The Pursuit Of Happyness

“If you got a dream, you gotta protect it”

“Don’t ever let someone tell you, you can’t do something. Not even me”

Weekend ini weekend garing, ngga bisa onlen karena dirumah ortu ngga ada PC, mobil ditinggal di rumah, jadi kami….dirumah saja.Untung sempet berbekal DVD, film inilah yang ku tonton,udah keluar dari setahun lalu, tapi baru sempat kutonton sekarang.

Based on true story
Berkisah tentang Chris Garnder (will smith) yang menjadi sales alat kedokteran berupa ‘bone density check’
Dengan pendapatan yang tidak menentu harus kesana kemari menjajakan alat itu, menitipkan anaknya Christopher (anak benerannya juga di real life) ke day care, dan tentu menafkahi keluaga.
Akhirnya, karena kondisi ekonomi yang tidak menentu, sang istri pergi ke New York, namun CG kekeuh anak tunggalnya tetap bersamanya..
Chris bertemu dengan seorang broker ternama dan bermaksud untuk bekerja sebagai di kantor beliau, Chris yang saat wawancaa dan hanya berbekal celana jeans lusuh dan kaos oblong karena baru keluar dari penjara, dengan gaya meyakinkan akhirnya diterima, cuma dia terkejut karena selama training tidak digaji,padahal dia sangat butuh uang. Apalagi dari 20 orang peserta training, hanya satu yang bisa jadi karyawan disana.

Disinilah kisah mengharu biru itu dimulai, Chris harus dapat bekompetisai dengan trainee lain, ditambah waktunya untuk mencari klien lebih sedikit dibanding yang lain, karena ada Christopher yang harus dijemputnyua di daycare (yang berbulan bulan tidak dibayarnya), lalu mengantri agar mendapat kamar di homeless shelter. Belum lagi uangnya yang sangat pas-pasan.
Sementara ketika day off dia tetap menjajakan alat kedokteran tersebut.
Well, perjuangan Chris berbuah manis.

Film ini mampu mengaduk perasaan saya, penuh keharuan dari awal sampai akhir.Yang paling mengharu biru untuk saya. ketika adegan Chris terpaksa bermalam di WC kereta bawah tanah, karena tidak punya tempat tinggal, sementara anaknya terlelap dipangkuannya, pintu WC digedor dengan kasar orang lain yang ingin masuk ke WC, Jeff menutup telinga anaknya agar tidak terbangun, pastilah anaknya lelah setelah seharian berjalan keliling kota, disitulah…Chris menagis. (dan air mata saya keluar juga — hey, fan , preman juga manusia D).

inget cerita Life Is Beautiful/La Vita e Bella (1998) Roberto Benigni, dimana seorang bapak ingin anaknya tetap merasa bahagia (dan mampu berpura pura bahagia) meski keadaan benar-benar susah.

Salute to all tough parents.😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s