompany!

Sebuah sampan bermotor kami sewa, konon kabarnya sebenarnya harga sewa cuma Rp 50 ribu, mungkin karena keliatan kita bertampang turis lokal *ya eyalah, bawa2x kamera gitu* jadinya 70 ribu, padahal sudah ditawar pak Yusuf , ya sudahlah, harga solar besok juga naik.
bermulai dari sungai yang tak begitu lebar, 5 menit kemudian bermuara di sungai Barito,
Jaw Dropping for me seeing the sight, saya tidak pernah menyangka sungai barito seluas ini!wow!

memang tidak lama disini, hanya sekitar 1,5 jam. Kami juga tidak sempat ke pulau kembang di seberang yang habitatnya monyet
setelah makan pagi, kembali mengunjungi sebuah crushing plant yang mempunyai dermaga.

Tongkang telah berisi 8.000 ton batubara dan akan segera diberangkatkan ke negara seberang, karena ingin melihat tongkang di atas kaki saya (excavator itu berada diatas tongkang )”terperosok”.

Ketika membuka sepatu di kantor,
argggghhhh sia-sia spa tadi malam….kaki dan sepatu saya hitam oleh debu batubara.Crying 2

Setelah berdiskusi, saya dan johnson berpamitan kepada nasabah, kami terbang ke Jakarta lebih dulu.
sempat melintasi sebuah kantor camat yang penuh oleh masyarakat —yah taulah mengapa mereka disana.
ironis…cadangan batubara terukur di propinsi ini masih 2,428 milyar ton dengan harga jual USD 113/ton. Pajak ekspor juga cukup besar, 13% dari total penjualan.

Sampai di airport saya melihat counter kain saisrang, dibeli sajalah :P, ya harganya memang sedikit lebih mahal (katanya salesnya siy-“cuma” 20 ribuan lebih mahal untuk kain yang saya beli) dan pilihannya tidak banyak.

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!

Jadwal pemerbangan masih 1,5 jam lagi, ngaso2x di Blue Sky Lounge.
Mengetahui kami belum check ini, maka pihak lounge menawarkan untuk membantu urusan check in, bagasi dan pembayaran airport tax…kami tinggal duduk manis saja di lounge sembari ngopi dan makan pisang goreng. Life is good! 😛
dan ternyata tidak sampai situ, kita tidak perlu ke ruang tunggudi lantai 2 bandara ini, ada jalur tersendiri untuk langsung ke pesawat setelah ada pengumuman boarding…
dan cihuynya lagi neh,
sejak Adam Air diberhentikan, otomatis armada ke kota ini berkurang, mengakibatkan pesawat sering penuh, maka…
di pernerbangan GA 533 ini kami duduk di executive class *evil grin*Devil
kami tertawa geli saja, melihat mayoritas penumpang kelasi ini pejabat look-alike, sedangkan kami “kefret-kefret dengan kaos,jeans dan sepatu kets yang hitam we were “gembel” who just lucky sitting in the front seat Evil Grin

my latest trip – Pulau Batam dan Matak


1 foker 50,

2 malam,

3 pulau,

4 peserta,

5 pelabuhan,

431 gambar,

lots of my first – “something”

(yeah, termasuk pertama ke batam….suer))

 

Dan disanalah saya rabu pagi kemarin

Menjelang magrib di hari selasa, kami sampai di Pulau Batam (ya, ini kunjungan pertama saya ke pulau ini, hahahah). Langit merah menyambut sangat indah, this is going to be a wonderful trip. Langsung menuju wilayah batu Besar untuk makan seafood enak di restoran Rejeki.

 

Rasanya belum puas merebahkan badan di kasur , namum jam 5 pagi harus sudah berangkat dari hotel Planet Holiday, Nagoya menuju Hang Nadim

Dengan pesawat chateran foker 50 milik Riau Airlines berangkat jam 6 pagi bercampur dengan 45 lelaki yang bekerja di ladang minyak lepas pantai, pengalaman pertama naik pesawat dimana penumpangnya lelaki semua…ah, berasa cantik. =))

(2 pramugari ngga dihitung penumpang kan….???);;)

 

 

Perjalan menuju Matak awalnya tenang dengan cuaca cerah, namun setengah jam sebelum mendarat bukan main turbulence-nya.

Waktu baru menunjukkan sekitar setengah 8, tetapi cuaca di luar, kiri kanan pesawat awan gelap disertai kilat dan hujan. Seperti di film saja.-SS

 

Spontan saya membangunkan Dana yang tertidur pulas.

 

“Dana, bangun loe…kok bisa2xnyasiy loe tidur pesawat kaya’ gini”

(note, saya termasuk orang yang paling tidak bisa tidur di pesawat)

*Dana yang bangun dan pasang muka masa bodoh*

“Mau gimana lagi, ky….gedor2x jendela pesawat?”

Ah ya betul…tak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa

*dan pegangan kursi pesawat, suerrr ngeri banget*

 

 

Sebelum pukul 9 sampailah saya di PUlau Ini, base camptempat ratusan crew dan field engineer sebelum pulang atau diberangkatkan dari/ke platform-platform yang ada di lepas pantai berjam-jam dari pulau ini.


 

Menyaksikan keributan “crew exchange”, pertukaran shifting antara group yang 1 dengan group lain, wajah-wajah lelah yang (mungkin) suntuk mingguan berada di lepas pantai dan sudah rindu keluarga dan wajah-wajah malas2xan yang masih menunggu mingguan lagi untuk berkumpul dengan keluarga. (mengingatkan saya pada rutinitas kehidupan ayahnya Double Ke. 2 tahun lalu bahkan bertugas di Belida Field,Natuna. ya tentu saja, ke Matak 2 minggu sekali adalah rutinitas beliau). Menyaksikan chopper silih berganti terbang dan mendarat yang datang dari platform untuk mengantarkan/menjemput pekerja lepas pantai tersebut.

Sampai kami ke sebuah jetty untuk naik kapal penumpangkapal pun berjalan dan kemudian mendarat lagi untuk pergi ke “base camp”.

Tak lama di pulau kecil ini, rasanya belum puas melihat beningnya air laut denganudara yang sejuk. INgin rasanya berenang, bahkan merendam kaki pun tak sempat, waktu terlalu lama dihabiskandi kapal tadi. Ah, Kapan bisa kembali ke pulau ini lagi dan menyebrang ke pulau Tarempa dan pulau2x lain. Maskapai komoersial memang tidak setiap hari singgah di pulau ini.

Perjalanan kembali ke batam tertunda siang itu, cuaca yang buruk tidak mengijinkan pesawat untuk terbang.

Sempat berbincang dengan seorang wanita istri dari prajutir Angkatan Laut yang menunggu pesawat charteran dari COnocoPhillips.

Pesawat komersil yang mendarat di pulau ini tidak banyak, mungkin seminggu 2 kali dari Tanjung Pinang, sehingga apabila pesawat chateran milik perusahaan Amerika itu kosong boleh diisi oleh penumpang non-karyawan.

Kita berpendapat sama, sayang pulau seindah ini kurang terawat…padahal kurang kaya apa wilayahnya, jalan ke mess PT XYZ bukan main buruknya. Minyak dan ikan nya berlimpah, pura-pura tak tahu kah mereka? *sigh*

Saya merasa beruntung, pernah menginjakkan kaki di gerbang utara republik ini.

 

 

 

Sekilas info Kabupaten Natuna, dikutip dari majalah Kilau Natuna yang saya ambil (ijin dulu kok sama pramugarinya) di Riau Airlines.

Pesawat komersial ada dari tanjung pinang namun ke Ranai, dengan jadwal 3 x seminggu. Menurut laporan disitu, harga tiket tanjung pinang- ranai dilayani oleh Merpati dipatok Rp 500 ribu saja dan terbang 3x semimggu. Sepertinya landasan terbang Ranai lebih panjang daripada Matak, karena pesawat Merpati pesawat jet.

 

Jika ada yang berminat ke kabupatan Natuna, di majalah tersebut ada rekomendasi travel, penginapan dan restoran, call me if you need it.

 

 

————————-


Lalu, perjalan pulang kembali ke Batam siang itu. Mengingat pengalaman turbulence yang bikin saya sakit perut, saya sempat panik ketika pesawat Foker 50 itu hanya baling-baling sebelah kanan yang berputar.

“Pesawat ini yang jalan baling-baling kanan dulu kok, ky…santai aja” *fiuh*
Kebaikan hati Pak Bambang dari pihak client, diantarkanlah saya ke Jembatan Barelang. Jembatan yang menghubungi pulau batam ke Pulau Tonton…dan disambung dengan jembatan lain sampai pulau Galang total . Kabarnya butuh 1,5 jam untuk sampai di pulau terakhir. Kami tak sempat, sudah lapar.

Perut telah keroncongan, meluncur kembali ke arah nagoya untuk mencicipi Sup Ikan Yon Kee yang terkenal itu. Slurp.
Jam 3 kami tiba di Batam Centre…yep….saya bertemu Gita di rumah barunya malam itu.
di pulau sebrang…tak banyak cerita…-B.
Foto-foto lain ada di multiply.

 

 

here’s my story


Like I told you, it was last minutes approval from my boss,
and to make it worse, there’s no daily allowances for offshore trip.
I caught cold, cough and fever, up to 38 degree (normally below 37,5),
I didn’t get seat by the window ,
aut I could get a good sleep, which I rarely have one when it come to flying. When there was an announcement the flight will be landing in 10 minutes, I wished the airplane fly for another 2 hours
Ugh…I still need a rest.
And yes, it was raining…*sigh*
new for me : we don’ t need the Imigration Form in Malaysia anymore *good,I hate filling the form*

Oh the meeting? when it comes to be on a presentation and arguing  to the people who doesn’t speak your language —- argghh, it caused me a great headache.
and it rained and rained again, I didn’t take many pictures.

anyway, there will be Formula 1 race in Sepang, so the F1 things is in the air. And I just learned that the actual size of the racing car is BIG.
There were a great sale as well, too bad it’s a week before the pay day (usually on 25 every month) :P.
But I get 2 boxes of peppermint tea, never try before and a timer for baking from IKEA .

Back to Jakarta in the morning flight, which mean I have to wake up early. Oh yeah, I have problem with early wake up 😀

and I hate airport when it come to long holiday….

Ah, me-always-complaining!

home….


setelah 8 hari, akhirnya pulang…
A very nice trip! I’ll tell you later!
but I tell you what,
pulau samosir is A must See!

yelow line : medan – bukit sentang, rabu 21 Nov
red line : medan- palbatu, kamis 22 nov
blue line : medan – parapat, sabtu 24 nov
green line ; samosir-medan, minggu 25 nov