when love and hate colide

Terkadang saya memutar ingatan saya ke 20 tahun lalu. Saat itu kehidupan saya teratur. Jam 6.30 pagi Pak Udin, supir jemputan, akan menjemput kami (me and my sister), masuk jam 7.OO pagi dan jam 1- 2 siang sampai rumah kembali, makan dan istirahat dan kemudian beraktivitas lagi sekitar jam 4 sore entah les bahasa Inggris/organ atau menunggu Pak Syamsu guru ngaji kami.
Begitu hari bergulir setiap hari.
Saya berteman dan bermain tanpa memikir apa yang terjadi pada kami kemarin atau lusa atau bahkan 5 tahun lagi.
Dunia saat itu masih hitam putih buat saya, berbohong adalah dosa berkata jujur adalah amal.

Tak jarang saya memutar ingatan ke 10 tahun yang lalu.
There were times when my parents called me then we had the four eyes (or six – when my dad is around) conversation and said :
“Kamu ngga usah belain adek kamu” or the other way around.
I remember I had to cancel ‘my date’ via YM *hahahah,lame love life isn’t it?* with my major crush on who happened to live on the other side of this world. It was 1.00 am almost 2 perhaps, and none of my sibbligs at home! My parents went nuts!!!!
But I miss those times.
Times when the three of us would laid down piously on the hotel bedroom (we traveled at least 2 times each year , our parents put us in the same room with extra bed)- review what we had done for the last 6 months (or I might say
,kehidupan setelah waktu travelling sebelumnya) – berkomentar apa saja atas kehidupan kami masing-masing dan apabila komentar itu kritik pedas, we would say ‘Yeah,what ever’
We encourage each other, we critized each other.
Masa dimana kedua orang tua saya mendelegasikan sebagian ‘kekuasan’ mereka kepada saya. 😉

And I stopped when they said: “We know! We’re growing up, remember?!and stop treating us as a kid”
:p
I learned birth oder effects your personality. 😀

Setidaknya, saya belajar untuk tidak mengulang kejadian yang sama kepada my two precious when they grow up.
Sekarang kami punya ‘kehidupan’ masing-masing, like for now…I don’t know where my brother is 😀 (oh he’s a journalist btw, he travells a lot )

Dunia sudah berubah abu-abu buat saya saat itu.
Berbohong sedikit mungkin tidak papa, berkata jujur bisa jadi tambah masalah baru.

Now is the present and I live for the future.
I assure that I (still) don’t need time the machine.
It just the fact that actually
, saya masih sering kaget dengan fakta kehidupan yang sebenarnya.
Kini, dunia penuh warna ajaib yang sulit saya definisikan.
Apa yang dikatakan hijau oleh teman saya, bisa diartikan merah oleh saya.
Begitu sebaliknya.
When the sun about to rise, I ask my self, what color come next?
But life goes on…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s