Adieu Matty

I forgot how did I get to know him, probably from photo-hosting era back in 2008-2009 where I posted pictures in my blog based on theme. Then we followed each other in IG. He liked to left comment also, sometimes corrected me with my very broken Deutsch.

He lived in AZ – been in Phoenix couple of time. The Johnsons live there. unlike any Americans I know, he spoke many languages, since he was exchange student in German and had multirace family, I might said.

Olaf

He posted funny, silly, sometime out of questions pictures. Mostly he posted his dogs, garden he even possessed duck in his back yard! Well anyway, out of question nya, kalau boleh komen, untuk standard moral kebanyakan orang Indo mungkin kelakuan dia bisa dihujat netijen. Hahaahha.

Two weeks ago I was wondering, how I come I never see his feed again, but then I ignore it. Only two days ago I checked on his account and realized last posted was on May 1st. What happened to him, very unusual. He loved his garden, his dogs and other pets.

Anyway, What I mean silly, that day he celebrated national naked gardening day, but of course, he didn’t post nudity, only his bare legs. LOL

Then I clicked his tagged photos, one of his friend post a memory about him.

Dan ntah kenapa saya penasaran lho! Saya lihat tagged photos yang lain, cuma ada dua, yang posting iparnya orang Ukraine. Apa mungkin orang Ukraine ini mirip kebanyakan saudara gw yang banci posting, then one leads to another.

And out curiosity I checked my other socmed, he apparently delete on maybe changed his name, not sure, the I found his in-law account…with a cremation schedule.

Oh Em Gee, I figured out he passed away some time ago in May. I was a bit sad although never meet him in person. Days before he left, he wrote he doubted he’d live until 51 years. :-/, I think he was in late 40’s.

I had learnt this and that in some way. I mean, it is so fun having friend who doesn’t speak your language, have different tradition to yours, etc right?

Phewww….well adieu Matty! Thank you for silly pictures!

dzulhijah

www.instagram.com/p/CRewN4Vpe-j/

Berdasarkan draft novel kehidupan yang kadang saya tulis, harusnya minggu-minggu ini saya lagi di sana. Sore ini mungkin di Arafah.

Well ya, we all know, the decisions.

Decades ago, I thought naik haji/hajj pilgrimage is only a matter of – sign up – make huge amount of deposit – than patiently waiting for your turn – paid the rest of the fee. It’ll take years, that’s why I have signed up fron few years ago.

Ada rasa sedih, for sure. Tapi namanya juga panggilan ya, bener-bener privilege / hak perogratif Allah swt, siapa yang hendak DIA undang, untuk datang ke rumahnya.

Tahun ini kebetulan ada rekan saya, Ira, yang memang 7 tahun terakhir tinggal di Arab Saudi, yang dapat kesempatan itu. Masya Allah.

Happy Eid Adha!

#thingsmoneycanbuy

Movie review : is love enough, sir?

Hail netflix! Sekarang bisa menonton film film asing non Holywood! Well ya, menurut saya, dulu juga bisa tapi terbatas.

Kemarin saya nonton film ini. Cerita seorang asisten domestik a.k.a pembantu rumah tangga, bernama Ratna, seorang janda karena suaminya meninggal. Dan dia dianggap pembawa sial oleh keluarga suaminya.

Hampir mirip dengan kaum proletar negeri +62 ini, Ratna juga memilih ke ibukota (Mumbai) untuk mencari nafkah dan gajinya dikirim ke kampung. Untuk keluarga alm suaminya dan untuk adik perempuannya sekolah. Ratna ingin adiknya jadi sarjana, tidak buru buru nikah. Sayangnya adiknya tidak sabaran! Pengen banget ke Mumbai sehingga bersedia dinikahkan muda (dengan mahar untuk pria yang masuk akal,sehingga orang tua Ratna memperbolehkan).

Adiknya ini tidak menyelesaikan sekolahnya, membuat Ratna semakin geram sama kehidupannya. Cita cita dia agar setidaknya, adiknya sarjana dan mempunyai kehidupan lebih baik, kandas.

Ratna, bekerja dengan Aswhin – civil engineer terkenal di Mumbai – karena berasal dari keluarga kaya property juga. Aswhin gagal menikah, sehingga teman diskusinya di rumah mau tidak mau hanya Ratna.

Ratna sendiri, awalnya ART ibunya Ashwin, dan di tempatkan di rumah Ashwin agar bisa membantu keluarga kecil ini. Sounds familiar ya? Mirip keluarga keluarga di Indonesia juga. 🙂

Anyway, Ratna berniat memperbaiki setidaknya kemampuannya. Dia minta ijin ke Ashwin untuk belajar menjahit saat Ashwin kerja dan diperbolehkan, bahkan memakai uang sendiri.

Ratna akhirnya bisa menjahit baju pesta sendiri dan dihadiahkan Ashwin majalah designer.

“Everybody entitled to have a dream, Ratna”

Melihat tuannya lebih santai kepada dia- sang pembantu – Ratna memberanikan diri bertanya ke Ashwin, cita citanya. ashwin sendiri menolak dipanggil Sir, panggil nama saja. Jelas Ratna menolak.

Ashwin menjawab, sebetulnya tidak ingin kembali ke Mumbai karena sebelumnya memiliki kerja yang membuat dia senang di NY. Tapi harus pulang, di suruh orang tua melanjutkan bisnis keluarga. Sounds familiar untuk ketiga kali +62 dan +91 ini. Ratnapun berkata, orang berduit pun tidak serta merta bisa mewujudkan mimpinya.

Long story short, Ashwin jatuh hati kepada Ratna.

Dan bukan….ini bukan tipe sinetron negeri ini sekitar 1 dekade lalu dimana seorang perempuan kaum marjinal dicintai seorang lelaki aristokrat dan mereka hidup bercukupan bahagia selamanya.

Ratna cukup “tau diri” dan berkata:

“Tidak semudah itu! Kamu tau kenapa saya diperbolehkan kerja di Mumbai? Supaya keluarga alm suami saya tidak perlu memberi saya makan. Itupun saya harus mengirimkan uang 4000 rupee ke kampung!

Jika saya mewujudkan cita cita saya, orang orang itu bisa kehilangan uang kiriman dari saya, pasti abang ipar saya menyeret saya pulang kembali jadi pembantu.

Duh!

Dalam! Deep!

Hidup memang tidak se-simple itu. Untuk sebagian orang, atau banyak orang, mewujudkan cita cita punya konsekuensi yang luar biasa! Merubah ekosistem keluarga terdekat! Sayapun patah hati dengar jawaban Ratna, hiks!

Akhir cerita, dibuat agak menggantung sehingga saya berharap Ratna benar-benar bisa punya butik!

Bukti film India, tidak sekedar joget dan nyanyi dekat pohon! Ah, tapi film Indonesia, juga bagus bagus kok sekarang!

Late birthday gift or early Ramadhan Gift

I found this funny 😀

I had easy ride with male former colleagues yesterday. Only 3 of us, we did have “Gocapan – GOwes CAri saraPAN” every now and then.

When our ride about to end, one of the boys said

“Here, from us! Late birthday gift! We notice that’s the only arm sleeve you have”

Zzzzz…”I HAVE TWO! For God Sake” 🤣

I thanked them of course! A nice surprise and secretly murmuring to myself “one of you guys probably had plenty of this”

I reminded the episode again, my male closest friends, Edy and Dony never did such a thing! I dont think so! Liz the one who always leaded them 🤣

But hey, I found it cute tho’!

The Gift

Actually, I had those arm sleeves with exactly the same brand, but it was torn when I had the bike accident last September.

Thank you Boys! You guys are too sweet and too silly!

Adek bangga kok…

Jadi ketika saya merasa pilihan yang saya buat itu salah, rasa gelisah benar benar menghantui saya.

Saya sampai menangis di pagi hari, mencari keberadaan ayah saya, layaknya saya di usia 5 tahun!

Memang banyak yang bilang, setua pun apa anak, tetap butuh approval orang tuanya, sekedar afirmasi.

Menjelang malam, di meja makan, anak bungsu saya bertanya. Kenapa gelisah.

Saya beberkan semuanya dan berkata:

“Bunda cuma pengen Totok (panggilan anak anak untuk ayah saya, harusnya Atok/atuk/datuk, tapi si kakak sebagai cucu pertama dulu manggilnya Totok, ya ke terusan), adek sama kakak bangga sama bunda. Bunda malu, gagal lagi di umur segini.

Seraya mengunyah makanan, si bungsu berkata

“Adek bangga kok sama bunda, bunda kan single figter”

Lalu air mata mamak mengalir…deras.