Minggu Meracau

Kecendrungan saya sekarang, i followed random foreginer in my IG account. asli randomtapi lebih mem”bumi”. bukan Nomanden yang backpack kelililing dunia gitu. as much as I love travelling, pulang ke suatu tempat yang saya sebut “rumah” masih mejadi prioritas saya.

How random? misalnya nih ada seorang perawat tinggal ratusan km dari Kuala Lumpur, remaja Korea yang lagi kuliah di Wellington, PNS Malaysia tinggal di Penang, pelari yang tinggal di Amnecy Perancis, imigrant dari Mexico yang sekarang tinggal di Santa Monica, bahkan yang tinggal Saskatchewan, Kanada yang isi IG-nya putih semua beberapa bulan belakangan ini sampe pernah ada beruang di samping rumahnya.
nah kebetulan mereka ini lumayan sering posting keseharian mereka. dari urus keluarga, bersenang senang sampai pekerjaan atau sekolah. salah satu dari mereka pernah ngirimin saya resep masakan.

Saya memang suka bertanya tanya, “what is like to live at that part of the world”.  makanya suka banget baca tulisan-tulinsa di matardornetwork.com

Salah satu kota lapis kedua


Anyway…If I can draw a conclusion, their life surely not easy…ada yang harus cerita stok makanan sebelum badai salju datang, ada yang  cerita harus menyiasati belanja karena kota kecil pilihan juga sedikit,  dll dll. beda banget sama kehidupan saya sekarang, when everything is one click away. The perk of living in big city, I must say..but on the other hand, they survive and their life (seems) very content. Ya, posting di socmed banyak yang “nipu yaaa“. Yang di posting kan yang  bagus bagus saja. Tapi saya yang tukang ngayal ini, berpikiran kehidupan mereka seimbang saja. 24 hours- well spent. No time wasted di jalanan.

saya – most of my life – tinggal di kota padat penduduk. waktu masih remaja sih, biasa aja. atau mungkin keadaan belum seburuk sekarang ya…
But lately, Ich habe die Nase voll!

Waktu saya seumur si Kez, salah satu ibunda teman sekolah saya cerita ke guru les kami : 

“Duh, pak! Saya telat 5 menit keluar rumah anterin Ferdian, sampe sekolah (lalu kantor) bisa beda 45 menit”

Lebih dari dua dekade berikutnya, keadaaan ini tidak berubah. And it seems getting worse. Semakin saya baca artikel dari berbagai tempat di dunia seperti di web matador tadi,  semakin mikir kayak gini. bukan dari negara maju ya,  mostly dari third-world-countries juga.

Kalau ada bakat rasanya pingin buka bisnis di kota kota lapis kedua Indonesia (modal nanti dipikirin belakangan, hhahah), sekalian nikmati hidup walaupun fasilitas  tidak selengkap ibukota. Tapi saya belum ketemu sama orang orang kaya gini. Pengen denger cerita perjuangan mereka.

Now I wonder if is it normal?


Advertisements

8 thoughts on “Minggu Meracau

  1. mimpi gw buka usaha di Labuan Bajo atau di Ruteng atau dimanapun kota lapis kedua atau ketiga Mba, tapi ya itulah, sama kaya rencana immigrant dulu, penakut gw 😦
    mau tinggal di Labuan Bajo masih mikir sekolah si Cici, kayanya kalau dia dah lulus SD paling pas ntar, abis itu home schooling aja.

    Ada temen baik gw waktu kuliah, dia anak Teknik Lingkungan, sejak kuliah merantau ke Palu, ikut suami dan mereka disana buka usaha konstruksi (suaminya Teknik Sipil), survive Mba, sampai sekarang dia ga punya social media lho, whatsapp aja ga ada

    Simple life kan, looking forward to have it, jauh-jauhlah rasa takut.

    • Kalau saya sih karena ya itu…penasaran hidup di negara lain kayak apa…ahahhaha. Pengen nyari orang biasa yang tinggal di south america countries belum ketemu. Rata 2x yang suka ngoceh di IG emang orang malaysia juga heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s