renunganku di malam jumat

waktu menunjukkan pk 19.15,ketika aku keluar kantor, kamis malam kemarin. terhenyak sebentar ketika menuju pintu luar, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Sempat bimbang apakah balik ke lantai 5 lagi, atau tetap menuju halte Ratu Plaza, tempat bus trans bintaro menaikkan penumpang, karena jadwal KRL AC Sudirman – Serpong terakhir sudah lewat sejam yang lalu.

Payung lipat aku kembangkan, menyebarang menuju halte. dari atas jembatan terlihat di depan Hotel Atlet Century antriannya padat sekali. Aku tetap berjalan menuju Ratu Plaza, tak tampak tanda-tanda bus telah datang, kemudian memutuskan ke Halte Plaza senayan, menembus jalan pintas dibelakang gedung Ratu Plaza, berharap bus sebelumnya ‘stuck’ di depan hotel.

Waktu menunjukkan pukul 19.30 ketika sampai di halte Plaza Senayan, penjual tiket bus mengatakan, bus dengan jadwal 7 malam pun belum datang. *sigh* , pastinya calon penumpang membludak, malas banget berjejal di bus walaupun Ber-AC. Belum waktu tempuh yang pasti lebih lama, pengalaman duapuluh dua tahun di Jakarta, kalau hujan lebat ekivalen macet dimana-mana.

Akupun memutuskan ke stasiun Palmerah, memakai jasa Perumka, apapun jenis keretanya, karena jadwal kereta AC tidak ada selarut ini. Seorang tukang ojek kutawar untuk jasanya, kamipun meluncur ke Palmerah. tak sampai 10 menit.

Loket tiket ditutup, seorang lelaki menyarankan aku ke ruang kepala stasiun.

“nanti bu, keretanya jam 20.15” jawabnya asal-asalan ketika kutanyakan jadwal kereta
“beli tiketnya dimana,pak?”
“nanti didepan dibuka” ketus
“kereta apa,pak?”
“lang sam”

*long sigh*
“KRL ekonomi jam 7 tadi dibatalkan”
“wah, pasti banyak deh penumpangnya yang terangkut,penuh nih pastinya”

samar-samar aku mendengan percakapan dua wanita yang berdiri tak jauh dariku.
mataku menatap anak-anak jalanan yang berkeliaran di sekitar kereta. Usia meraka tampaknya belum akil balik, tetapi telinga mereka telah ditindik dan dihias, dan sebatang rokok disela jari meraka. belum kata-kata kotor yang kerap keluar dari mulut mereka.

***

assalamua’laikum, dek kata Peni, kepada seorang pengamen cilik yang ‘menawarkan jasanya’ di sebuah warteg, di Simpang Dago 5 tahun lalu. tempat kami mengisi perut.
“hmmm” jawab si pengamen bingung
“kamu muslim?”
“iya, teh”
“kalo saya sapa assalamu’alaikum, kamu harus jawab apa?”
“wa’alaikum salam”
“begitu donk, ini…” selembar limaribuanpun berpindahtangan
pengamen cilik pun bergegas pergi
“eits, bilang apa”
“terima kasih,teh
“kembali” senyum dimuka Peni mengembang, seorang aktivis dakwah di kampusku dulu, salah satu teman terdekat kami.

aku, alia, novita dan iin saling bertatapan
“duh, tu anak, rajin banget seh kasih ceramah, kasih 500 perak aja juga seneng tuh pengamen”
dumelan kami saat itu.

***
ingatanku kembali ke lima tahun lalu, saat kami, yang saat itu baru lulus kuliah berlibur sejenak di Bandung.
yah, kita jugalah yang sering keras kepada mereka, sehingga hati mereka pun keras, tak banyak orang seperti Peni yang untuk sejenak melembutkan kekerasan itu.

“KRL ekonomi dari depok jurusan serpong masih tertahan di stasiun cawang, KRD rangkas bitung berangkat dari tanah abang”
sayup-sayup aku mendengar pengumuman

“mending nunggu KRL ato naik langsam aja ya,mbak” tanya ku pada seorang wanita yang beridri diseblah ku
“mending langsam aja,mbak, KRL bisa aja lebih lama”
“suka penuh ngga,mbak?”
“penuh banget,mbak. mending mbak didepan aja”
didepan maksudnya adalah di lokomotif, biasanya tidak begitu ramai, tapi ada ‘tarif khusus’ yang dipungut.
akupun mengikuti beliau kedepan
tak lama KRD berhenti tepat didepanku, dan aku segera naik. Cuma ada 10 orang disana, tak lama petugas pun memungut ‘tarif khusus’ tersebut.

“bliau dapat 20 ribu malam, ini, 600 ribu berarti sebulan,per sekali jalan”
angka yang cukup besar, walaupun masih jauh dari cukup untuk meghidupi keluarga, itupun kalo tidak dibagi-bagi rekan sejawat.

Tak lama kereta bergerak,menuju Stasiun Kebayoran. Penumpang berjubel disana. Banyak orang yang berlari kebelakang, mencoba menaiki rangkaian 8 gerbong dibelakang loko ini, hanya ada 3 orang yang naik ke loko.
tak lama kereta bergerak kembali ke stasiun Pondok Ranji

‘ngapain mereka sempit-sempit di gerbong’
‘penuh,sesak,gelap, bau pula’
pikirku selama perjalanan.
kali itu, kali aku kedua memakai jasa kereta Lang Sam, kereta benar-benar merakyat, kereta yang sering dijadikan bahan guyonan segerbong dengan kambing dan ayam.

‘disini bayarnya kan cuma 2 ribu, ngapain bela-belain gratis siy di gerbong’

memang sudah rahasia umum, penumpang kereta ini jarang yang membayar resmi unutk tiket seharga Rp 1.500.

’emang mereka sulit ya, bayar 2000 ribu aja, ganggu cahflow mereka’
‘dua ribu nominal lebih kecil dari sebotol NU Tea yang nyaris aku konsumsi setiap hari’

how lucky I am,ngga tiap hari harus berdesak2xan , demi menghemat 2 lembar seribuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s