what I do…

when I spent the whole day at home. NONTONIN YOUTUBE! hahah. Nah karena ngga bisa kemana-mana, saya nontonin yang bagian jalan jalan lah. Terus tertarik sama channel Rusian Plus.

Awalnya karena bagian dari mati gaya kebanyakan jam kosong (on weekend, on weekday sih tetep depan laptop) , saya baca cerita seorang kenalan, Pak Albert namanya. Saya kenal blio waktu menjemput anak saya sholat Jumat di St Petersburg Mosque. Long story short, saya nemu IGnya dan suka dengan cerita keluarga kecilnya. Istrinya orang Vladivostok. Saya awalnya ngga tau nih kota letak persisnya dimana hahah. Pas tau, ih jauhnya mereka merantau!

saya kan suka ingin tahu ya, what is like on the other side of the world, what do they do for living, how do spent their days, kayak gitu gitu deh hahaha. jadi aja tertarik nonton youtube si Rusian Plus ini

ih, kok kotornya, infrastrukturnya ngga jauh sama Jakarta! hahahahah!

lalu tertarik lagi nonton video Kazan. sebenarnya waktu ke Rusia kemaren ingin mampir sini, tapi budget saya kurang. Namanya iseng browsing tiket dapat yang affordable, langsung merem beli. Itternary selanjutnya menyesuaikan ketersediaan tabungan. teheee….

terus iseng liat video St Petesburg, hahahahah. Baru sadar dibalik Church of Spilled Blood ada taman keren. Padahal waktu itu sempat istirahat sebentar, tapi ngga explore tamannya lagi. Plus, ngga mengunjungi gedung tertingginya! Tourism spot yang lain, didatangin sih. hahahah iseng banget lagian kayak ujian nge cek ulang jawaban.

Habis melihat tiga video di atas, tetap aja sih, belum tertarik kembali kesana. Murmansk mungkin, but who knows?

Tertampar dan hambar

Hey, it’s a rhyme!

Kemarin malam, saya mau latihan salsa. Buru buru nih dari kantor mengejar kereta. Sampai stasiun Kebayoran, hujan deras! Doh! Ketika kereta tiba di Pondok Ranji, masih deras.

Saya berdiam sebentar di stasiun. Terus BT! Sial nih hujan, bikin rusak saja schedule. Akhirnya cuek menerobos hujan naik ojek ke tempat les Salsa. Ya, kuyub! Walaupun pake ponco (jas hujan)

Lalu saya mesan teh panas di kafe yang menjadi lokasi les salsa. Sempat ngobrol sana sini, dll dll baru saya tersadar! Gelang emas saya hilang! Yang bikin sedih, gelang itu punya almh ibu saya! Hampir nangis sembari mengingat-ingat rentetan peristiwa malam ini. Saya keluar tempat les lagi, menerobos hujan, menuju tempat pak ojek menurunkan saya di trotoar.

And you know what? Gelang saya tegeletak di jalan raya tesebut! Antara tempat les dan toko kue. Kemungkinan jatuh ketika saya melepas jas hujan! Tempat les saya sebelahnya toko kue terkenal, yang tamunya silih berganti! Bisa jadi karena hujan, orang jadi malas belanja. Wah! Untung hujan (Maap Tuhan) permohonan saya dalam hati.

Tadi siang, another sad news come. Le’tape indonesia diundur bulan Agustus. Ini race kedua saya yang diundur setelah Jogja Marathon, yang juga diundur di bulan Agustus. Antisipasi Covid-19. Serupa dengan jadwal awal, acaranya akan selang seminggu. Mood saya drop, sudah malas banget! Karena ada “A classified” Race yang akan saya jalanin.

Mungkin uangnya akan kembali sebagian, kebetulan ikut travel yang diurus oleh rekan sendiri. Saya memilih tidak akan datang di race yang di re-schedule itu. Hilang momentumnya. Anggap saja latihan ke Kopi Daong dan Pura Jagatkarta minggu lalu sarana jalan jalan dan kenalan dengan Agung dan Tony. Lumayan lah ya!ada teman latihan baru! Ahahahha!

Anyway, pas lagi kesal dan menggurutu sendiri, sebuah Whatsapp masuk. Dari travel haji saya, Yang mengabarkan ada kemungkinan antrian saya dipercepat.

Jujur saya bingung saya menanggapinya. Antara senang dan bingung sih lebih tepatnya, tidak usah terlalu detail di sinilah ya! Hahahah

Ternyata urusan ke Tanah Suci ini masih jadi Wow sekali buat saya yang kelakuannya ya-you-know-lah! I know, It’s nothing I should be proud about! Lalu masalah duniawi yang datang, kinipun serasa hambar! Hilang kesalnya.

Sebegitunya Tuhan Maha mebalikan urusan umat-Nya. *kibas jilbab*

Ride to Pura Parahyangan Jagatkarta

Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya rencana ikut Le’tape Indonesia. Perlu latihan nanjak! Akhir pekan lalu, saya dan tiga rekan lain ke situ dari Sentul City naik sepeda! Total 55K pp.

Letaknya di Tamansari,Bogor, di kaki gunung salak. Menuju Pura, berat banget! Tanjakannya sadis! Sampai di atas sejuk banget udaranya! Dan jangan lupa, mampir di warung makan depan pura. nasi merah sambal kecombrangnya enak banget betttt!

Sejujurnya, saya baru tahun lho Pura ini ada. Kayaknya dulu Anta, teman kuliah S2 yang beragama Hindu-Bali pernah sekilas cerita, tapi ngga nyimak banget.

Oh ya, karena kami bukan Hindu, tidak boleh masuk melebihi gerbang di atas. Tapi kalau lihat foto di google, bagus banget. Namanya juga di puncak ya. Pura ini juga terbesar kedua setelah Pura Besakih.

Senang banget sih, cuma yang sebel trafficnya emamg! Mana saya takut turunan, belum harus sigap sama angkot, motor dll yang lewat.

The Struggle is Real
(Kayak)
PaspFoto Keluarga Besan :))
Enak Banget gilaaaaaa!!!!

If you can’t stop thinking about it…

Don’t stop working for it…

Kalau kata google sih, kata katanya Michael Jordan. Mungkin kurang pantas nulis di sini, tapi blog memang buat saya mengingat apa rencana, pengalaman bahkan pembelajaran buat saya. Besides, writing keeps my sanity.

Ya sejujurnya sih, saya suka kepikiran hutang saya sama almh Ibu saya.

Saya pun suka becanda mau kuliah di Negara Scandinavia tapi bahasa pengantar bahasa Inggris. Komen-komen saya sama Ashar, teman saya yang awal 2000’an kuliah di Perancis kayak gini.

Minggu lalu, teman saya – ID-, lagi menunggu hasi Post Graduate studynya. Tahun lalu Master dia selesai, blio ke Amrik, btw.

Terus bicara kuliah, terus komen gini di grup:

img_1045

saya sampai nulis di twitter, hitung umur anak-anak dan umur saya, kayaknya saya baru lega bisa leluasa punya pengeluaran besar di mid 40. That year, both my kids will be in college. Will it be too late or will I be too old?

Sampai Imel bilang teman blio ada yang S1 di usia 60’an. :)) Hebat semangat belajarnya.

Akhirnya saya iseng browsing2x sampai saya buat spreadsheetnya.

Isinya

Nama Universitas

Program Study

Durasi study

Biaya study

Link Univ tersebut

Requirement (TOEFL, GMAT/GRE)

Ini dari program study yang mendekati background saya. Kebetulan di satu negara.

untuk negara lain, saya bikin tab page lagi. Ingat! Kalau ngayal harus detail!

img_0977-1

GMAT nya paling kecil 550! Duhhhh hahahahah. Udah mau nyerah saja rasanya. Belum mikirin Tuition Fee.

Oh ya, saya baru tahu juga, di Austria, Master program relatif affordable buat program study yang mendekati background saya. Sekitar Euro 400/semester dan total 4 semester. Ada satu program study yang saya incer di negara itu (yang bahasa pengantarnya bahasa Inggris).

Requirement mereka juga lebih tinggi, tentunya. Yet considering, I have time, harusnya punya persiapan lebih matang.

Living cost bisa hampir mirip dengan living cost saya sekarang, paling mahal biaya sewa rumah. Dan ini diaminin Doni, sahabat SMA saya yang phD di Itali dan Inggris.

Hmm….we’ll see! Terima Kasih teman-teman twitter yang sudah menanggapi draft novel kehidupan saya! Hahahaha!

Buku yang kubaca

Okeh, saya mau update postingan ini 😉

So far, masih on track donk donk donk

Buku Kedua yang saya baca tahun ini “A gentleman in Moscow” dari Amor Towles. Jujurnya, ini bukunya Towles yang saya baca pertama kali, tertarik beli ini juga karena setinggannya yang di Moscow, pembatas buku yang saya pakai tiket terusan Metro 😀

Ceritanya tengang Count Rostov yang jadi tahanan rumah (di buku ditahan di Hotel Metropol) sebrang Teater Bolshoi yang terkenal itu. Beliau ditahan akibat puisinya yang menyinggung Broshelvik. Bahasa Inggrisnya agak sulit, banyak vocab baru. Jadi saya baca buku ditemanin thesaurus. Cuma bagus banget deh, cerita sejarah, science, matematika, percakapan beliau dengan staff hotel lain, saya sampai lupa cerita ini took place in a hotel, and hotel only.  Tapi nih, saking sulitnya bahasa,  saya lieur , masih teka teki buat saya perempuan yang dia temuin di akhir buku.

Nah, buku sebelah kanan, keroyokan cerita waktu sekolah di Perancis. Salah satu yang nulis, teman saya Ashar yang sekarang tinggal di Melbourne.  Buat bacaan ringan nunggu bus TJ, boleh lah… dua buku yang saya baca sebelumnya berat-berat.

Sampe lecek bukunya

The Remains of the Day by Kazuo Ishiguro.

Waktu saya beli buku ini, akhir tahun 2017 buat menemanin perjalanan ke Kansai. Bah! CGK – Pudong – Osaka – kyoto – osaka – pudong balik Tangsel lagi gak beranjak dari halaman 10. Akhirnya saya baca dari awal lagi. Anaknya harus ditantang dulu. Ceritanya awalnya tahun 50’s waktu Steven- seorang buttler mau melakukan trip. Isi buku sih, cerita kehidupan dia jadi Buttler di Darlington Hall selama 3 dekade. Waktu Darlington Hall lagi ada acara, lagi sibuk-sibuknya, bapak si Steven sedang menunggu maut. Wah, saya nangis bagian situ. Dia ngga bisa nungguin bapaknya karena harus kerja.

Bagian sedih lainnya, waktu dia harus memecat dua petugas rumah yang Yahudi disuruh boss-nya. Jadi saat itu, Nazi lagi bunuh2xin orang Yahudi (bet you guys know the brief history). Duh, serba salah. Padahal dua asisten tersebut kerjanya bagus, just because they were Jews.

Why do I chose this?

Ngga tau kenapa, buku pilihan saya settingannya di tahun yang mirip-mirip. Hahahaha!

Cerita dua asisten Steven, semacam diaminkan di buku kelima yang saya baca, The Boy Who Followed his Father into Auschwitz. Per hari ini baru 1/3 buku terbaca. Buku ini cerita keluarga Yahudi yang sudah tahunan di Austria, lalu tercerai berai lah pas pendudukan Nazi di Austria. Edith, harus melepaskan semua cita citanya karena dia seorang Yahudi. Padahal lahir dan besar di Wina. Saya sengaja lho ngga baca The Boy in Stripped Pajamas, mewek pasti! Cerita ini kayaknya bakal mirip mirip deh. 

Wih, kalau saya balik ke Wina lagi, harus mampir Linz deh. Camp-nya jadi tempat wisata sekarang. Dulu cuma liat Linz Hauptbahnfof dari kereta aja.

 

Saya ubek-ubek lagi lemari. Ternyata masih banyak buku yang belum kebaca ih!

Target saya, buku paling bawah bisa saya baca (dan ngerti) at least akhir tahun! Hahahahahahhaha! Is it too Much to ask? 

Bike To Work

Dari waktu di Midplaza, or to be precise, dari waktu punya Road Bike, saya sudah kepikiran mau bike to work! Biar kek’ saudara saudara di Belanda…#halah.

Alasannya, begitu saya turun dari Stasiun Palmerah, saya saya sangat kesulitan cari feeder. Alternative ya kalau ngga taxi (harus patungan, kalo ngga mahal, at least IDR 25,000/trip) atau ojek (IDR 15K/trip). Tahun segitu belum ada Ojek Online apalagi Trans Jakarta. Apalagi kalau hujan, bubar semua. 

Tapi pelan pelan, transportasi umum membaik ya. Saya sendiri sih lebih bertekad pakai Trans Jakarta saja daripada ojek online. Sama saja seperti ojek pangkalan, bikin macet karena mereka menumpuk di jalan.

Jakarta Hijau

OOT dikit, saya heran lihat orang-orang, yang memperlakukan transportasi berbasis aplikasi online ini sebagai supir pribadi. Masih di Stasiun Kebayoran sudah mesan ojek , atau masih di kantor belum rapih-rapih, sudah mesan ojek, suruh supirnya nunggu di jalan bermenit menit. Sinting kalian! Kalo hidup lau pada sulit, gw ngerti deh kenapa! Ngga usah play victim!

OK anyway, balik lagi. Selipan nge-gas.Seiring dengan membaiknya transportasi umum Trans Jakarta, yang frekuensi busnya lebih sering dan busnya bagus bagus, saya perlahan tapi pasti melepaskan ketergantungan sama ojek online ini lah. Rute bus Trans Jakarta bertambah, sehingga saya bisa naik TJ dari stasiun Palmerah ke kantor. Tinggal jalan 10 menit. Hitung-hitung olahraga.  Ini bisa nge-cut expense saya lumayan banyak bahkan nge-cut tummy line saya lho! Serius!

Sampai…tetangga saya bilang 

“Kita kalo ikut le’ Tape ngga bisa deh ngandelin sepedahan weekend aja. Harus bike to work nih!”

Jadi, saya dan tetangga saya, Bulan April besok join race sepeda. Le’Tape Indonesia namanya. Cek link saja ya gan!

Baru deh kepikiran cita-cita lama! BIKE TO WORK! Buat selingan latihan sepeda.

Kebetulan saya kenal  rekan –rekan Rocketers Indonesia yang memang menjadikan commuting with bike, sebagai lifestyle mereka. Toh di kantor memang ada shower room buat karyawan yang mau olahraga di pagi hari / pulang kerja.

Saya juga Tanya-tanya sama teman kantor yang bike to work. Berikut list yang diperlukan kalo mulai B2W an

  • Lampu sepeda depan dan belakang. Lampu belakang sudah punya, tinggal lampu depan. Rechargeable LED BICYCLE Lamp minimal 10W (edited: lebay amat 400). Fungsinya kalau penerangan jalan kalau gelap.
  • Gembok sepeda. Saran merk Abuss, tapi saya cari kemarin ngga ketemu. Pake yang ada aja.
  • Jaket kedap air berguna di musim hujan kaya gini. Waterproof dan wind breaker.
    Tools sepeda, ban serep dan adapter ban dalam dan Waterproof bag. 

Dari list di atas, yang saya tidak punya Cuma LED Bicyle lamp aja. Beli di Rodalink harganya sektiar IDR 400K. Sisanya punya lah, karena kan anaknya suka ngetrail dan memang nge-road bike…#halah.

OH, adapater ngga punya dink,belum sempat beli . Adapater ini dibutuhkan karena ban dalam untuk road bike, pentil buat mompa ban-nya kecil. Jadi kalo seandainya ban kurang angin, harus dipompa pinggir jalan, ya butuh adapter ini.

Pertama kali bike to work, duh saya komat-kamit doa. Emang ngga santai traffic Tangsel-Jaksel, tapi manageable lah. Kalau memang minta jalan, kasih tangan bilang terima kasih sebagian besar pengguna jalan appreciate, ngga klakson terganggu, semoga begini terus ya.

Hahahah. Saya sih percaya banget treat people the way you want to be treated. Bahkan pernah mau nyebrang (gotong sepeda) dari depan Senayan City, sopirnya TJ berhenti, padahal harusnya saya yang kena lampu merah.

Sampai saya nulis ini, udah 3x bike to work, sekali aja bike to home. Tenang, saya selalu dikawal kok. Jujur belum berani sendirian.

Sehingga saat ini meja kantor isinya :

  • Sabun mandi …tentunya…
  • Facial oil, merek Biore
    Bedak bayi, ini buat menyerap kaki basah karena hujan atau keringat,
    Body lotion and cologne. Saya pernah baca di twitter, kalo membalurkan lotion langsung pake cologne hasilnya stay agak lama, Kayaknya ngga terbukti di saya sih. Hahhaha
My body care at office desk
  • Oya, gimana baju gantinya? 
  • Saya bawa sehari sebelumnya. Baju kerja, jilbab dan handuk. Jadi backpack ngga berat pas sepedahan. Bedak and lipstick disimpan juga di meja kantor, biar ngga demek-demek amat. Siapa yang bike to work juga di sini? Cerita donk!

    Lucu ya Bag packnya?

    (race recap) Tahura Trail Run 2020

    My second Half Marathon Trail Race

     I did this race back in 2015, when I did it with my elementary-year-kids.  I wrote, I wanted to try Half Marathon, but it was impossible to do it back to back in that year. I signed up for 2016, but I couldn’t make it, also in the following year….and the following year except in 2019, because surely I’d had Ironman Bangsaen on February. Ngga usah kebanyakan gaya bikin bokek aja.

    So, last August, I signed up anyway, to check long the pending bucket list! Knowing the fact, that I – most likely would travelled solo.

    I didn’t have trail shoes, it was completely broken on Messatila Half Marathon, so I have to buy another one from New Balance. The reason? I also used NB previously and it – somewhat – affordable ones ;). I need to replace my road running shoes, since Kayano 26 doesn’t do good ( di lego ngga nih sepatu ? Ha!)  So, I refuse to burden my expenses on shoes…. ( I lied, tho’ – women never had enough shoes, asked Cinderella!)

    Anyway, after Langkawi,  I managed to do trail run four times and it was an extra challenge for this overweight middle age woman. The first time I came back to Pondok Pemburu route with Tina and Afiza, it was a challenge to keep up with them, but heck…..demi Konten Instagram– the show must go on!

    Twice with Skolari squad, witnessing that age – is truly – just a number. I-considered- those senior citiziens are strong, climbing Pondok Pemburu route cem Kancil ketahuan mencuri ketimun sama pak tani, larinya lincah bet!!!!!!!!!Cih!

    Malunya gw, rasa ingin menyembunyikan wajah di dada Daniel Craig! btw,  blio di Knive Knife Out cakep bener ya, andai  rang londo di kantor seganteng blio, disuruh lembur betulin spreadsheet gw ikhlas….asal ditemenin di sebelah.

    Note that Skolari holds training twice a week, Thursday and Saturday, combination between running form coaching, strength training etc. Training camp  holds in GBK and it’s free! Do join them! or simple follow their IG @skolari (endorse boleh, min? Penulis haus popularitas)

    Anyway, I picked up the  Bib in Jakarta, so it would be hassle-less  for me once I arrived in Bandung, realizing, I’m not familiar with this city. Previously, I contacted my Ria, my former colleague who lives in Bandung to pick me up on the way to the starting pen.

    In agreed time, Ria send me message telling she already arrived in agreed place, I hop on a white car that parked there and… Supirnya shock half screaming

    “MAU KEMANA BU? ”

    anjrit, gw salah mobil choy!  Mobilnya Ria ternyata yang di belakang. Blur blur like Sotong!

    Soon as we arrived, reunited with Amel-who is my former colleague as well and her husband. The four of us took Half Marathon distance.

    I didn’t realize the Cut Off Time, nevertheless I assumed it would be do able for me, since the track famous for beginner’s friendly.  It was raining the previous day and I was thinking the route would be slippery like what happened when I did Messastila.  The race was postponed for 15 minutes yet the good news was, COT was extended for another 45 mins considering yesterday’s weather!

    HALELUYA!

    I was pretty sure, I could finished this race before COT then ! Notice then none of the trail race I’ve participated that I finished before COT! Nyiahahahhahahha….DNF terus, gw tetep  daftar terus! Being over confident I am,  yang penting update status!

     7.15 sharp, flag off! 

    • First 200 m, I still ran with Ria and Amel.

    70308fa1-41b1-4876-b46c-a729bdfd37f1

    • Then the track going up….and climb…and up again! I cursed that I didn’t bring track pole with me, but I think I was good with my breathing. Coming back to Akbar’s class do me good. First 2 Km was housing and café complex as Dago Pakar is famous for its look-out area, being the highest point of the city (kali yaa, sok tau aja gw). I lost Ria’s sight, the advantage of being a local, running on undulating track was her daily exercise (of course, this is my excuse).
    • Water station was just-fine! I said just fine since they only provided Mineral Water (on gallon) for the first W(ater) S(tations) but they gave bottled-isotonic water on the next WS, yet I always run out sliced-watermelon.
    • Then it came the combination of  dirt, local farming area, villagers’ housing complex and my halusinasi.   Bottle neck took place in some area when the track is single, climbing and bit slippery and when I was waiting inline to cross basic-bamboo-bridge, I saw a familiar figure:

     “Ehhh…loe anak Niaga  kan ya Cabang Makassar?”

    He was my former colleague. I was in Makassar for business trip while he was stationed there. I was pregnant with number 2 at that time, so I haven’t see him for more than 14 years.  Funny how my brain works, suka mengingat yang ngga perlu diingat.   Untung juga si Dani inget gw, kalo dese lupa ama gw tengsin juga akik.  Then we had pep talk while climbing, before I left him *sombong*.

    • At Km 5,  which was at the  peak ( at least it seemed on the peak), another WS was available and cheering station from RIOT community. This guy was soooo funny. Anyway, I asked a random participant who took her time – not so ambitious – to take pic of me. Being alone most of the time since I lost Ria and Amel.
    • As I took a sip of water and turn left…and witnessing an u.n.p.l.e.a.s.a.n.t view, another hill!
      While proceeding my journey, another participant asked  me:

      • “Kita ndaki sampe Km berapa ya?”

    “Hmm….16K kali yaa?”

    “Yang bener loe! Ngga mungkin ah! 10K kayaknya deh”

    Me (dalam hati): Numpang mobil aja gw salah, baca peta lagi

    • In Km 8-9 check point or so, where the marshals manually check the bib, one of them said “sudah ada 6 orang mbak yang finish”. It was  slightly over 2 hours after flag off and I was amazed. Ini yang sudah finish figuran di Sinetron Tutur Tinular (ketahuan umur)  apa gimana sik? Bisa loncat loncat di pohon pasti!

     

    • Before pines forest, there was also water station next to a “pa-ma convenient store” a.k.a warung where I saw few participant taking break for hot tea and Indomie! One of them offered me, I was in doubt since I (think) I was pretty hungry, yet  stomach was uneasy.
    • Good thing about this race is the committee provided folding plastic cup to reduce the disposable ones. The thoughtful thing for the earth.
    • I looooove the track in Pine Woods, so refreshing, a bit foggy with a-then-considered-flat track. Being slow as turtle I am, I gave my way to faster participant, no need to hurry! I have plenty time to brag about!
      One of the participant who passed me (later I learn his name is Rian) asked:

      •  “Ngga ikutan S (entul) U(ltra) T(riathlon) mbak?
      • Me : ya ngga lah gela.  Eyronmen biasa aja gw DNF 2x, mau SUT pulak! (karena COT-nya 7 jam 30, – admin) eh….Kok lau tau, gw tri?  ~ How do you know I do tri?
        Him : kayaknya sering liat.
      • Hasekkk… biar dua kali DNF  tampaknya gw cukup femes! Padahal bisa aja Rian salah orang ya, gw aja ke GR an.

     

    • In Km10, we had reached the highest point. Cem kehidupan, setelah tanjakan pasti ada …tanjakan lagi! Merde!  Belum kelar juga nih tanjakan, bebs?
    • I guess the way down was at Km 11, where we run thru another dirt, villager’s housing complex, farming area and of course, another halusinasi from me. I fell down many times, just like when I was in Messastilla. Apparently, body balance is still an issue for me.
    • It was 5K before finish line, I saw a shocking track at least it was for me. A trunk as a bridge and I was  alone, clueless how to cross that back-to-nature-bridge. I step very slowly – wish I join gymnastic class when I was younger, while holding to any branch and I could find but unfortunately, it was not firm seperti janji mantan. Kayaknya gw  memutuskan ngesot deh, I think I drag my butt to cross that! The name is also the effort – namanya juga usaha buat finish.
    • Later, I arrived the familiar area! Ah ya, I had reached Taman Hutan Raya tourist area. The same track when I did 6K with my kids 5 years ago.
    • I heard Azhan Zuhur when I was about to cross the finish line….and….nobody around to greet me! Rasanya kayak WA ke gebetan delivered, centang dua biru tapi ngga di balas! P.A.H.I.T ! The least favorite thing about solo racing, nobody you’re familiar with – greeted you at finish line…hih! As slow runner,the Bintaro Trojan Runners squad greeted me, many picked me up near the finish line…snif snif. And My Garmin never worked well in any trail race, yet the official result as follow:

    With Dani later on

    Done and dusted

    verdict:

    • During the races, I took 1 Endura gel , two soy joy and two cups of Mizone ( I pour to the folding cup ). It was enough to keep me moving.
    • Yes, the track somewhat, friendlier than any trail races I’ve been participating. But I do realize, my endurance was much better when I did BTS 30K then this one.
    • Kang’ kekernya banyak bebs! Ma kasih ya! Di tengah hutan kayaknya  gw cakep(an), kecantikan natural gw terpancar saingannya tanah sama puun soalnya.

     

     PS : all photos are personal except marked otherwise.