kau, aku dan sepucuk angpau merah

“Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri. Dibesar-besarkan sendiri”  nasehat Pak Tua kepada Borno, ketika pemuda penarik sepit itu  mengutarakan isi hatinya.

Borno, pemuda paling lurus hatinya di tepian Sungai Kapuas jatuh cinta kepada Mei, perempuan berwajah sendu yang kerap menumpang sepit-nya. Sepit adalah mode of transportation tradisional, yang berguna untuk menyebrangkan orang dari sisi  Sungai Kapuas satu ke sisi satu-nya lagi.  Biar perlahan tergusur oleh “Pelampung” atau Ferry, sepit punya cerita sendiri di antara penduduk sepanjang sungai. Kebersamaan mereka yang hidup sangat sederhana bagaikan saudara sekandung, lalu munculah  kisah cinta Borno dan Mei. Dua anak manusia yang berbeda “kasta” ini

dan sisanya…baca sendiri ya….*malas review mode on*

 

PS : yang menarik lagi buat gue, buku ini di-endors “orang2x biasa”, not some seleb who rarely read book than mentioned the book was good or whatever

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s