Book review : Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia

Here’s the fact, I barely read non fiction, and if I did, most of it ended with unfinished book 😀
guilty, guilty as charged.
Yet, when I saw this book in Gramedia, I send it to the shopping bag without looking at the endorsement at the back, even had it finished within two days.

20140313-174732.jpg

Biar sering di PHP-in sama Commutter Line, ngomel2x terus di socmed kalo kereta telat,  gw tetep cinta sama this kind of transportation mode. Until punya kantor deket rumah ato punya duit beli apartemen di belakang kantor. :p

Waktu tragedi kereta di Bintaro, kayaknya status path gw isinya tentang alm. Pak darman dan pak sofyan terus deh, asisten masinis yang tewas setelah mecoba yang terbaik untuk menyelamatkan penumpang!
Semoga dilapangkan kubur ketiga pahlawan itu *Amin*

Gw memang bukan tipe yang mengendarai mobil sendiri ke tempat aktivitas rutin dari jaman sekolah, kuliah bahkan kerja. Beberapa tulisan di blog ini juga banyak diangkat dari pengalaman berkereta. Yep, gw juga pernah numpang di kabin masinis  bayar ngga resmi karena KRL ngga jalan gara-gara gangguan sinyal ato mati listrik. Males ubek2x file blognya, udah lama hahaha.
I guess it was in early 2013, when I heard that PT. KAI received best BUMN award and the CEO was acknowledged as best CEO, I tweet a very rude way  that it was the silliest joke of the year.

Karena gw ngerasa, tiap hariiiiiii gw naik kereta selama 10 tahun terakhir ketika pindah dari ibukota ke Tanggerang Selatan. Ngga ada peningkatan berarti.
Padahal sih adaaaaa …dikit (misal : ada keterangan jalur di Jabodetabek setelah tahunan adalah informasi jalur kereta di Jepang)
Thn 2012 ketika diterbitkan Commet Card gw orang yang telat membelinya. Lalu diadakan lagi sekitar 6 bulan kemudian  dan gw beli karena gw seringgggg telat naik kereta gara2x antri karcis. Hobi bener mepet sampe stasiun 😀
Cuma kepake sebulan, abis itu kartu ini dinyatakan tidak berlaku lagi. prettt…

Ok, here’s the review and gentle reminder this will be a longggggggg  one 😀

This book started, about how Pak Dahlan Iskan appreciated the corporation for that significant change in Lebaran 2012. No more drama orang naik kereta lewat jendela, manjat atap to be published on the cover of newspaper. On which actually, i didn’t pay attention to.

Loncat sebentar,
Pak Jonan, ex bankir —- pada awal-awal saya mulai kerja, di gedung lama sering nunggu lift bareng  #eaaaaaaaa — ketika ditugaskan menjadi CEO PT KAI, everybody was in doubt.
Seperti yang dikutip di buku pp 32.
” ….Sampai dia (Jonan) dilantik, belum pernah ada sosok yang mampu menjalankan pelayanan publik dengan baik, khususnya di sektor transportasi khususnya lagi kereta api. Artinya, si seluruh republik ini belum ada orang yang bisa dikatakan punya pengalaman dalam mengelola pelayanan publik di sektor kereta api, dengan praktik pengelolaan sebagaimana semestinya. Bahkan orang dalam PT KA sekalipun”

Hence, teraturnya Stasiun Senen pada masa lebaran dianggap menjadi mulainya babak dan wajah baru, perusahaan negara yang dianggap kelas tiga ini. To note, parahnya kondisi jalan saat ini karena kereta api dianak tirikan kalo bisa dibilang dibuang. Panjang rel kereta peninggalan Belanda sekitar 5,910 km pada tahun 1970-an menyusut setengahnya dan makin sedikit ketika pemerintah order baru mebuka kran industri otomotif! :D.

yes, cerdasnya pemimpin kita saat itu lebih memilih mensubsidi BBM daripada mass transportation macam kereta ini. Sehingga kereta barang kalah kompetitf harganya dengan truk-truk ato yang terakhir mungkin, KA Parahiyangan kalah saing sama mobil travel.
Surprisingly, meski penumpang kereta berkurang, pendapatan perusahaan meningkat. Orang awam rasanya ngerti sih, kebanyakan penumpang more than its capacity,  bukan berarti masuk ke kas perusahaan kan. Banyak yang punya “kepentingan” di sini.

Keheranan gw karena PT KAI  dapat award BUMN dengan inovasi terbaik  dijawab di buku ini, karena management memilih memperbaiki dulu rute jarak jauh “dia biasa menyusun strategi yang oleh kebanyakan orang bisa dianggap tidak lazim. Dia tidak langsung masuk ke pusaran hot spot (KRL Jabodetabek maksudnya), tapi memilih rute menengah dan jauh sebagai prioritas” Why? because it generate more margin.

Ya, secara gw naik kereta jarak jauh terakhir ke Jogja tahun 2006  ya….ngga tau deh gw 😀

Semua diurusin, mulai dari hal kecil yang dibeberkan di Bab 2, Bermula dari Toilet

Kalo standard bersihnya Pak Jonan berbeda dengan standard kepala divisi misalnya, blio langsung menggiring bawahannya pergi ke  hotel  untuk menyamakan persepi tentang “toilet yang bersih”.

Dari hal kecil lanjut ke pembenahan asset terbaiknya, ya itu karyawan itu sendiri dalam hal renumerasi dan career path agar tidak demotivasi dan tentunya kompetitif, yang diulas pada bab berikutnya. Even they send many many employers to overseas biar tau seperti apa industri dan pelayanan kereta api khususnya di China yang baik.

Belum lagi inovasi di IT, yang memungkinkan  calon penumpang membeli tiket di Indomaret dan Alfa misalnya just step away from our home tanpa harus antri di loket macam dulu. Yang dimana fitur ini belum pernah gw coba, tapi pernah liat orang beli tiket kereta di Indomaret bulan lalu.

Now I know why it received The Best BUMN  Award after it started to book profit in 2009 and increase  each fiscal year.
*cium tangan pak Jo*
And now the best part, perusahaan dibawah PT KAI yang service menjadi bagian hidup saya satu dekade terakhir #aihhh #mateeeekk

Di awal tahun 2013, I never thought their service would undergo major change! Kereta sekarang jalan per 1 relasi/trayek, jadi harus transit, harga tiket dituruni jadinya penuh impak dari  KRL ekonomi non AC dihapus. KRL Express AC juga dihapus jadi  tiap stasiun berhenti sehingga waktu tempuh makin lama. Those are the lame ones and the best one is ticketing system which  I wrote about it hereBut however, the CEO has the reason why and the institution can’t manage this alone without support from goverment, etc

Memang, menurut buku master plan untuk mengurus “hot spot”  perusahan ini adanya di 2013.
On page 170 it was written : penumpang berhak atas peron yang memadai. Peron harus steril dari pedagang dan gangguan apapapun

There it goes, no more PKL yang menggantungkan asap rokok dan pulsa HP-nya disana (yeah, admit it. These marginal people rather bought  pulsa than staple, rite? ) . Perlawanan cukup keras dilakukan oleh mahasiswa UI dan Komnas HAM di stasiun UI.
Jawaban CEO : PT KAI tidak menggusur tapi meminta assetnya kembali (yang disewa dengan tidak sah). Sang CEO pun mau mengurusi relokasi seluruh PKL (ngga cuma yang di UI) selama komnas HAM dan mahasiswa juga mau menyediakan lahan relokasi. Pedagang  yang ada di stasiun  di luar jabodetabek juga sudah  ngga lagi, sehingga sang CEO pernah diancam oleh bupati setempat.

Balik ke pengalaman pribadi gw, di stasiun Tanah Abang ada tuh pengemis masih muda laki2x  jalannya (sok) merangkak padahal normal minta iba. Karena dicuekin dia kesal mengancam penumpang dengan melempar sendal. Emosi banget liatnya.  Jadi seneng orang2x kayak pengemis ini  (gw yakin di stasiun lain juga banyak) hilang uang rokoknya. 😀

If you guys wondering where the money  come from, it actually from their existing cashflow karena pembenahan sana sini. Termasuk pengadaan armada baru. It is explained in Bab 8 😀

— xxx—

when a colleague of mine said “kereta Impor dari Jepang lebih bagus ya dari buatan  PT INKA”
I answered loud  “kata siapaaaa looooo?”

So i guess if you guys :

  • Agent of change di perusahaan ato institusi sekarang
  • work in service business
  • leader who want to walk the talk
  • tiap hari posting status marah-marah kejebak macet padahal naik mobil pribadi plus supir  #nyinyir
  • pemakai jasa PT KAI juga

This is a must read book!

Kalo ada menurut kalian pencitraan maklumin ajalah… 😀

And I was just wondering, two ex bankers had prove they were capable in managing transportation service (satu lagi aviation industry if you’re wondering) , leader who lead by example, turn red figures in income statement into black and coincidentally, pernah berkantor di jl jend sudirman kav 58 itu lhooo…gw bisa kali ya jadi CEO PT Pelni? Jahahahahhahahaha

Advertisements

8 thoughts on “Book review : Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia

  1. Pertanyaan pertama: PHP artinya apa?

    Pertanyaan kedua: Jadi kereta impor dari Jepang gak lebih bagus dari buatan PT. INKA? Kenapa?

    Trus pertanyaan terakhir, bankir kedua yang mimpin perusahaan jasa transportasi sopo?

    Hehehehe…

    • PHP istilah anak sekarang mbak, pemberi harapan palsu hahahaha

      Yaaaa, karya anak bangsa kan juga bagusss. Kereta impor dari jepang lan kereta lama AC nya ngga dingin, PT inka kan baru ac-nya dingin :))

      Pertanyaan terakhir, yang jadi CEO garuda 🙂

  2. Ealaaaaa. kreatip (yang PHP).

    Ooo…ya ya ya… Kan tadinya gak dijelasin tho, jadi aku pengen tahu (yang tentang kereta impor).
    Biasanya, biasanya nih, kereta impor meskipun bekas masih terawat baik.

    Aku baca di berita, Kemenhub gak punya dana untuk menebus 50 gerbong kereta yang dipesannya. Padahal itu kan pesanannya Kemenhub. Akhirnya sama Dahlan Iskan, KAI suruh beli gerbong itu, ketimbang Inka rugi.

    CEO Garuda? Amir Satar?
    ubek ubek google ahhhhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s