Cerita Diecembre

Saya, Diecebre, pada siang itu di bulan Desember  memiliki janji untuk makan siang bersama dengan tiga kawan, di sebuah restoran berlokasi di gedung pencakar langit di Jakarta. Salah satu gedung yang tersibuk di kota ini.
Saya tersesat, bingung kemana arahnya restoran itu. Lalu bertanya kepada Pak Satpam.
Tapi ketika Pak Satpam menunjukkan arah menuju restoran itu,seketika saya menoleh ke arah lain. Terlihat sosok yang cukup saya kenal sedang berjalan ke arah lain. Tidak lekas, tidak juga lama. Biasa saja.
Lalu setengah berteriak saya memanggil namanya Ah!!! After all these years! 5 years!!
Mungkin pak satpam yang sedang menunjukkan arah kesal sama saya.
Tentu, saya tidak peduli.

Lalu dia tersenyum seraya menghampiri saya dan dengan senyum khas-nya bertanya kabar saya.

Damn it! Saya merutuki diri sendiri
Kenapa tidak merapihkan rambut, mengusap wajah dengan sedikit bedak dan pemulas bibir sebelum ke kantor or hmmm, makan siang tadi? Bahkan hari ini pun saya sedang tidak memakai baju terbaik saya! Asal-asalan saja tadi mengambil baju yang tersisa di lemari karena baju kerja yang lain belum saya setrika. Namun saya tidak dapat berhenti tersenyum , even I was at the lowest point of my life at that time and i still couldn’t stop smiling.
He remains my unreachable prince, but still, i wanted to look good in front of him.

Kami reuni singkat, bertanya  kabar masing-masing  dan meng- update kehidupan.

“Mau makan siang? Mau makan siang sama-sama? I don’t have a date” ujarnya.

“Iya,makan siang  sama kawan. Eh, itu dia!” jawab saya ketika melihat salah satu dari tiga kawan saya datang menghampiri saya. Damn it! why at this time? Why today? rutuk saya lagi dalam hati (lagi). Ah, tidak enak kalo tiba-tiba membatalkan janji dengan tiga kawan ini. Ada hal penting yang kami harus diskusikan.

“Ya sudah kalau begitu! Sampai ketemu lagi,” ujarnya sembari merapikan ransel yang sedang dia bawa dan berlalu.

Kami hanya melempar senyum  dan dia berlalu. Saya masih tersenyum sampai sosok itu benar-benar hilang dari pandangan saya.  Yang saya ingat, itu perjumpaan terakhir saya dengannya. Sekitar enam tahun lalu!
Jika semesta mengijinkan, saya, Diecembre,  akan melakukan perjalanan  ke suatu kota. Katanya, salah satu yang tersibuk di dunia.
Dia, beberapa tahun ini tinggal 224 km dari kota itu, hampir 1 juta rupiah kalau ongkos naik kereta. Cukup jauh! Tetapi tidak sejauh Jakarta dan kota tempat dia tinggal saat ini. Tentunya!
Apakah takdir bisa mempertemukan saya dan dia? Seperti di bulan Desember, enam tahun yang lalu.
Untuk menyesaikan apa yang sebenarnya tidak pernah kami mulai, ntah untuk apa gunanya. Setidaknya untuk dia.

to be continued

PS : but yes, I’m begging you, universe!

Advertisements