my latest trip – Pulau Batam dan Matak


1 foker 50,

2 malam,

3 pulau,

4 peserta,

5 pelabuhan,

431 gambar,

lots of my first – “something”

(yeah, termasuk pertama ke batam….suer))

 

Dan disanalah saya rabu pagi kemarin

Menjelang magrib di hari selasa, kami sampai di Pulau Batam (ya, ini kunjungan pertama saya ke pulau ini, hahahah). Langit merah menyambut sangat indah, this is going to be a wonderful trip. Langsung menuju wilayah batu Besar untuk makan seafood enak di restoran Rejeki.

 

Rasanya belum puas merebahkan badan di kasur , namum jam 5 pagi harus sudah berangkat dari hotel Planet Holiday, Nagoya menuju Hang Nadim

Dengan pesawat chateran foker 50 milik Riau Airlines berangkat jam 6 pagi bercampur dengan 45 lelaki yang bekerja di ladang minyak lepas pantai, pengalaman pertama naik pesawat dimana penumpangnya lelaki semua…ah, berasa cantik. =))

(2 pramugari ngga dihitung penumpang kan….???);;)

 

 

Perjalan menuju Matak awalnya tenang dengan cuaca cerah, namun setengah jam sebelum mendarat bukan main turbulence-nya.

Waktu baru menunjukkan sekitar setengah 8, tetapi cuaca di luar, kiri kanan pesawat awan gelap disertai kilat dan hujan. Seperti di film saja.-SS

 

Spontan saya membangunkan Dana yang tertidur pulas.

 

“Dana, bangun loe…kok bisa2xnyasiy loe tidur pesawat kaya’ gini”

(note, saya termasuk orang yang paling tidak bisa tidur di pesawat)

*Dana yang bangun dan pasang muka masa bodoh*

“Mau gimana lagi, ky….gedor2x jendela pesawat?”

Ah ya betul…tak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa

*dan pegangan kursi pesawat, suerrr ngeri banget*

 

 

Sebelum pukul 9 sampailah saya di PUlau Ini, base camptempat ratusan crew dan field engineer sebelum pulang atau diberangkatkan dari/ke platform-platform yang ada di lepas pantai berjam-jam dari pulau ini.


 

Menyaksikan keributan “crew exchange”, pertukaran shifting antara group yang 1 dengan group lain, wajah-wajah lelah yang (mungkin) suntuk mingguan berada di lepas pantai dan sudah rindu keluarga dan wajah-wajah malas2xan yang masih menunggu mingguan lagi untuk berkumpul dengan keluarga. (mengingatkan saya pada rutinitas kehidupan ayahnya Double Ke. 2 tahun lalu bahkan bertugas di Belida Field,Natuna. ya tentu saja, ke Matak 2 minggu sekali adalah rutinitas beliau). Menyaksikan chopper silih berganti terbang dan mendarat yang datang dari platform untuk mengantarkan/menjemput pekerja lepas pantai tersebut.

Sampai kami ke sebuah jetty untuk naik kapal penumpangkapal pun berjalan dan kemudian mendarat lagi untuk pergi ke “base camp”.

Tak lama di pulau kecil ini, rasanya belum puas melihat beningnya air laut denganudara yang sejuk. INgin rasanya berenang, bahkan merendam kaki pun tak sempat, waktu terlalu lama dihabiskandi kapal tadi. Ah, Kapan bisa kembali ke pulau ini lagi dan menyebrang ke pulau Tarempa dan pulau2x lain. Maskapai komoersial memang tidak setiap hari singgah di pulau ini.

Perjalanan kembali ke batam tertunda siang itu, cuaca yang buruk tidak mengijinkan pesawat untuk terbang.

Sempat berbincang dengan seorang wanita istri dari prajutir Angkatan Laut yang menunggu pesawat charteran dari COnocoPhillips.

Pesawat komersil yang mendarat di pulau ini tidak banyak, mungkin seminggu 2 kali dari Tanjung Pinang, sehingga apabila pesawat chateran milik perusahaan Amerika itu kosong boleh diisi oleh penumpang non-karyawan.

Kita berpendapat sama, sayang pulau seindah ini kurang terawat…padahal kurang kaya apa wilayahnya, jalan ke mess PT XYZ bukan main buruknya. Minyak dan ikan nya berlimpah, pura-pura tak tahu kah mereka? *sigh*

Saya merasa beruntung, pernah menginjakkan kaki di gerbang utara republik ini.

 

 

 

Sekilas info Kabupaten Natuna, dikutip dari majalah Kilau Natuna yang saya ambil (ijin dulu kok sama pramugarinya) di Riau Airlines.

Pesawat komersial ada dari tanjung pinang namun ke Ranai, dengan jadwal 3 x seminggu. Menurut laporan disitu, harga tiket tanjung pinang- ranai dilayani oleh Merpati dipatok Rp 500 ribu saja dan terbang 3x semimggu. Sepertinya landasan terbang Ranai lebih panjang daripada Matak, karena pesawat Merpati pesawat jet.

 

Jika ada yang berminat ke kabupatan Natuna, di majalah tersebut ada rekomendasi travel, penginapan dan restoran, call me if you need it.

 

 

————————-


Lalu, perjalan pulang kembali ke Batam siang itu. Mengingat pengalaman turbulence yang bikin saya sakit perut, saya sempat panik ketika pesawat Foker 50 itu hanya baling-baling sebelah kanan yang berputar.

“Pesawat ini yang jalan baling-baling kanan dulu kok, ky…santai aja” *fiuh*
Kebaikan hati Pak Bambang dari pihak client, diantarkanlah saya ke Jembatan Barelang. Jembatan yang menghubungi pulau batam ke Pulau Tonton…dan disambung dengan jembatan lain sampai pulau Galang total . Kabarnya butuh 1,5 jam untuk sampai di pulau terakhir. Kami tak sempat, sudah lapar.

Perut telah keroncongan, meluncur kembali ke arah nagoya untuk mencicipi Sup Ikan Yon Kee yang terkenal itu. Slurp.
Jam 3 kami tiba di Batam Centre…yep….saya bertemu Gita di rumah barunya malam itu.
di pulau sebrang…tak banyak cerita…-B.
Foto-foto lain ada di multiply.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “my latest trip – Pulau Batam dan Matak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s