Lubeck’s notes on Pram

berikut catatan kecil, temen PPE gue, Lubeck yang sekarang ditugaskan di kantor gue cabang Batam, tentang pengarang favoritnya. gue mewakili doi untuk posting disini, karena doi ngga punya blog kalo ada pun, dengan kesibukannya yang sangat tinggi, pasti tu blog jarang di update.

Dear friends.

Sudah pernah baca karya Pram?

Hari minggu kemaren, Pram meninggal dunia.

Sebagai penikmat buku dan sastra, saya memperhatikan hanya ada 2 sastrawan terbaik Indonesia. Salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer. Terbaik menurut saya tidak dalam term analisis sastra ilmiah yg jelimet– tetapi dalam pemahaman bahwa membaca karya Pram selalu merupakan pengalaman yang luar biasa, membius dan menghanyutkan. Rasanya seperti mengalami kenikmatan candu atau orgasme. Bahkan setelah membacanya pun,ternyata masih meninggalkan kesan yang mendalam. Pengalaman seperti ini sangat jarang saya peroleh dari sastrawan indonesia lainnya.

Sayangnya, karya Pram tidak pernah mendapat perlakuan yg layak di negerinya sendiri. Dunia luar jauh lebih tinggi menghargai karya Pram dan ini terbukti bahwa Pram pernah dicalonkan menjadi penerima nobel sastra.

Secara pribadi, saya pernah bertemu dengan Pram saat pementasan teater karya Pramoedya judulnya “Mangir” di CCF Bandung saat kuliah 6-7 thn lalu. Saat itu merupakan pementasan teater pertama yang diadaptasi karya Pram– Sosok fisik Pram yang saya lihat adalah tubuh yang sudah renta, mata rabun dan telinganya pun tuli— tapi saya tahu betul bahwa Pram punya kekuatan dan keteguhan jiwa yang luar biasa dalam melawan penindasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Seolah-olah definisi kata “lawan” dan “pantang menyerah” sinonim dengan nama Pramoedya sendiri.

Apakah saya berlebihan memuji Pram? Saya rasa tidak. Saya pikir anda akan setuju dengan saya kalau anda sudah membaca karya-karyanya..

Sama seperti sastrawan besar dunia lainnya [tolstoy,solzheneitsin, Hemingway, Boris Pasternak, Steinbeck], Pram memahami manusia dengan segala karakter, keunikan, kelemahan,kelebihan dan pergumulannya. Saya belajar banyak tentang karakter manusia dari karya Pram. Dan ini sangat membantu saya memahami manusia dalam realitas sehari-hari.

Membaca karya Pram seperti meng-amini pemeo lama “kalau mau belajar tentang manusia, bacalah sastra”..

Sekarang Pram sudah pergi–tetapi “anak-anak rohani”nya [sebutan Pram untuk hasil karya-karyanya] akan tetap HIDUP, TUMBUH dan BERBUAH..

Mau tahu karakter manusia Indonesia, Bacalah karya Pram!

salam,
lubeck

pictures from European Pressphoto Agency

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s