Psycholo(gy)ve


Review ini dibuat dengan paksaan yang sangat dari pengarangnya. *kabur*

Tidak puas dengan kedua novel pertamanya, tidak menyurutkan keinginan saya untuk membaca novel ketiganya (dan udah dibuat reviewnya), and I enjoy it very much!
Jumat ini, walaupun belum tuntas capek dari mudik kemaren, tidak menyurutkan langkah ke sebrang gedung menuju Istora Senayan, tempat Pameran Buku dari IKAPI digelar.
Salah satu tujuan kali ini adalah mencari Psycholo(gy)ve, yang merupakan ‘anak’ keempat Nana.
Cerita ini dibuka dengan Mira, yang berdomisili di Makasar membaca email berisi curhat seorang wanita yang bermasalah dengan pernikahannya. Yep, Amira Januari adalah seorang psikolog kondang di kota tersebut.

Mira (lagi-lagi) wanita lajang diusia 30 tahun, merupakan psikolog ternama yang mengisi ruang konsultasi baik di radio, maupun klinik Mitra Bersama yang dikelola bersama ketiga sahabat yang sama-sama berkuliah di Jakarta dulu. Dengan penampilan yang seenaknya – jauh dari kesan psikolog kondang yang menjaga image di depan klien – Mira atau yang dikenal dengan inisial AJ,lebih senang berada di belakang layar.

Cerita ini lebih banyak menceritakan Mira membantu kliennya untuk mencari solusi dikehidupan percintaan mereka, walaupun Mira sendiri belum menikah.
Sebagai anak korban orang tua bercerai, menghabiskan hari menonton orang tua bertengkar dan berteriak selama bertahun-tahun, membuat Mira tidak terlalu mengagungkan pernikahan dan mempunyai pandangan bercerai bukan merupakan hal yang tabu, selama itu jalan yang terbaik.Hal inilah yang membuat statement yang dikeluarkannya ,menjadi kontroversial atau nyeleneh mungkin.

Lalu cerita berlanjut dengan adanya sosok Ardi, seorang pengusaha kondang perhotelan yang sedang mencari solusi untuk menyelamatkan pernikahan adik tunggalnya, Ayu yang tiba-tiba ingin menggugat cerai Putra tanpa alasan yang jelas. Atas saran Ardi pula, Ayu berkonsultasi ke klinik MItra Bersama.

Menariknya, Putra ternyata adalah masa lalu Mira. Pertemuan dengan Mira membangkitkan “that old feeling” –nya Putra, terlebih disaat pernikahan Putra sedang diujung tanduk, beberapa kali mereka bertemu untuk berkonsultasi maupun hanging out.

Sedangkan pertemuan secara tidak sengaja antara Ardi dan Mira sangat membekas di ingatan Ardi, hingga Ardi mencari segala kemungkinan untuk mendekati Mira (dengan niatan mengajak Mira ke pelaminan).

Kembalinya Putra seiring dengan naiknya reputasi AJ yang terkenal dengan solusi-solusi yang kontroversial, – sehingga radio dimana Mira menjadi tamu pada acara konsultasi ingin menggelar acara Off Air. Tampil di public adalah hal yang sangat dibenci Mira , dan firasatnya benar ternyata disinilah petaka itu dimulai.

Sebuah insiden terjadi disana dan runtuhlah reputasi Mira atas karir Psikolog nya yang telah susah payah dibangun bertahun tahun,pun dengan embel2x cap “pengganggu rumah tangga orang”

Tetap terpurukkah Mira? Dan masihkah ia berkata “Marriage is not my things” kepada koerabatnya? Jika tidak, kepada siapakan dia tetapkan pilihannya?

Hmmmm, si gadis batak ini makin mantap saja membuat novel, apalagi selalu menggambarkan wanita pekerja keras dan mandiri. Uniknya , walaupun setting ada di kota Makasar, ternyata blio belum pernah kesana! Hampir saja saya bertanya “kenapa tidak ada setting di Pantai Losari ya – secara tempat ini trade mark kota makasar”.
Ternyata ada juga pertemuan Mira dengan (heheheh baca sendiri ya…) di tempat ini mendekati akhir cerita.

Walaupun masih lajang, prinsip Nana tentang pernikahan dan bagaimana wanita harusnya bersikap pada pernikahan itu sendiri yang dilontarkan melalui sosok Mira membuat saya manggut-manggut juga, jangan-jangan Nana mengasuh rubik konsultasi pernikahan di Batam Pos.SmileyCentral.com

Seperti Neena pada My Two Lovers dan Dina pada April Café, keputusan Mira atas kelangsungan karirnya yang terpuruk tidak terduga, melebihi yang saya bayangkan! Well, I love Sweet (walaupun ngga happy) ending story .SmileyCentral.com

Membacanya pun di kantor, sembunyi sembunyi habis, lembar per lembarnya dibuat dengan alur tak terduga, dan tak bertele tele, bikin penasaran aja!Yang kurang buat saya, tokohnya dalam cerita ini banyak juga, teman2x di Klinik Mitra Bersama, Sylvy sahabat baiknya yang baru menikah (untung sosok suami Sylvi ngga muncul…:-D), belum orang-orang di radio. Well, minor inconvinient lah….keep up a good job girl! Semoga nasibmu sama dengan Dina dan Mira…(ini doa lho, bukan nyelaSmileyCentral.com ).

PS : buku kelima ngga papa deh, Na gue beli sendiri, keenam gratis ya!hehehe
2nd PS : buat yang dijabodetabek, buruan aja ke Istora Senayan ampe hari minggu besok, lumejen bukunya Nana diskon (*ogahrugi*), dan siapkan waktu buat bacanya, kalo sepotong2x bikin penasaran.

Advertisements

One thought on “Psycholo(gy)ve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s