Ternyata doaku dikabulkan

Dan saya baru tau hampir 8 tahun kemudian :))

Jadi begini ceritanya, di satu masa saya pernah nulis ini. Intro dikit, Cerita teman kuliah saya, katakanlah si ROMEO, brondong muda belia yang hobi banget tebar pesona. Ya karena saya penebeng setia, tentunya akulah pendengar aktif blio setiap menceritakan jurus baru menggebet gebetan (sounds weird) hahahaha. Muka blio sih suka saya cela pas-pasan tapi banyak wanita cantik yang terperangkap pesonanya bahkan rela diduakan. Soalnya si Romeo punya steady girlfriend yang saya dikenalin juga.

Yaaaa, gimana ngga kenal baik, wong saya nebeng selalu!

In short, seperti yang saya tulis disitu, si Romeo putus cinta sama steady girlfriendnya. Katakanlah Ratu- bukan nama sebenarnya. Pas putus, curhat donk sama Tante di mobil, kenapanya (ketahuan bohong), sampai baca chat mereka di BBM…yoih…masih blackberry messenger saat itu!

Oh ya, karena menurut saya si Romeo waktu itu masih muda belia, saya sih cuek aja blio playboy berat. Gimana ya…wong dia masih muda juga :))

Saya saksi deh gimana nih bocah bisa gombalin 2 cewek berbeda, via telpon – termasuk Ratu, dalam waktu selang 20 menit. Tante geleng geleng nyengir sih.

Yang saya tidak cerita di postingan itu, waktu saya kasih insight ke dia, saya bilang ke Romeo

Gimana ya Rom. Gw tuh suka kasihan sama Ratu kalo loe bohongin dia. Itu anak udahlah cantik, santun (pernah lho, Ratu turun dari mobil Romeo cium tangan saya!), pinter lagi!

setiap loe bohongin dia, gw diam diam berdoa Ratu dapat jodoh lebih baik dari elo! Bukannya loe ngga baik yaaa. Hahahah tapi gw ngerti sih loe masih muda. Mending bandel sekarang”

Tiga tahun setelah saya posting itu — setelah Romeo putus sama Ratu, si playboy bertekut lutut. tobat! Nikah sama finalis beauty pageant! Kece ngga tuh si Romeo!

Saya yang paginya ada race 10K di Kuningan – balik Tangsel- bela belain balik lagi ke Jakarta demi melihat istrinya! Hhahahha

Fast forward sampai dua minggu lalu, waktu saya buka Facebook saya. teman saya katakanlah Pelita, di tag temannya. Foto selfie di suatu ibukota di negara Eropa sana dan temannya yang nge-tag, paling depan. saya merasa pernah melihat teman si Pelita ini…yang ternyata..RATU! Mohon maaf saya kepoh, saya klik profile si Ratu :))

Pendek kata, Ratu ternyata jadi boss teman saya si Pelita! hebat ngga tuh! Ratu kan masih muda banget, punya anak buah yang senior karena memang blio piawai. Lagi di Eropa karena ikut SUAMINYA yang tugas dan dapat kerja di Eropa itu. Hebat ya! Anaknya lucu lucu banget, ibunya cantik gitu!

Hah! Saya langsung ketawa dan cerita sekilas ke Pelita. Ternyata memamg benar, kalau komentarin orang, yang baik baik saja. Ngga pernah tau Malaikat mana yang lewat dan mengaminkan :))

Ternyata doa saya diam diam, diaminkan Tuhan 😉

Advertisements

“Wish me luck Mbak! Take care”

Tadi saya tulis di Path account saya, I’d like to write it down here as well.

Dua tahun lalu, saya kan nulis ini ya. Rasanya saya belum cerita tentang Rian, yang kadang saya panggil Ryan, biar agak bule. The L*wson cashier who learned Japanese by himself, otodidak! Inspirator saya untuk belajar bahasa asing otodidak. Minimal nulis status bahasa lain lah. Biar sok iyeee!

Nah, itu orangnya. oh ya, ever since, Ryan also learn English by himself. Biar dia bisa ngobrol sama customer asing non Japanese. Anaknya emang rame sih, dan berani malu.

Jadi kalau saya kebetulan mau jajan di L*wson, terus dia lagi on duty, I tried to speak English with him. Any conversation related to his job, such as..

how are you

Do you need a plastic bag?

Anything else?

Here, your changes

Etc

Kalau dia ngomongnya salah, saya betulkan. Customer lain suka senyum senyum geli. cuma ya itu, Ryan berani malu.

Acap kali pas saya belanja dia suka teriak “she’s my English teacher”. booo….macam saya ngajar di EF!

Tadi pas mau pulang, saya ketemu dia di Lobby.

Mbakk, I want to say good bye!”

Loh? Resign kemana?

“To Alam Sutra!”

Lalu dia cerita (yang dia upayakan pakai bahasa Inggris juga! Grammar sih berantakan, saya bilang sebodo amat, bukan test IELTs ini!) kalau dia pindahkan ke kantor pusat. He got promoted to Marketing Staff. Wow keren!

“Wah senang donk naik pangkat! Kerja kantoran sekarang!” Lanjut saya ikut senang.

Of course, mbak” lanjutnya sumringah! Biar ngga terlalu sering bolos kalau kuliah”

Jadi ternyata di sela-sela shift dia sebagai kasir, Ryan ini kuliah di bilangan Salemba! Keren sekali ya! Saya angkat topi kedua kali sama anak ini.

Terakhir pas saya pulang dia bilang

Wish me luck, mbak! Take care!”

Saya pun memberi jempol! Malam ini, saya pulang ke rumah dengan hati yang lebih gembira!

Very best luck for you, Ryan! Ich drucke dir die Daumen!

That Short Trip to KL

The reason of my impulsive trip to Kuala Lumpur,

Nope, it wasn’t birthday trip like my friends had guessed.

Senin malam, saya mimpi teman saya, dipanggilnya Gai. Saya kenal dia waktu saya ke KL tahun 2013, dikenalkan Farah. rencana awal mau ikut Half Marathon SCKL yang akhirnya dibatalkan karena bencana asap. And as I wrote here, she was the one who picked me up before the run.

Pendek kata, Farah, tiba tiba whatsapp saya selasa pagi.

Oh em gee, kok bisa gitu ya? Mimpi katanya bunga tidur, jadi semacam notifikasi.

Farah shared Gai’s picture awal januari. Saya tidak mungkin share di sini, tapi di foto itu Gai – walaupun terbaring di tempat tidur- masih terlihat seperti orang sakit tipus atau demam berdarah misalnya. lemas, tapi masih “aware” sama sekitar. Kira kira gitu deh. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan mau visit Gai.

Saya teringat sebuah hadist,

“Hak orang sakit adalah di jenguk”

Kalau browsing sedikit dapatnya ini :

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Padahal saya tidak terlalu dekat ya dengan blio, setelah saya ke KL tahun 2013 itu tidak pernah ketemu dia lagi. Paling sambung silaturahmi via whatsapp, komen IG atau FB. Dia sering posting foto, and she alwyas look gorgeous! Fashionista kalo teman temannya bilang.

Anyway, saya contact teman saya yang lain, Ejah dan mengabarkan saya mau ke KL di akhir pekan. Jawaban Ejah bikin hati saya down sih, karena dia bilang

“she may not stay that long

Ejah sendiri ternyata ke Indonesia di hari Jumat, jadi tidak bisa menemani saya.

ternyata Hari Selasa sore itu, kondisi Gai drop signifikan.

Pendek kata, saya akhirnya jadi ke KL hari Sabtu, menginap di apartemen Aster, (terima kasih banyak Aster, dua kali dalam tiga bulan terakhir saya repotin!!!) dan waktu jenguk ke rumah Gai kami ditemani Aniza. Aster orang Indonesia juga yang kerja di KL, kebetulan rumahnya di Ampang tidak terlalu jauh dengan rumah Gai.

Saya visit Minggu siang, ekspektasi saya Gai masih bisa mengenali saya dan Aster. walaupun tinggal sekota, Aster juga sudah lama tidak berjumpa dengan Niza dan Gai.

Realitanya saya shock luar biasa, karena dari foto yang dikirimkan Farah (foto dari awal Januari) sudah berubah signifikan dengan kondisi Gai saat itu. Hanya selisih 2 minggu!

Ibu Gai datang dari Sendakan, Sabah (malaysia bagian kalimantan), setelah memperkenalkan diri, saya langsung memeluk Gai dan jatuhlah air mata saya tidak terbendung.

She was diagnosed with cancer, then it goes to her brain and spine. She was laying very weak on that bed and lost a massive weight.

Susah membayangkan diri jadi orang tua Gai, umur 78 tahun, penglihatan, pendengaran, bicara masih baik dan masih bugar, melihat putri semata wayangnya meregang nyawa depan matanya, tanpa dia bisa buat apa apa.

Pun ketika saya melihat kedua anak Gai (sekitar 16 dan 12 tahun) yang menatap nanar ibunya. Perih banget rasanya hati ini. Ingat anak anak saya.

Sore hari Niza mengajak saya pamit. Karena juga banyak saudara dia yang datang.

Yang saya suka dari orang2x Malaysia ini, tidak ada yang “rewel” bertanya :

kenapa? Kok ngga dibawa ke sini?”

“Kok ngga coba ini?”

“Sudah perawatn apa saja?”

Dll

Dst

Atau pertanyaan sejenis, Yang bikin saya kadang ingin merobek mulut yang nanya. Waktu saya pamit ke suaminya pun kita ngobrolin lari, dll, karena ternyata suaminya kerja di head quarter kantor saya yang lama.

Ibu Gai sepertinya senang ketika tau saya jauh jauh datang dari Jakarta. Dia cerita dengan bahasa Melayu campur bahasa Inggris banyak sekali teman dan kerabat dari datang. Ya gimana ya, namanya orang tua, kalau anak kita di appreciate banyak orang, pasti merasa bangga, in some extent, didikan mereka berhasil.

Anyway, waktu saya pamit, I hold her hand again for the last time and whisper

“Dear, waktu kamu bayarin saya makan dulu, saya janji bakal traktir kamu kalo kamu ke Jakarta.

Maaf, tampaknya janji saya itu tidak akan saya tepati! rencana kita race bareng di Gold Coast Marathon seems not going to happen either. Not in this life.

I know it must be painful, saya yakin kamu kesakitan. But thank you, thank you for waiting for me. You’re very strong! if this will be the last time I ever see you, then we’ll meet again on the other side”

Malamnya, saya mimpi blio lagi. Probably saying Thank You, not sure.

Saya kembali ke tanah air hari Senin, dan begitu pesawat mendarat, saya dapat kabar dari Farah, sahabat kami telah berpulang.

Selamat Jalan, our fashionista runner!

Kiri kanan: Aster, Farah, saya, gai.

Btw, semua yang saya ceritakan teman lari saya, bukan teman sekolah. Heheheh. Almh sendiri pernah ikutan 100K beberapa kali, terus Full Marathon yang looping gitu puluhan kali. That’s mental game!

Wina Story part two

Kenapa saya bilang part two. Karena hampir 12 tahun lalu, saya pernah menulis part one-nya. I never meant to be the part one! Seriously.

Sedihnya, kali kedua, teman saya mengalami kehilangan suami, seminggu setelah dia melahirkan anak ketiga. Konon kabarnya tidak pakai sakit, sesak nafas and gone! Big Boss memanggil suaminya pulang.

Be strong my old friend! 😦

Tapi kan…

Baca postingan cici Inly di sini, bikin gw ngakak waktu itu. 

Gw jadi ingat cerita sendiri waktu lagi jalan-jalan keliling TangSel urus roadbike kita, cari helm, makan makan bareng temen gw. panggil aja Bebebs. Yaaa, nickname dia gitu lah. so, kalo kalian ada di Path saya terus saya reply komen seseorang pake “bebebs” ya itu dia..#penting

pokoknya waktu itu setengah hari berduaan deh. mesraa..

Anyway, yang nyetir waktu itu dia. Blio ngoceh seperti biasa. mau seriusin sepeda, ceunah!  intermezzo bentar, si Bebebs ini…saban hari…literally Every day, Jeden Tag, posting foto-foto dia abis ikut kelas GYM. Bisa back to back kelas RPMnya…warbiasyak!!! Blio lumayan berada yang mana kami tidak segan-segan menfaatkan kekayaannya. terutama di bidang logistik (makanan). Aslik…kulkasnya penuh pisan. Suka gw bawa pulang sebagian isi kulkasnya kadang-kadang.

Sementara gw desek-desekan di KRL, nyari ojek, meja berantakan, kertas sana sini, salah nge print, dll dll terus liat posting si Bebebs lagi selfie die Gym…ishhh suka #KZL #duniatidakadil #tapiberlakukesemuaorang #soitisfairafterall

Memang benar komen-komen di postingan Inly itu, bikin racun hati socmed itu kalau ngga bijak. #ceileh

Terus gw cerita ama dia:

“Loe gampanglah seriusin sepeda! Loe kan rajin  nge-gym. building core. Endurance elo udah tjiamik deh! Asli gw iri ama loe tiap pagi bisa nge-gym. Mantepin sepeda Tinggal ngeluncur di jalan…cussss!” 

Kira-kira gitu deh!

Terus ngalor ngidul kemana mana lagi, sampai gw cerita gosip di salah satu WA grup gw. Orang-orang di WA group ini, si Bebeb kenal semua. Cuma dia ngga masuk grup itu karena…grup ditujukan buat kami yang cari emas berlian atau saham (TLKM diprediksi 5,000 akhir tahun, gan! Hahahah)  di Jakarta, tinggal di tangsel buat nanya nanya jadwal Commuter Line. Yaaa tapi yang diomongin ngga cuma kereta doank lah! Gosip gosip hits seputar orang-orang ngga penting juga kita bahas, 😉 oh, grupnya cewek cowok lho! 

 termasuk janjian makan siang bareng. heran juga sih! Rumah deketan, sabtu minggu juga sering ketemu, di kereta ketemu, masih pengen makan siang bareng! Suka Bela belain walo kantor ngga semua deketan. 

Nah, abis gw ceritain gitu, tiba-tiba si Bebebs  komen:

“Ihhh, gw tuh sirik deh sama kalian! Suka seru ya denger kalian cerita tentang kerjaan makan siang bareng di Jakarta.  Gw suka iri deh sama yang kerjanya di sudirman-kuningan situ! Gw pengen  banget dari dulu bisa kerja di kantor yang dingin, pake baju bagus. Apalagi elo, di perusahan asing. Bisa meeting sama orang asing. Kayaknya Keren banget deh”

Haaaaaadezighhhhg! 

Rumput memang lebih hijau di pegunungan! :))

Anyway, foto di bawah ngga ada hubungan sih. Ini pas sebagian besar grup bisa makan siang bareng di Cahaya Kota-Gondangdia. sup ikanny enak banget boooo! Sehr lecker! 

inilah kami, gold digger from Suburb yang mengadu nasib di Hauptstadt! Lalu rutin menggunakan kereta api. Kecuali yang kanan gw (emang aslinya cantik banget, awet muda, padahal anak sudah mau kuliah)  yang lain ngga ada yang keren juga kan? Tetep aja ada yang iri! Bahahahaahahah

Terapi Hati

Beberapa bulan lalu, saya merasa anti sosial! Malas ketemu teman lama.jujurly, saya berasa jadi manusia ngga guna deh :))

teman-teman sudah jadi area manager, team leader, ina itu, I’m just a girl next door you only know by name.

Diajak kumpul, tidak pernah datang. I prefered sat even though not so comfortably in my home. Ya akhirnya, teman lama saya menjauh. malas ngajak saya lagi. Not surprise tho! let alone buka puasa bareng. kalo teman-teman di Path pada posting acara bukber mereka dengan keseratus teman terdekat…me? Almost zip – zero – nada!! Rasanya malas basa-basi, terus harus macet macet pulang, belum biaya makan di luar! Teheeeee …alasan terakhir sih kayaknya ya, my salary can’t afford it! Hahahaha! 

Tapi sekarang ini, saya lagi pengen banget ngobrol sama teman lama. Kemaren emang malas basa-basi.  Kerap merasa mereka sudah tidak sepemikiran lagi dengan saya (duileh…) ngga ingin ketemu semua teman lama sih tentunya. 

Ya, ada turning point juga.

Waktu  SMA, saya adalah kenal sama anak SMA lain. Saya di (Jakarta) barat dia di Timur (literally). Saya juga lupa gimana kenal sama blio. tapi saya ingat betul pernah naik Patas 46 dari Slipi sampe Cawang ke rumah dia, dan dia pernah juga main ke rumah saya (naik angkutan umum juga). itu 3x naik kendaraan umum lho. Niat bener.

kami juga lupa, belum jamannya socmed, mutual friend nyaris ngga ada, we still keep in touch. Atau mungkin via YM sesekali?  Saya masih ingat benar di kuliah mengambil jurusan Sastra Jerman. jaman ada socmed gini jadi lebih gampang silaturahminya. Pokoknya lebih gampang komunikasi saja

To make story short, kita akhirnya ketemu lagi kemaren mungkin setelah 7-8 tahun tidak bertemu muka. Tanpa planning. Tiba-tiba saya ingat dia, tapi tidak bisa menhubungi beliau via whatsapp. Selama ini temen saya memang tinggal di far far away land.  Dengan segala pertimbangan, memutuskan kembali ke ibu pertiwi. Pantes nomornya hilang di whatsapp. Tapi akhirnya mendadak bisa janjian ketemu sepulang kerja dengan kata pengantar dari belio pas chatting:

“Loe mau denger sekarang kenapa gw pulang atau tunggu gw nulis” 

Bahahahahahah! Tau aja gw kepoh! 

Teman saya kembali ke tanah air dengan modal minim.  Ngga gengsi kerja apa saja di ibukota untuk bertahan hidup yang buat saya geleng-geleng.
“Malu ngga loe? Kerja kayak gitu?”

“Ngga!”

“pas istirahat rekan kerja loe, yah….gitu donkk…..”

“Iya, tapi gw happy kok. ngga kesepian lagi”

hah!

bahagia itu memang sejatinya sederhana!

Memang benar kata gambar di atas , sometimes drinking coffee with your friend, is all the theraphy you need. Untuk kembali diingatkan hal-hal sederhana namun essensial.

PS : bagaimana saya dan kawan kawan lama yang lain? Masih mau ngajak saya ketemuan ngga ya? Heheheh 

a note to my friend

ex-collega saya, Ito-kun, akhir tahun lalu kembali ke tanah air. Blio sudah menyelesaikan MBA-nya di Boston, sempat kerja di kota tersibuk di Asia, namun  tidak betah. Ketika masa suntuk datang, memutuskan berhenti,blio malah dapat kerjaan baru, di kota bahkan negara yang berbeda, kali ini tidak terlalu jauh dari tanah air.

Kayaknya, saya sering banget ceritain di blog ini on which, old enough to be my son. :)) 

Yep, itu bercandaan kami karena usia kami terpaut jauh…. pakai banget. Tapi seru aja ngobrol ama Ito. Biar masih muda, pengalaman hidupnya menurut saya banyak. Pernah Tinggal di dusun sebelah timur Indonesia, sebuah kampung di negara tempat neneknya lahir, beberapa kota besar dunia pun pernah. Belum lokasi jalan-jalannya! sama menariknya! Dari keluarga sangat berkecukupan namun pekerja keras. 

well, anyway…kedatangan blio bulan lalu, cukup membuat saya kaget with WOW effect.

Ternyata, cita cita lama blio adalah membuka perpustakaan di seluruh Indonesia! his pioner libabry in his mother’s house. Untuk mendukung noble-act nya itu, blio butuh donor buku! Jadilah kami bertemu sebentar di gedung kantor,  having conversation with “life-lately” topic 😉  two person with QLC and MLC,  and of course I donate the children books I have, yang umur buku itu…hampir sama dengan umur Ito! :))


he’s the man with cap, btw! And my female single readers, he’s single btw. I dont know whether taken or not, but you can follow him on his IG @chrisel181 to support his noble act. 🙂 …and probably go ask yourself! he lives near by now. 

anyway, waktu blio masih sekolah di belahan dunia sebalah sana, blio menulis ini ketika saya ulang tahun…


hmm….buat yang tadi malam whatsappan sama saya sampai hari mau berpindah, well yeah…the last sentence of his words struck me the most…..in some way 😀

and dear Ito-kun, I know you read my blog every now and then! Happy Birthday little brother! all the best!