Loop hole generation

Tulisan di atas caption dari IG teman saya kuliah, Novita, termasuk judul.

PPDB = penerimaan peserta didik baru.

Anak dia yang pertama, bersama dengan anak kedua saya, tahun ini masuk SMA.

Cerita sedikit. Ya, kedua anak saya cuma selisih 1 tahun academic year. Saya sudah tulis sebelumnya, tahun lalu, si kakak masuk SMA, jadi tahun ini giliran si adek.

Dan selama mereka SD-SMP, atau sekitar 10 tahun untuk saya, kedua anak saya sekolah di swasta berbasis Islam. Swasta di sini = tingkat ekonomi yang hampir sama. Bahkan SMA si kakakpun swasta, walau kini bukan berbasis agama lagi.

Awal tahun ini juga, si adek mencoba salah satu sekolah swasta, SMA A dan keterima, sekolah yang berbeda dengan si kakak, karena dia mengukur diri chance untuk keterima kemungkinan kecil.

Namun setelah itu, dia membatalkan. Alasannya mau coba sekolah negeri dan saya tidak membayar uang pangkal, simple karena jumlahnya lumayan. Kalau batal ambil sekolah tersebut, uangnya dianggap hangus. Jadi gambling juga nih.

But anyway, saya dan si bungsu berkeyakinan, bisa diterima SMA Negeri di Tangsel, unggulan pertama dan kedua, sebut saja begitu.

Lalu loncat di akhir Maret, ketika Pak Menteri megumumkan membatalkan Ujian Nasional karena dana UN akan dialokasikan untuk penanganan pandemi COVID. Hal yang menyenangkan untuk anak-anak (kalau….sudah dapat SMA swasta…hehehhe)

Lalu penerimaan SMA Negeri, selain memakai jalur zonasi (domisili tempat tinggal) juga menggunakan nilai akreditasi sekolah. Oh ya, jalur zonasi ini spiritnya juga untuk menhilangkan kata “SEKOLAH UNGGULAN”

Di sini kesalahan saya dimulai tapi saya tidak menyadarinya. Saya tidak mempersiapkan sama sekali informasi tentang ini, bahkan ketika proses anak saya mendaftar. Karena di otak saya kalau tidak keterima negeri, saya mau coba lagi ke sekolah swasta yang si bungsu tuju pertama kali…karena…toh tahun-tahun sebelumnya setelah pengumuman sekolah negeri, ada lagi bangku kosong yang ditinggal calon siswanya.

In between, saya dengar beberapa demo dari para orang tua, karena tahap pertama penerimaan SMA negeri (di Jakarta ?) ini…lewat usia lalu terjadilah demo. Lalu kabar bahwa anak-anak kelahiran 2005, otomatis mental dari zonasi ini…sort of.

Dan dramapun dimulai akhir Juni, tengah malam…pengumuman penerimaan murid baru, anak saya mental dari sekolah negeri unggulan di wilayah kami tinggal, tanpa alasan yang jelas, karena nilainya seharusnya cukup. To note, penerimaan wilayah kami tinggal memang dirasa tidak transparan. Beda dengan DKI yang bisa diawasi Online.

Kami down banget, nangis semalaman. Pagi hari mencoba menghubungi sekolah A itu, kabarnya penuh. Coba tanya beberapa sekolah swasta yang cukup baik, full semua. Yang membuat saya menelan pil pahit pagi itu, salah satu sekolah swasta yang cukup baik dekat rumah, katakanlah SMA B, baru saja menutup pendaftaran sekolah. Asli siang hari itu tidak bisa konsen dan marah-marah sama keadaan, termasuk ke anak sendiri. Semua sekolah bisa penuh, ya karena penerimaan sekolah negeri lain dari biasanya, tidak ada yang mengudurkan diri sepertinya.

Sudah lebih tenang, saya mencoba mencari sekolah swasta lain walaupun hati kurang sreg. Namun ternyata si kakak, mencari info sendiri dan dari dia saya tahu masih ada kesempatan untuk SMA Negeri…di Jakarta! Waktu kami menyadari, sudah terlambat sehari. Sisa dua hari, namun si kakak yang bantuin semua dokumen yang diperlukan. Diupload ke sistem.

Untuk penerimaan SMA Negeri ini ada beberapa jalur: Zonasi (dengan batas umur), afirmasi, DKI prestasi akademik dan prestasi akademik non DKI (porsi paling sedikit).

Kami mencoba jalur akademis non DKI di malam kedua mental! Besok siangnya mencoba lagi…dan diterima di SMA Negeri di Jakarta yang hits pada jamannya dulu, jam 12 siang…nomor 4 dari 5 kursi tersedia. Segala doa dipanjatkan :))…sampai cut off time jam 3 sore, posisi ini tidak berubah. Pengalaman PPDB saya yang pertama dan sepertinya yang terakhir juga.

Setelah proses ini selesai, tentunya, ada hal yang disimpulkan

  • Memang seharusnya SEKOLAH Unggulan untuk negeri itu tidak ada ya, semua guru dan murid harus upgrade diri.
  • Untuk umur, dari awal pemerintah punya aturan sendiri masuk SD negeri ini. Celah ini dimanfaatkan kelas menengah (seperti saya) dengan memasukkan anakknya ke sekolah dasar swasta. Ketika peraturan ini ditarik sampai sekolah menengah, akhirnya “ribut”.
  • Balik lagi ke umur, ternyata banyak anak “umur tua” baru sekolah tahun ini karena…simple…ngga punya biaya. Walau sekolah negeri gratis, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan toh? Jujur aja, berapa orang dari kelas menengah ini yang kenalannya — punya nomor WA — nenek tukang sapu, tinggal dengan dua cucu karena orang tua mereka sudah meninggal (this is true story, I didn’t make it up…). We live in our bubble, hidup dengan pembenaran sendiri.
  • Selain itu, beberapa orang juga melakukan pindah kartu keluarga, demi mendapat sekolah negeri unggulan yang dituju. Tahun ini, mental tidak terpakai (karena kalah sama “umur”). praktek yang dilakukan bertahun tahun, dismissed. oh Corona, efekmu memang luar biasa!
  • I somehow agree dengan tidak terpakainya nilai UN (ujian 3 hari?) vs nilai akreditasi (nilai 3 tahun sekolah dikalikan nilai akreditasi sekolah). apapun bisa terjadi di 3 hari ujian Nasional. Proses belajar ini kan semacam lari marathon harusnya. Sekolah maupun siswa, harus sama sama strive for the best.

Kenapa saya tampilkan status Novita? karena kondisi itu yang terjadi pada kami dan kami tidak berdua. Bahkan Novita ini, anaknya lahir tahun 2004 lho! yang saya pikir, harusnya lebih mudah.

Dan buat saya, yang padahal sekolah menengahnya di negri juga, sempat “shock culture” sebentar. Anak bungsu saya sekarang bergaul di luar “bubblenya”, teman dari latar belakang ekonomi yang lebih beragam (yang bapaknya narik ojek juga ada) bahkan teman bergama lain.

PPDB makin mempererat kami. Di Jumat malam si adek ke kamar dan menangis! Dia berterima kasih saya tidak pernah maksa dia untuk juara 1, harus jurusan tertentu, harus A dan B. Ntah apa yang terjadi dengan temannya yang lain. Somehow, saya bersyukur dengan pilhan dia. Semoga yang terbaik!

PS: tetep yaaa ada aja netijen model gini ” :/ sad!

Who hurt you?

2 thoughts on “Loop hole generation

  1. Mbak, bacanya sambil deg2an aku. Alhamdulillah. Semoga yang terbaik untuk semua ya. Semoga adek juga senang sekolah di sana. Aku suka dgn kalimat “hidup dengan pembenaran sendiri.” Itu yang maksudnya sekolah gratis, sekolah negri ya?

  2. Iyea Den. SMA negri Jakarta dan Tangerang gratis. Tapi kasus sekolah anakku, tetep ada uang sumbangan lah (buat kegiatan) tapi jumlahnya ngga fantastis (sate Ondomohen kurang dari 10 porsi lah). Ini aja susah banget keluar angka segitu, sementara sekolah kagak berpuluh kali lipat angka itu, ngga ada yang protes selama bisa dicicil

Leave a Reply to sikiky Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s