Book review : Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

“Biarpun itu bonsai dalam keadaan kerdil, kuntet, kagak megah tinggi ke langit, dia tetap menunjukkan keadaan yang bagus, daunnya tetap subur, rupanya elok, akarnya tua. Ngga ada kekurangannya. Biarpun ditaruh di dalam pot kecil, dia tetap tumbuh sembari menyesuaian dirinya. Ngerti lu maksudnya apa?” tanya Eng Kiat kepada Boenadi.

“Barangkali, kurang lebih, bahwa kita manusia seharusnya bisa tabah, walau hidup dalam kesempitan, tetap berusaha tumbuh subur dan tidak menyesali keadaan. Tetap menunjukkan kemurahan hati dan keikhlasan buat hidup sebagaimana layaknya. Pot yang kecil, keadaan yang sempit, bukan alasan untuk hidup meranggas. Manusia kudu pinter-pinter menyesuaikan dengan keadaan”

Waktu gue baca entry  ini, gue berguman, hmmm kayaknya pernah liat. Pas mau komen dan membaca existing komen, baru sadar  saya punya buku ini heheheh 😀 *kebiasaan jelek, suka nyetok buku dan lupa* 😉

Sejak baca Caubakan karya remi Silado, gue suka tertarik membaca fiksi dengan latar belakang sejarah, Hampir mirip  dengan Cabaukan, setting perjuangan etnis Tionghoa dalam  perannya di republik  ini .

Ceritanya, dimulai dari kerusuhan benuansa etnis di tahun 1998. Lalu flash back ke beratus tahun lalu. Tersebutlah seorang gadis keturunan  Tiongha yang terkenal  cantik, kemudian jatuh cinta  oleh seorang pemuda berdarah Jawa. Menghadapi beberapa rintangan mereka menikah dan mendapat keturunan bernama Boenarman, lahir ketika jaman Krakatau meletus. Sayang Boenarman menjadi yatim miskin lalu hidup berdua dengan ibunya mengurus babi untuk meyambung hidup di daerah yang kini bernama Tanggerang.

Sebelum ibunya meninggal, Boenarman diberi warisan 2 buah babi, hasil dari sisa-sisa recehan yang dia simpan dan disinilah Boenarman mulai untuk  make his ends meet.

Kemudian, Boernarman tertarik dengan keagungan Bonsai, pohon kate dalam pot yang dia lihat di Tanjung Pasir. Dia  bercita-cita untuk  menjadikan bonsai ini monumen anak cucunya…yang dapat menyaksikan perjuangan keturunannya kelak.

Bonsai ini harus dipelihara dengan hati-hati, sehingga ahli warisnya juga harus dipilih hati-hati. Penggemar tanaman saja tidak cukup. Bonsai ini menjadi saksi bisu perjuangan keturunan Boenarman, yang sering perlakuan tidak seiimbang — karena mereka keturunan Tiongha— mulai dari jaman penjajah Belanda, harta hewan ternak diambil paksa ketika penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, agresi militer, pemerintahan labil di era Soekarno, pemberontakan PKI, perisitwa Malari tahun 1974 sampai kerusuhan tahun 1998 yang menurunkan Soeharto dari tahtanya.

Bonsai milik engkong Boenarman juga bukan sembarang Bonsai. Dia memiliki bongkol sebanyak 11 buah, yang –apabila orang memandangnya- bonsai tersebut seperti meliha seperti mata reptil namun vertikal. Di akhir buku, penulis akhirnya ”membuka kartu”, kenapa penerima waris Bonsai ini haruslah benar-benar orang yang tidak saja telaten, tetapi harus tabah, sabar, berhati bersih dan tidak serakah.

A very interesting book. Gw sangat terkesan dengan pengetahuan penulis Pralampita Lembahmata, tentang sejarah perjuangan bangsa ini dan kemelut yang dialami etnis Tionghoa di negara ini. Bagaimana mereka sebagai warga pendatang kerap diperlakukan berbeda dengan keturunan Arab, Yaman atau India misalnya.

Sayangnya…saya sedih baca buku ini. Masalah Negara ini pada umumnya “itu-itu saja”  sejak  Engkong Boenarman lahir 😦


Advertisements

2 thoughts on “Book review : Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s