mother (2)

tulisan kedua saya tentang mama.

kemarin siang adalah kajian rutin terakhir di bulan Ramadahan ini, di musholla gedung tempat saya berkerja.
tidak seperti hari-hari sebelumnya yang berupa materi, kali ini topiknya perenungan.
merenung tentang bagaiamana ridhonya ibu adalah ridhonya Allah.
kalau kita kaya, sukses, anak-anak sehat dan lucu, jodoh yang baik,
jangan takabur itu adalah usaha pribadi seorang, pasti ada doa dan sujud ibunya didalamnya.
sepanjang “perenungan” air mata saya terus menetes.
jujur, saya sendiri tidak terlalu “klik” dengan mama, kami kerap berselisih pendapat. mungkin bisa dibilang I’m the most rebellious  among her three offspring.
kadang saya beranggapan mama susah dibantah, sehingga ego saya sering terusik.
padahal very now and then, saya masih tinggal di rumah mama menitipkan anak-anak disana.
menurut saya, mama pribadi yang keras, menurut mama saya sering takabur.
Permintaan maaf saya yang benar-benar tulus ke mama ketika saya meregang perih 10 jam sebelum
melahirkan Kezia yang ended up di meja operasi,  setelah itu, saya akui jarang saya benar-benar tulus meminta maaf ke mama.
beberapa waktu lalu  saya menghadapi masalah pelik, saya awalnya hanya menyimpan ini sendiri, later on, my dad found out and feel irritated,
“bagaimana papa bilang ke mama kamu nanti, kamu yang bilang sendiri!”
Terlihat kilat marah dimatanya, hal yang sangat sangat jarang saya lihat. Saya mulanya tetap diam walau batin ini menjerit  dan terus terang takut. Saya takut mama murka dengan kesalahan yang saya buat.
Tapi ketika mama mulai bertanya-tanya pertanyaan yang sederhana, yang sebenarnya tidak ada hubungannya
dengan masalah saya, saya langsung berlari ke pagkuan beliau, menangis dan mencium tapak kaki beliau,
saya saat itu sudah siap mental ibu saya murka karena kesalahan yang saya buat.
di luar prediksi saya,
mama membelai kepala saya — tidak seperti dengan kedua anaknya yang lain— terus terang pemandangan ini jarang  terlihat antara mama dan saya.
sama sekali tidak ada murka di kalimat mama, yang ada hanya dukungan moril. Walaupun berkali kali saya memohon ampunan telah mengecewakan mereka, mama bilang beliau tidak kecewa sama sekali dengan kesalahan saya, she has guess this problem will occur eventually,
mungkin karena feeling ibu yang kuat terhadap anak yang pernah berbagi makanan dan nafas dengannya
moril yang diberikan membuat saya lebih jernih dan tenang untuk menyelesaikan masalah.
Peristiwa itu menghempas kesombongan saya selama ini, I feel bad for who I am  but  my mom told me not to.

there were many times I told my parents I’m not the mommy little girl anymore,
this occurance proof me wrong,
I still their little girl and probably will always be.
You are awesome,ma.

Advertisements

8 thoughts on “mother (2)

  1. Seorang ibu akan selalu mensupport anaknya ky, apapun yang dilakukan anaknya. Karena beliau yakin apa yg kita lakukan sudah kita pikirkan matang2 yang menurut kita terbaik untuk kita lakukan. Kalau pun kenyataan nya berbeda, dia tidak akan menyalahkan kita dan tetap akan mendukung langkah kita selanjutnya.

    semoga gw bisa seperti nyokap elo, someday…..

  2. Jd inget ibu… 😦 Taun ini gak bisa sungkem ke blio. Hikz!
    Menurut gw, ibu bakalan selalu mensupport anaknya. Blio tau lah, kita ituw kayak apa. Wong dia yg mbesarin kita. Mo bagaimanapun, anak tetep anak kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s