Not really working on it

gw lagi buka timeline FB gw. Ada status Pak Philip, suaminya Sinta.

ada foto kartu ucapan lalu caption awalnya “pernah sedih karena anak sedih?” Yaaa kira kita gitulah.

Gw screen cap statusnya

Bagian anak mereka bersih-bersih locker di hari terakhir bikin mata gw berkaca-kaca.

Ingatan gw terlempar di bulan May 1991. Gw yang waktu itu seumur Salman juga termangu setengah jam di depan loker gw. Yellow Hall,  Travis JHS.
Jadii, sekolah gw dulu ada 4 hall (yellow, orange, green and blue). Orange dan Yellow hall adanya di lantai satu.

Hari pertama sekolah, gw dan beberapa teman ESL  ( english as second language) dapatnya yellow. Hall. Deket-deket ujung langsung pintu keluar menuju ruangan musik.

Karena kelas gw banyakan di daerah orange hall, teman-teman ESL pada pindah ke orange.

Gw stayed di yellow hall, karena teman dari Indo kebanyakan di Yellow Hall juga walaupun mereka di ujung hall yang lain.

Gw saat itu, awam banget sama locker.

Selalu gagal buka loker walaupun caranya udah bener. Dan gw masih inget caranya:

Putar knob sampe dua kali angka 0, putar angka pertama ke kanan, putar angka kedua ke kiri dan angka ketiga kanan lagi.

Kalo udah panik, loker ngga bisa kebuka, pasti minta tolong murid lain bukain yang kebetulan lewat. And yes, they were very helpful eventhough i’m a foreigner.

Anyway…at that time of courseeeeee 

Gw ngerasa anak SMP paling cool seduniaaaaa! 

Gilak gw punya Loker macam   Kris Witherspoon yang suka pesawat-pesawat film series Our House atau si  DJ di Film Series  Full House man!!! =)) *contoh kasus penyingkap umur*

Buat kalian yang seumuran adek-adek gw kayaknya ngga tau deh mereka siapa ya dan film seriesnya tentang apa! Ha!

And everything must come to and end, datanglah hari itu penghujung bulan May, hampir seperempat abad yang lalu #tsahhh

Sehari sebelumnya gw sudah bebersih loker Gym, balikin baju gym (baju dipinjemin)
Hari terakhir sekolah sebelum summer break, libur panjang di sana 3 bulan baru masuk lagi awal September biasanya,  alm mama dan papa jemput ke sekolah sekalian pamitan sama guru-guru.

Another 1 month and half, we would be back to Jakarta. 
Biasanya gw buka loker banting sana banting sini, naro buku juga gitu :))

Kali itu pelannn banget.

Tinggal kertas-kertas PR, buku buku sudah dibalikin. Buku-buku dulu dipinjamkan dari sekolah.

Gw selusuri lagi loker gw, kayak pengen tau rasanya megang loker ini untuk terakhir kalinya.

Dingin.

Dan karena teman-teman ESL pindah loker ke Orange Hall, ya kiri kanan gw ngga ada orang.

I made a pray, semoga saya bisa lihat sekolah ini lagi…liat loker ini lagi, dua deretan dari ujung dekat pintu keluar menuju Kelas Musik.

Namun Saya lupa keinginan itu, lupa bahwa saya pernah menatap loker saya untuk terakhir kali.

sampai saya baca status Pak Philips.

Sinta, ibunya Salman mengirim via whatsapp foto waktu Salman membersihkan lokernya, sesaat gw cerita gw nangis baca status suaminya. :))

Tapi rasanya ngga etis posting foto Salman di sini yaa belum ijin mamanya and he’s not my child either walaupun fotonya tampak dari belakang.

Anyway,  sampai 24 tahun kemudian…keinginan itu belum kesampaian.

Ngga ada tanda akan kesampaian juga.

I feel bad for my self, i realize i never really work on my dream. Always afraid to do something different. May be karena lingkungan saat itu memaksa begitu. Semua diurusin.
While for salman, if he wants to see his locker back…he still has a lot of chance to do so πŸ™‚
For the first time in my life i envy to someone half my age :))

Advertisements

13 thoughts on “Not really working on it

  1. Aaa, jadi teringat waktu training di Jepang selalu sebelum kerja, kami harus ganti baju seragam dulu di loker. Dan waktu itu ada loker dengan tulisan nama gue…Dan walaupun gue bukan ABG, gue juga merasa bangga dengan adanya loker bertuliskan nama gue tersebut πŸ™‚ Dan setelah masa training selesai dan gue bersiap-siap untuk balik ke Indonesia, di hari terakhir di sana gue juga sempat ngusep-ngusep tuh loker dan ngajak ngomong dia sambil berharap dan berdoa semoga gue bisa balik ke sana lagi πŸ™‚

  2. 3 x resign dan 3 x ngalamin hari terakhir di satu kantor
    sedihhhh, selalu sedih, ngeberesin meja, rapih – rapih
    padahal awalnya semangat mau pergi tapi ternyata di detik – detik terakhir itu yang paling sedih
    apa karena tiap – tiap pindah kerja pasti pindah kota dan pindah rumah kali ya..hiks

    nothing last forever memang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s