back to Sentul!

Beberapa waktu terakhir, saya merasa kembali ke titik rendah hidup saya. Penat! Sehingga sepertinya saya membutuhkan udara segar (literally!) 

Saya pernah cerita di sini,  sarana ‘komunikasi’ saya sama The Almighty adalah ketika saya lagi trail run. Saya, suara alam dan Dia, kerap lebih ampuh dari sujud panjang selesai sholat.

Akhirnya, hari minggu lalu saya kembali ke Sentul, rute trail beginner Km 0 – Pondok Pemburu. Sekitar 10km pp.

girl in red


Bukit Hambalang. Never get tired of this view


Rindu Tanah Basah 😉

Sudah lama sekali tidak ke Sentul, terutama rute Pondok Pemburu. Terakhir ke Sentul bulan Agustus sepertinya itupun cuma sampai Bukit Hambalang. Bulan May ke rute yang lain.
Kemarin, tidak seperti biasanya, jalan ke Pondok pemburu banyak rintangan, banyak tanah longsor.

Mungkin bulanan musim kering menyebabkan akar pohon melemah, dan ketika hujan lebat, sang akar tak kuat menanahan laju air. mungkin!

Di tengah jalan, saya bertemu seorang ibu. Sepertinya sedikit lebih muda dari saya. Kami hanya berdua, teman saya sudah jauh di depan.

“haduh, teh. longsor tanahnya. kebun saya hancur deh”  berceloteh dengan logat Sunda yang kental. Sembari melihat ke kebunnya di atas. Dua – tiga meter dari jalan.

Saya hanya tersenyum miris sembari melihat “campuran” stek batang singkong dan tanah basah. Lahannya hancur! sebagian. Jalan setapak menuju Pondok Pemburu hanya tersisa untuk 1 kaki. Biar kebayang, betapa parahnya longsor.

“Mau ke Pondok Pemburu ya,Teh? olahraga? hati hati ya!” Lanjutnya lagi ketika saya permisi minta jalan.

Saya tersenyum tambah getir. Walaupun “mesin uangnya” hancur, dia masih sempat mendoakan saya!  Tiba di Pondok Pemburu, lara saya sedikit pupus. berkali-kali ke Pondok Pemburu, kemarin cuacanya paling bagus! cerah namun tidak panas.

 

Shoe-Fie!

Sayapun tiduran di rumput, hal sederhana yang menjadi mewah karena tinggal di TangSel dengan lahan rumah yang sempit dan ketiadaan Taman Kota. Semua lahan kalau tidak disulap jadi perumahan, ya ruko. Memandang langit biru, kiri kanan pohon pohon dengan semilir angin serta suara decitan burung.

sometimes the best thing in life is free.

Setelah itu saya beristirahat di pondok pemburu.  Di sana kami bertemu beberapa trail walker dari Korea yang sudah berumur. tapi masih sehat. Sebagian dari mereka bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik. Mereka membawa bekal sendiri berupa Kimchi dan sayuran. Konon mereka mau melanjutkan di Cisadon atau Bukit Malang. saya malah belum mendengar rute Bukit Malang. -__-

Ah, mudah mudahan  ketika saya seumur mereka, saya tetap sehat , tetap bisa nge-trail seperti mereka. Saya berjalan kembali ke Km 0.

Menikmati kesendirian saya, kepeleset di tanah basah, sembari mendengar suara aliran air, dahan pohon yang patah serta bunyi bunyi serangga. Atau ntah suara binatang apalagi.

Saya bertemu lagi dengan si ibu, yang dengan semangatnya merapihkan kebunnya yang rusak dengan parang dan cangkul.

“eh, udah balik Teh!”  teriaknya dari atas. Suaranya riang.

Kembali saya tersenyum getir, ah! merapihkan rumah tempat saya berteduh yang sangat layak itu saya suka malas!

“Hati hati jalan pulang, teh! minggu depan datang lagi ya! nanti saya bersihkan longsornya”

Ntah siapa nama si teteh. She just teach me a lesson. “Mesin uangnya” hancur, dia seakan tidak peduli. Just fix the mess, life goes on for her, rejekinya sudah dijamin!

Air mata yang sudah saya tahan tahan sejak pertama bertemu blio lebih dari sejam yang lalu akhirnya tumpah juga. He gave me the answer again, to fix my mess!

update: 

akhirnya saya cerita kegundahan saya ke teman SMA. ini komentar salah satu dari mereka:

ki…planning kadang ga sesuai kenyataan…tp tetap syukuri apa yg kita capai smp skrg ini…dan buat planning lagi….

Advertisements

8 thoughts on “back to Sentul!

  1. sometimes the best thing in life is free…suka banget

    kadang orang yang secara duniawi “dibawah” kita mengajarkan lebih
    gw juga sering menemukan orang – orang kaya si Teteh
    pas kejadian Merapi meletus 2011 kita kesana ngedrop bantuan
    yang ada di tiap desa dimasakin enak – enak mulu
    padahal mereka sebenernya lagi susah..hiks terharu memang

  2. Kak.. pemandangannya bagus bikin hati adem..

    Orang seperti ibu itu bikin inget tentang kehidupan, supaya aku ingat buat lihat kebawah. Dan bahwa kadang mereka yang kita anggap tidak cukup justru bisa lebih bahagia dengan caranya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s