Review: RAHASIA MEEDE – Misteri Harta Karun VOC

Author: E.S. ITO
dulu rasanya saya didera bosan yang amat sangat ketika Pak Qirom berdiri didepan kelas dan mulai berkicau.
Ingin rasanya, mata pelajaran ini dihapuskan saja.
Ternyata benar Pidato Sang Proklamator “JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah”

Melalui buku ini, ternyata sejarah menjadi menyenangkan, rentetan fakta dari masa lalu memompa adrenalin saya untuk terus membca thriller setebal 671 halaman ini.
Awal cerita sepertinya Batu Noah Gultom seorang wartawan Indonesia Raya, Guru Uban guru sejarah di Bojonggede, Cathleen Zwinckel mahasiswa Universitas Leiden yang (niatan awalnya) menyelesaikan thesis tentang masa kolonial belanda dan Erik-Robert-Rafael tiga orang peneliti dikirim dari Amsterdam , hidup dalam tugasnya masing-masing, ternyata bermuara pada satu misi.

Sebagian dari cerita masa lalu negeri ini diurai dalam buku ini,namun tidak banyak keterangan – kenapa putra bone yang memandu saya di Fort Rotterdam , Makassar- Juli 2005 – itu gusar ketika saya melontarkan kalimat “Arung palaka seorang pengkhianat”.

Alur yang melompat-lompat,antara masa kini dana masa dimana negara ini masih dijajah (secara fisik) makin membuat cerita ini memikat, penuh kejutan yang membuat penasaran.
Sebelum melompat ke bab 2, kata2x Bukittinggi-Brussel-Bangka-Boven Digul, membuat saya mengira cerita ini tentang tokoh — yang hidupnya seperti putaran hari — Bung Hatta—hah, tidak sepenuhnya salah. Tempat yang semua hurufnya
berawal B — adalah tempat ditemukan 4 orang terbunuh yang kemudian keluarga ditinggalkan mendapat pesan singkat, bila dirangkaikan menjadi kalimat dari teori 7 dosa sosial Mahatma Gandhi.

“Aku mencium wangi keringat menyambut kedaulatan, Aku tahu mereka ihklas berkerja untuk republik. Untuk masa depan yang mungkin tidak akan pernah mereka alami. Kau tahu, aku sangat mencintai republik ini,saking cintanya aku tidak bisa melihat ia hina, nista dan tampak kumal diantara peradaban lain”
Kata Kalek kepada Batu ketika buronan ini akan diserahkan ke polisi.

Hmmm, andai Agus Salim dan Bung Hatta masih hidup, menangiskah mereka melihat problem bangsa ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s