malaysia 2022 trip: melaka to KL

Day 3, time to leave Malacca for KL.

We had unpleasant experience, we ordered Grab to get to Central Malakka, but we waited sooooo long. I’ve already booked 3 bus tickets from easybooking.app for 9.15 am.

Once we got the Grab, it was an old taxi with (Maaf rasis) brown driver and he rejected us since we had big luggage and he didn’t bother to open car’s trunk. Zzzzzz it was over 8.30 am something trip to the bus station took 15 mins

Luckly, the hotel’s receptionist knew a call driver, price was higher (Grab fee RM 15 vs rented taxi RM 25), the heck…we didn’t have the choice.

Arrived at Malaka Central, we rushed to the counter to exchange the ticket. Jadi biar sudah booking via app, dapat QR code, kita masih harus tukar dengan fisik kartu / boarding pass. Ya macam tukar tiket kereta di Gambir lah. -____- Tukarnya di counter, bukan pakai mesin. Kena biaya lagi 0.70 cent /booking.

And it was a loooooooonggg line, I was so desperate and asked the young people in front of me. Is it possible to board at 9.15 am since it was 9.10 am already.

It was 3 local young adults taking break before going back to uni I guess, they let us cut the queue and suddenly another counter was opened. Kakak langsung antri di sana ( to save time) I stick to the initial counter. Saya dah gemeteran, booking tiket lagi kayaknya. Ngga mahal sih, bertiga kurang dari RM 50.

And puff…the clerk at the new opened counter was quick, we secured our boarding pass and rushed like hell to the waiting bus area!!! And we made it on time…..fiuhhh….

It was actually my third experience taking long-haul bus in Malaysia, first was in 2011 from Penang to Kuala Lumpur, second was from KL to Johor Baru with the kids in 2013, when #2 poo at the bus. What an embarrassing experience but now we laughed about that.

Off we go to the capital city through a very smooth asphalt. Kenapa di negara sendiri ngga bisa semulus ini aspalnya ya :(.

Suddenly, the bus took exit from toll road and arrived at Seramban Bus Station and many passengers hopped off.

gee I worried I hopped on the wrong bus!! I asked a young lady with her son, she had no idea where the bus is going but she was headed to Penang, I assumed the bus made several stops, not a direct one. Pantes tiketnya murah , ada yang RM 60 an soalnya.zzzzz

Seramban seems a small city but nice. Pamulang kenapa ngga bisa rapih kayak gini ya.

Seramban City – about 60Km away from KL

Another one hour, we arrived at Terminal Bersepadu Selatan. The terminal was nice back in 2013 now it even better. Kakak was sleeping the entire trip, when we arrived at TBS, she thought we arrived in airport.

The clean, modern Bus Terminal

Anyway, we took grab to hotel, the driver was an Uncle who (from what he said) would fly to Bali after Chinese new year.

Nothing special in KL, arrived around 1 pm, we couldnt check-in yet so off to KLCC. We stayed around the area.

Later the night, I met Afiza, Ejah and Aniza!!! What a great union, those 3 girls haven’t seen each other for quite sometime. We played tourist.

Skybar Trade Hotel
Pintasan Saloma

We said goodbye around 10 pm, the girls must work on the next day of course.

Kids off to Bukit Bintang by themselves. They are young adult anyway, no need chaperone anymore, wkwkwkwkwk.

day 4

I contacted Peni, my friend from college who had lived in the city for 10 years. Last time I saw her back in 2015 I think.

Since she was free, she drove us around. To have breakfast in mansion tea stall, Chinatown, Lapangan merdeka, mesjid Jamek (during praying time) later had coffee in Kenny Hills bakers.

Around magrib, we bid farewell. Hope to see her in Bintaro again ;). then spent the rest of the night near KLCC.

Day 5

Time to go home.

Flight was delayed by 3 hours due to severe weather.

I was (of course) broke :)) but it was our first trip since 3 years, kids now grow up, with blink of eyes, I have to paid 3 adult tickets for everything, everytime!!!! Hahahahah!

Malaka

We arrived before 9 am, KL Time. I only brought RM 75 with me (sisa sisa dari Langkawi) which only enough to buy DIGI Sim card RM 40. Saya pikir ATM ada dekat gate keluar. Kurang RM 5 buat beliin #2 SIM Card. hampir mau minjam uang sama orang Indonesia di sebelah wkwkwkkw (tuker sama IDR maksudnya).

My last overseas trip before pandemic outbreak was to Malaysia, and my first overseas trip after pandemic was to this country as well! Ya nasebb, mantan pegawai bank merah-nya LOL.

Imigrasi tidak terlalu ramai, cuma petugas tumben2x minta ditunjukkan tiket pulang. Ambil bagasi, imigrasi cek point, Afiza sudah di depan menunggu saya.

Kami sarapan dulu di bandara, saya cari ATM. Ngga punya cash.

Afiza menyewakan mobil untuk ke Malaka, Toyota Inova! Hish senangnya tidak perlu naik bus. Sekitar 2 jam perjalanan sampailah kami di kota Melaka.

Kami menginap di Swiss Heritage Boutique Hotel, sebetulnya saya salah booking, saya pikir ini jaringan swiss belhotel wkwkkwkwkw.

Karena belum bisa check in, saya jalan-jalan dulu sekitar hotel. Deretan bangunan-bangunan tua yang terawat baik, sebagian kosong, jadi hotel, toko, restaurant atau musium.

Saya pun mengunjungi Baba Nyonya Heritage Museum. Dulunya, bangunan ini rumah milik Cheng Chiew pastiny saudagar kaya raya di jamannya. Furniture di rumah ini masih asli semua makanya tidak boleh duduk. HTM = RM 18

Ranjang Pengantin
Ranjang Pengantin

Setelah shop hopping, check in, kembali menyusuri Jonker Street. Yang menurut saya seperti Jalan Braga Bandung. Campur aduk oranf2x ras China, Melayu dan India. Seru-seru banget. Stall makanannya seru-seru, toko toko, restoran bahkan Mixue. Oh ya, cari makanan halah agak sulit di sini. Kami makan di restoran yang menyediakan Nasi Ayam, enak deh. Lokasinya di dekat pertigaan Jonker Street dan Jalan Tongko. Atau japri saya deh wkwkwkwkwk.

JONKER STREET

Oh ya, kalau malam jalannya ditutup untuk kendaraan, kiri kanan itu pedagang makanan semua.

Sorean dikit, saya ambil River Cruise HTM RM 35/person non Malaysian. Cruise-nya sekitar 5Km bolak balik menyusuri sungai yang sarat dengan bangunan tua dan bersejarah. Duh! Bersih banget! Hampir tidak ada sampah, Cisadane atau Ciliwung bisa dibuat seperti ini tidak sih :-/

Setelah boat cruise, saya menghabiskan sisa sore berjalan sepanjang sungai yang memang ada pedestrian walknya.

Besoknya, saya jalan pagi menysuri sungai. Ish, kalau lari pagi malah lebih terlihat cantik bangunan2x tuanya. Dirawat sekali! Hotel-hotel non-chained hotels juga lucu-lucu deh!

Selesai sarapan saya ke Sky Shore Tower, untuk ke observation deck-nya. Lantai 43, antri liftnya agak parah , lama, dan tidak teratur ya. Bangunan ini hotel dan shopping mall. Cuma toko-tokonya banyak yang tutup. Efek Pandemi kayaknya. HTM RM 25/person.

Dari observation deck, kami ke St Paul Hill. Ada reruntuhan gereja jaman Portugis di sana dan nisan dari orang-orang Portugis tersebut (bayangkan! Dari tahun 1600-an).

Sekali lagi saya salut untuk para wisatawan yang membantu menjaga situs sejarah. Tidak ada sampah bergeletakan, dan masuk situs ini gratis lho. Anak-anak paling suka disini.

Terdapat juga kuburan Belanda di komplek ini.

Turun sedikit beberapa museum, Dataran Merdeka yang penuh wisatawan dan pedagang. Ah saya tidak tahan! Lelah!

Saya pulang ke hotel saja, rencana mau cuci baju di laundry mat 24 jam (saya google lokasi terdekat). Anak-anak lanjut foto-foto! Duh!

Dulu mereka kesal kalau saya foto-foto, sekarang kebalikan. Oh ya, ini kedatangan mereka kedua di negara ini, pertama kali tahun 2013.

Kami cuma dua malam di sini, si kakak tidak sabar pengen ke kota besar! Ish….saya kurang puas.

View from 43rd floor
The ruined church at St Paul Hill
The famous malaka’s landmark
Kampung Morten – the traditional Malay’s houses
My jogging track

Finally! Naik pesawat!

Yeah, you read it.

Setelah 3 tahun tidak kemana-mana (pakai pesawat), akhir tahun ini saya menghabiskan sisa cuti di negeri tetangga. Simple, karena air fare-nya paling murah 😂.

Memang sih bookingnya mendadak, baru dapat lampu hijau cuti akhir December, dahlah hajar aja! Anak anak juga kangen geret koper pasti.

So, here we are, taking 5 am flight from Cengkareng, then another 2 hours to the south…

Jadi, waktu masih kerja di bank pertama, saya suka planning mau ke sini, cuma 2 jam dari ibukota nya kan (where the HQ is). Cuma ngga sempet-sempet terus.

Baru kesampai-nya sekarang, 11 tahun setelah resign dari bank merah itu wkwkwkwk.

Tinggal satu lagi, kota yang pengen saya datangin, Ipoh.

Ntar ya update nya

Pada akhirnya harus “move on”

Update blog ah! 😀

Still related to sudden-impulsive-short trip to Bandung. I haven’t travelled any where, not even Bali or Jogja -___-.

Tahun lalu, selain saya ambil gap year – hence, no fixed income , kasus C*vid kan juga tinggi ya. Literally, di rumah saja.

Bulan Oktober lalu, si kakak tiba tiba nelfon dan menangis. Rupanya sakit. Kombinasi stress mau UTS, makan tidak teratur dan mungkin gizi-nya seadanya -___- akhirnya tumbang juga.

Saya serba salah di telfon minggu siang gitu, akhirnya memutuskan ke Bandung sore itu juga. Cari tiket kereta api, habis! Iyalah, minggu sore.

Akhirnya memilih “Shuttle Bus” C*titrans, keberangkatan sekitar jam 4 sore dan saya tiba di Bandung 3.5 jam kemudian. turun dekat kos kakak langsung jalan kaki dari situ.

And I tell you what, that was my very first time taking shuttle bus / travel car to Bandung. 🤣 begitupun pulang. Ketika kakak merasa baikan keesokan harinya, sore itu saya cari tiket pulang, 3 jam-an kemudian sampai Bintaro. Effortless, compare to travelling with train.

Duluu…saya pernah menulis pengalaman berkesan naik KA Parahiyangan yang legendaris di jamannya, namun akhirnya harus menyerah karena tidak ekonomis lagi.

It was my first time 😂

Saya ingat beberapa pakar transportasi/dinas perhubungan yang menyayangkan kebijakan pemerintah saat itu, pembangunan massive akhirnya berdampak pada moda transportasi lain.

Sayapun ikut-ikutan mellow saat itu, walaupun naik kereta api nya bener bener once in a blue moon, setahun saja belum tentu ada sekali.

At the end, sayapun memilih yang paling praktis. Cari travel dekat rumah dan sampai kota tujuan, cari tempat stop yang paling dekat dengan tujuan.overall cost lebih murah. Dibandingkan saya harus ke Gambir dulu (satu jam perjalanan dengan mobil maupun naik Commuter Line ke Tanah Abang) lalu dari Stasiun Bandung harus naik taxi lagi, begitu pula sebaliknya.

Seandainya kereta regular KA Parahyangan masih adapun, probably I still opt for travel car. Pada akhirnya, kita harus “move on” juga.

PS: i just arrived at home from Bandung, taking one day off – yes…with mobil travel.

(dana pendidikan anak) yang luput disiapkan

Sudah lama tidak menulis. Memang micro-blogging ini (IG, twitter) membuat banyak rekan-rekan virtual saya tidak lagi mengupdate-nya. sayapun malas! lebih sering ngoceh di twitter atau IG story,

Anyway, seperti tulisan sebelumnya, anak pertama saya sudah jadi mahasiswa, kampus impiannya ibunya dulu, tapi gagal 2x UMPTN *bihiks*

Lupa kalau masuk kuliah ada biaya pendaftaran. Sebelum ini si kakak nyoba beberapa beasiswa dari kedutaan dan kampus di luar negri, yaa semua ada fee-nya lah belum test IELTS and/or TOEFL. Karena dapat SNMPTN, makanya harus di drop aplikasinya.

Lalu pas sudah bayar-bayaran, eazy peasy lemon squash, dana pendidikan memang sudah disiapkan dari mereka bayi (itu yang jadi model si kakak lho!), menghitung personal budget sudah bisa lah, pernah ikut traningnya dulu. Tapi ternyata ya… selain uang masuk kuliah (dan biaya hidupnya) ada dana lagi yang luput saya siapkan….gadget penunjang (yang selama ini bisa sharing sama adiknya, sekarang satu anak satu gadget…) 😀 plus biaya pindah-pindahan ya….ahahahhahah! baru sadar!

Saya mengambil cuti dua hari ini, bantuin kakak pindahan kost. wah, printilan anak kost itu banyak juga rupanya! wkwkwkwkwk

Sampai juga saya di titik ini, seperti miliaran orang tua lain sebelum saya (dan khususnya ortu yang anaknya lahir 2003-2004), melepas anak tinggal sendiri, ngatur hidup sendiri.