Another Lesson of life

Her ex-husband was in huge debt, frustrated and started to do domestic violence. After years, she filed for a divorce, but she had to move out-together with two children-from the castle.

Bringing two beds and one refrigerator that have to fit in a- 27 sqm – house and leave no more space for other stuffs. I imagine she used to live in a 270 sqm house.what a huge adjustment for three of them.

I asked her, how will she make a living?

She replied : i went to Jakarta by train (2 hours trip, one way) to get these (big bag of plastic utilities such as baskom, trash can, etc) and i brought along these kids with me. So three of us, carried one big bag, in each hands.

I replied : How much would you sell the stuffs?

I started to wonder whether such a price make money ends meet? How many of us need baskom plastik in daily basis anyway?

On her daughter’s birthday, she made tumpengan and pudding, and gave it to me. Still trying to make the days count.

She came with money, life hit her, bad! She broke, really really broke.

She stood up, crawls whatever.

I never heard she yelled at her children.

Other time, I heard she sang together with her children, like they really had time of their life

Now I wonder, what is her secret to stay that calm.

Movie review : is love enough, sir?

Hail netflix! Sekarang bisa menonton film film asing non Holywood! Well ya, menurut saya, dulu juga bisa tapi terbatas.

Kemarin saya nonton film ini. Cerita seorang asisten domestik a.k.a pembantu rumah tangga, bernama Ratna, seorang janda karena suaminya meninggal. Dan dia dianggap pembawa sial oleh keluarga suaminya.

Hampir mirip dengan kaum proletar negeri +62 ini, Ratna juga memilih ke ibukota (Mumbai) untuk mencari nafkah dan gajinya dikirim ke kampung. Untuk keluarga alm suaminya dan untuk adik perempuannya sekolah. Ratna ingin adiknya jadi sarjana, tidak buru buru nikah. Sayangnya adiknya tidak sabaran! Pengen banget ke Mumbai sehingga bersedia dinikahkan muda (dengan mahar untuk pria yang masuk akal,sehingga orang tua Ratna memperbolehkan).

Adiknya ini tidak menyelesaikan sekolahnya, membuat Ratna semakin geram sama kehidupannya. Cita cita dia agar setidaknya, adiknya sarjana dan mempunyai kehidupan lebih baik, kandas.

Ratna, bekerja dengan Aswhin – civil engineer terkenal di Mumbai – karena berasal dari keluarga kaya property juga. Aswhin gagal menikah, sehingga teman diskusinya di rumah mau tidak mau hanya Ratna.

Ratna sendiri, awalnya ART ibunya Ashwin, dan di tempatkan di rumah Ashwin agar bisa membantu keluarga kecil ini. Sounds familiar ya? Mirip keluarga keluarga di Indonesia juga. 🙂

Anyway, Ratna berniat memperbaiki setidaknya kemampuannya. Dia minta ijin ke Ashwin untuk belajar menjahit saat Ashwin kerja dan diperbolehkan, bahkan memakai uang sendiri.

Ratna akhirnya bisa menjahit baju pesta sendiri dan dihadiahkan Ashwin majalah designer.

“Everybody entitled to have a dream, Ratna”

Melihat tuannya lebih santai kepada dia- sang pembantu – Ratna memberanikan diri bertanya ke Ashwin, cita citanya. ashwin sendiri menolak dipanggil Sir, panggil nama saja. Jelas Ratna menolak.

Ashwin menjawab, sebetulnya tidak ingin kembali ke Mumbai karena sebelumnya memiliki kerja yang membuat dia senang di NY. Tapi harus pulang, di suruh orang tua melanjutkan bisnis keluarga. Sounds familiar untuk ketiga kali +62 dan +91 ini. Ratnapun berkata, orang berduit pun tidak serta merta bisa mewujudkan mimpinya.

Long story short, Ashwin jatuh hati kepada Ratna.

Dan bukan….ini bukan tipe sinetron negeri ini sekitar 1 dekade lalu dimana seorang perempuan kaum marjinal dicintai seorang lelaki aristokrat dan mereka hidup bercukupan bahagia selamanya.

Ratna cukup “tau diri” dan berkata:

“Tidak semudah itu! Kamu tau kenapa saya diperbolehkan kerja di Mumbai? Supaya keluarga alm suami saya tidak perlu memberi saya makan. Itupun saya harus mengirimkan uang 4000 rupee ke kampung!

Jika saya mewujudkan cita cita saya, orang orang itu bisa kehilangan uang kiriman dari saya, pasti abang ipar saya menyeret saya pulang kembali jadi pembantu.

Duh!

Dalam! Deep!

Hidup memang tidak se-simple itu. Untuk sebagian orang, atau banyak orang, mewujudkan cita cita punya konsekuensi yang luar biasa! Merubah ekosistem keluarga terdekat! Sayapun patah hati dengar jawaban Ratna, hiks!

Akhir cerita, dibuat agak menggantung sehingga saya berharap Ratna benar-benar bisa punya butik!

Bukti film India, tidak sekedar joget dan nyanyi dekat pohon! Ah, tapi film Indonesia, juga bagus bagus kok sekarang!

Late birthday gift or early Ramadhan Gift

I found this funny 😀

I had easy ride with male former colleagues yesterday. Only 3 of us, we did have “Gocapan – GOwes CAri saraPAN” every now and then.

When our ride about to end, one of the boys said

“Here, from us! Late birthday gift! We notice that’s the only arm sleeve you have”

Zzzzz…”I HAVE TWO! For God Sake” 🤣

I thanked them of course! A nice surprise and secretly murmuring to myself “one of you guys probably had plenty of this”

I reminded the episode again, my male closest friends, Edy and Dony never did such a thing! I dont think so! Liz the one who always leaded them 🤣

But hey, I found it cute tho’!

The Gift

Actually, I had those arm sleeves with exactly the same brand, but it was torn when I had the bike accident last September.

Thank you Boys! You guys are too sweet and too silly!

Adek bangga kok…

Jadi ketika saya merasa pilihan yang saya buat itu salah, rasa gelisah benar benar menghantui saya.

Saya sampai menangis di pagi hari, mencari keberadaan ayah saya, layaknya saya di usia 5 tahun!

Memang banyak yang bilang, setua pun apa anak, tetap butuh approval orang tuanya, sekedar afirmasi.

Menjelang malam, di meja makan, anak bungsu saya bertanya. Kenapa gelisah.

Saya beberkan semuanya dan berkata:

“Bunda cuma pengen Totok (panggilan anak anak untuk ayah saya, harusnya Atok/atuk/datuk, tapi si kakak sebagai cucu pertama dulu manggilnya Totok, ya ke terusan), adek sama kakak bangga sama bunda. Bunda malu, gagal lagi di umur segini.

Seraya mengunyah makanan, si bungsu berkata

“Adek bangga kok sama bunda, bunda kan single figter”

Lalu air mata mamak mengalir…deras.