That Short Trip to KL

The reason of my impulsive trip to Kuala Lumpur,

Nope, it wasn’t birthday trip like my friends had guessed.

Senin malam, saya mimpi teman saya, dipanggilnya Gai. Saya kenal dia waktu saya ke KL tahun 2013, dikenalkan Farah. rencana awal mau ikut Half Marathon SCKL yang akhirnya dibatalkan karena bencana asap. And as I wrote here, she was the one who picked me up before the run.

Pendek kata, Farah, tiba tiba whatsapp saya selasa pagi.

Oh em gee, kok bisa gitu ya? Mimpi katanya bunga tidur, jadi semacam notifikasi.

Farah shared Gai’s picture awal januari. Saya tidak mungkin share di sini, tapi di foto itu Gai – walaupun terbaring di tempat tidur- masih terlihat seperti orang sakit tipus atau demam berdarah misalnya. lemas, tapi masih “aware” sama sekitar. Kira kira gitu deh. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan mau visit Gai.

Saya teringat sebuah hadist,

“Hak orang sakit adalah di jenguk”

Kalau browsing sedikit dapatnya ini :

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Padahal saya tidak terlalu dekat ya dengan blio, setelah saya ke KL tahun 2013 itu tidak pernah ketemu dia lagi. Paling sambung silaturahmi via whatsapp, komen IG atau FB. Dia sering posting foto, and she alwyas look gorgeous! Fashionista kalo teman temannya bilang.

Anyway, saya contact teman saya yang lain, Ejah dan mengabarkan saya mau ke KL di akhir pekan. Jawaban Ejah bikin hati saya down sih, karena dia bilang

“she may not stay that long

Ejah sendiri ternyata ke Indonesia di hari Jumat, jadi tidak bisa menemani saya.

ternyata Hari Selasa sore itu, kondisi Gai drop signifikan.

Pendek kata, saya akhirnya jadi ke KL hari Sabtu, menginap di apartemen Aster, (terima kasih banyak Aster, dua kali dalam tiga bulan terakhir saya repotin!!!) dan waktu jenguk ke rumah Gai kami ditemani Aniza. Aster orang Indonesia juga yang kerja di KL, kebetulan rumahnya di Ampang tidak terlalu jauh dengan rumah Gai.

Saya visit Minggu siang, ekspektasi saya Gai masih bisa mengenali saya dan Aster. walaupun tinggal sekota, Aster juga sudah lama tidak berjumpa dengan Niza dan Gai.

Realitanya saya shock luar biasa, karena dari foto yang dikirimkan Farah (foto dari awal Januari) sudah berubah signifikan dengan kondisi Gai saat itu. Hanya selisih 2 minggu!

Ibu Gai datang dari Sendakan, Sabah (malaysia bagian kalimantan), setelah memperkenalkan diri, saya langsung memeluk Gai dan jatuhlah air mata saya tidak terbendung.

She was diagnosed with cancer, then it goes to her brain and spine. She was laying very weak on that bed and lost a massive weight.

Susah membayangkan diri jadi orang tua Gai, umur 78 tahun, penglihatan, pendengaran, bicara masih baik dan masih bugar, melihat putri semata wayangnya meregang nyawa depan matanya, tanpa dia bisa buat apa apa.

Pun ketika saya melihat kedua anak Gai (sekitar 16 dan 12 tahun) yang menatap nanar ibunya. Perih banget rasanya hati ini. Ingat anak anak saya.

Sore hari Niza mengajak saya pamit. Karena juga banyak saudara dia yang datang.

Yang saya suka dari orang2x Malaysia ini, tidak ada yang “rewel” bertanya :

kenapa? Kok ngga dibawa ke sini?”

“Kok ngga coba ini?”

“Sudah perawatn apa saja?”

Dll

Dst

Atau pertanyaan sejenis, Yang bikin saya kadang ingin merobek mulut yang nanya. Waktu saya pamit ke suaminya pun kita ngobrolin lari, dll, karena ternyata suaminya kerja di head quarter kantor saya yang lama.

Ibu Gai sepertinya senang ketika tau saya jauh jauh datang dari Jakarta. Dia cerita dengan bahasa Melayu campur bahasa Inggris banyak sekali teman dan kerabat dari datang. Ya gimana ya, namanya orang tua, kalau anak kita di appreciate banyak orang, pasti merasa bangga, in some extent, didikan mereka berhasil.

Anyway, waktu saya pamit, I hold her hand again for the last time and whisper

“Dear, waktu kamu bayarin saya makan dulu, saya janji bakal traktir kamu kalo kamu ke Jakarta.

Maaf, tampaknya janji saya itu tidak akan saya tepati! rencana kita race bareng di Gold Coast Marathon seems not going to happen either. Not in this life.

I know it must be painful, saya yakin kamu kesakitan. But thank you, thank you for waiting for me. You’re very strong! if this will be the last time I ever see you, then we’ll meet again on the other side”

Malamnya, saya mimpi blio lagi. Probably saying Thank You, not sure.

Saya kembali ke tanah air hari Senin, dan begitu pesawat mendarat, saya dapat kabar dari Farah, sahabat kami telah berpulang.

Selamat Jalan, our fashionista runner!

Kiri kanan: Aster, Farah, saya, gai.

Btw, semua yang saya ceritakan teman lari saya, bukan teman sekolah. Heheheh. Almh sendiri pernah ikutan 100K beberapa kali, terus Full Marathon yang looping gitu puluhan kali. That’s mental game!

5 thoughts on “That Short Trip to KL

  1. Jadi inget temen-temen ibuku, banyak yang pergi karena kanker juga padahal masih muda. Emang umur nggak ada yang tau ya mbak, semoga Gai diberikan tempat indah disana. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s