la dolce far niente

Dua tahun lalu saya posting ini, ringkasan percakapan between me and my old friend. Teman dekat banget sih engga juga, but he’s one of those who happened to be there in each of my milestone.

Minggu lalu, kita kumpul lagi. Rencana berempat, Liz ngga bisa datang. mendadak ke dokter. Buat saya pribadi, ketemu mereka kayak terapi lah. makanya saya suka banget quote ini :

img_2181

Sometimes having coffee with friend is the only therapy you need

Berteman lebih dari separuh umur (dari SMA kelas 2) mereka kan ngerti, saya dulu ngapain aja, salah-benernya dimana, naksir siapa, berantem sama siapa, kayak gitu gitu deh :))

Anyway, seperti yang saya tulis di situ, Don had his Doctorate in Bologna, Italy.

Kemaren ngobrol sana sini, tiba-tiba saya ingat, saya ngga pernah ngeh Don dulu kuliah apaan, terus ngapain aja. I even skipped the fact, he also lived in London for two years. Yang saya ingat, dia ngga jadi kasih oleh-oleh dari Italy karena tasnya kebuang :)) itu yang saya “ungkit” terus sampe 8 tahun kemudian.

Ya sudahlah, dia cerita waktu di Italy jalan-jalan kemana saja. Kalau saya ada rejeki ke Eropa lagi, saya ingin banget balik ke negara ini sama papa (well ya, beside for London for the Marathon)

3 yr old me and mom in Trevi Fountain

Banyak yang bilang sih, kalau ke Italy, ya khusus di negara itu saja. Sangat menarik di setiap kota walaupun sovereign risk nya tinggi. #halah. Diselamatkan oleh keagungan Romawi. Konon kalau ke Spanyol juga gitu sih. Don also told us, how laid back the people are. They do art of doing nothing, il dolce far niente. Kalau orang Jepang kesana bisa stress kali saking laid back nya.

Tiga tahun menuntut ilmu di negara itu, tentu Don sudah  kemana mana, bahkan sampai ke selatan tempat mafioso. ish kesel dengarnya. orang banting tulang belajar dia masih bisa jalan jalan lulus nilai memuaskan pulak, sampai profesornya menawarkan untuk ngajar di salah satu universitas di Eropa situ! Some people…. dasar otak encer!

So he came up with these cities kalau saya mau liburan 2 minggu.

Dengan rincian,

Masuk Italy ke Milan, keluar dari Rome. Penerbangan dari Indonesia (ntah transit mana) bisa masuk dari 1 kota lagi, tapi saya lupa.

Milan 2 malam

Venice 1 malam – tapi kalau bisa mampir Verona yang femes dengan cerita  Romeo and Julliet

Florence 2 malam – naik pesawat ke …

Napoly 2 malam

Rome 3 malam

Spare 2 malam di jalan. Yah nasib, cuti Banyak ngga bisa sebulan diambil :))

Besoknya, hari Senin. hari kejepit nasional. Suasana seperti hari Jumat. Saya browsing donk, berapa lama naik kereta between those cities. Sebaiknya apa yang dilihat lebih dahulu, ke menara Pisa dari Florence gimana, dll dll. Semangattttt banget, macam ada budget buat jalan jalan lagi. Tapi kan kalau ngayal harus detail ya! Pas kejadian kita tahu harus ngapain, lebih mudah eksekusi rencana! Sepakat kita?

Cetak cetek tuts komputer heboh lalu..

Bossku saya ke meja

Bellissimo!!!!

Ketahuan ngga kerja!

6 thoughts on “la dolce far niente

  1. Mbak Ky, kami 18 hari di Italy aja belum tamat itu, masih yang bagian atas saja. Makanannya benar2 ngangenin. Ga mau mampir Lake Como nih Mbak? 😁

  2. Mbaa itu “itin”nya mirip tipis sama pas aku ke itali bareng temen-temen dulu tahun 2008-2009 di sini deh hahaha, anak kuliahan kere modal nekad judulnya😁

    Dulu kami pergi 8 hari, starting point-nya dari Pisa (nginep 2 hari, kami taun baruan di sana), trus ke Florence (pp dari Pisa), Milan (2 hari), dari Pisa ke Venice (ga nginep karna hotel mahal!), trus ke Roma naik night train (di Roma nginep 2 hari), kemudian balik ke Pisa lagi buat balik ke Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s