If only…

Just like any Ramadhan Night, saya sholat taraweh. To be honest, saya baru ke mesjid 2 mingguan ini aja sih. Agak malas rasaya di minggu pertama, ramai dan acap kali shaf “berantakan”. You know what I mean lah yaaa? Sering sulit  disuruh merapatkan barisan dengan alasan “mau dekat AC” sampai malas geser sajadah. I prefer smaller “group” then, kayaknya lebih mudah dikasih pengertian sama yang berwenang.

Namun seminggu setelah 1 Ramadhan, apalagi weekend, pasti sepi kalau daerah perumahan suburb kayak di Bintaro ini. Lebih banyak yang milih buka puasa di luar atau dekat kantor kali yaa. Macetnya juga gila-gilan. Bukannya sok alim sih milih ke mesjid , koleksi bacaan saya susah nambahnya -___-
Anyway, di mesjid dekat rumah, buat jamah  perempuan ada dua tempat, lantai bawah dengan space yang lebih kecil dan lantai atas yang  space-nya lebih luas.

Awal-awal masih milih di atas, lantai bawah penuh. And no surprise, saat saat seperti sekarang, jumlah jamaah ada “kemajuan”, makin mepet ke depan. Jadi saya milih di lantai bawah saja.
Actually, lantai bawah ini memang dikhususkan untuk mereka 🙂

Jadi kerap ada pemandangan ada 2-3 ibu-ibu  yang usianya tampak lebih tua dari ayah saya yang sholatnya di bangku. A self reminder, sometime in the future, mugkin saya seperti mereka.

Saya suka terlambat datang, ada yang harus saya urus dulu sekitar jam 7-an. Tokonya teman saya yang saat ini lagi di luar negri. (I’ll post my story as Chief Operating Officer jadi-jadian ,next month deh, ketika tugas ini selesai). Sehingga saya sering dapat tempat paling ujung.

Beberapa hari yang lalu, saya dapat di tengah. Tidak  banyak yang datang, kalau ngga salah karena hujan. Selesai sholat seperti biasa, kita kan salam-salaman sama jamaah lain ya. Sayapun begitu. Saya salam kepada ibu-ibu di sebelah saya. Yang kulit tangannya sudah tidak elastis lagi.

Reflek, saya mencium tangan mereka.

Keluar dari ruangan, tiba-tiba saya nangis. Ada rasa rindu disitu. Saya rindu mencium tangan mama. Hal yang ketika beliau masih ada, hanya saya lakukan ketika tidak beragumen dengan beliau atau ada maunya. Malam itu tiba-tiba saya kangen mama luar biasa sampai besoknya saya masih nangis di kereta. If only I could hold and kiss her hand again, Ya Allah! Even it’s only for 1 second! 

pp

The only place that I can kiss your hand now, is in my dream

Bukannya ngga ikhlas, namun kangen dan penyesalan itu pasti ada kan ya? It has been 2 hijriah years. 

For those who still have a complete and healthy parents, don’t take them (and their health) for granted 🙂

Appreciate what you have, because 2 hijriah years ago, life  taught me to appreciate what I have lost!! 

Another 3 nights before Idul Fitri! Have a blessed holiday! 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “If only…

  1. Sejak 4 tahun lalu, bulan Ramadhan juga jadi lebih “spesial” buat gue karena gue ditinggalin Abang gue di bulan ini 😦 And kangennya sama dia juga makin bertambah di bulan ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s