Ke Jogja (lagi)

Hello world!

Akhir pekan lalu, saya ke Jogja lagi. Pergi sendiri, tentunya naik kereta! Hahahaah! Suka banget soalnya naik kereta dan ini pertama kali naik kereta siang. Biasanya kan malam. Jadi deh bisa lihat pemadangan langit biru dan hamparan sawah.

left side view

To kill the time

Selain itu, in my humble opinion, naik kereta (dan commuter line) itu TEPAT WAKTU. Slot waktu yang saya siapkan, tepat.

Saya naik kereta jam 8 pagi dari Gambir, sehingga saya alokasi 6.30 pagi dari rumah untuk naik Commuter Line ke Tanah Abang pukul 6.47. Sampai Tanah Abang , pukul 7.15 sehingga sesuai rencana saya 7.30 saya sudah bisa sampai Stasiun Gambir. karena harus cetak tiket kereta paling lambat 10 menit sebelum berangkat.

Kalau saya naik low cost budget airline yang “satu itu”, resiko delay booo! Hitung hitung sama saja waktu tempuh.

Pun ketika Kereta berhenti lama (hampir 15 menit) di Purwokerto. Announcer bilang baru berangkat 1.12 pm, tepat jam itu kereta berangkat. Tadinya saya mau beli Bengbeng di Indomaret, ngga berani. Takut ketinggalan keteta

Purwokerto Stop

Diluar perkiraan saya, Ya Allah AC kereta siang itu tetep dinginnn booooo! Menggigil malih! Brrrr.

Tips for me : chose right side if you travel to Jogja, it offers better view! Bring blanket too!

As scheduled, pukul 15.40 saya sudah sampai Jogja. oh ya, dekat stasiun Tugu Jogja – di ujung persis. sudah ada coffee shop 24 hour! april lalu belum ada

Saya menginap di 101 Hotel, sehingga tinggal geret koper saja ke hotel. Lalu sengaja ngopi di sini

Coffee shop

Hanya berapa meter dari hotel. Bulan April lalu mgga sempat ke sini, tutup terus pas lewat. Ternyata yang punya orang Pondok Aren juga! Hahaahah

Ngapain ke Jogja?

Diah’s wedding

Salah satu kolega nikah. Teman teman lain berangkat sehari sebelumnya.

Sunrise and Mountain Calls

Besoknya, saya rencana beli Bapiaku dan Bakpia Tugu! Snack kekinian kota ini.Habiss booo! Ya Ampun! Jogja weekend kemarin penuh, karena long weekend dan Prambanan Jazz Festival! Pantas sulit cari pesawat (murah). Saya akhirnya pulang sore, ngga bisa bareng dengan teman lain yang terbang dengan pesawat jam 2 siang.

Untung ya masih ada Rachel, anak generasi millenial yang rencana pulang Rabu. Blio mau bikin bisnis dan lagi survey! Hebat ya anak muda sekarang. Oh ya, karena saya tidak sewa mobil, jadi cuma mau sekitar Malioboro saja sebelum pulang.

To kill time, kami ke

Di Keraton Jogja

Pernah dipakai Sultan HB IX.

HTM : IDR 3,000

Perasaan jaman kecil ke sini, lokasi wisatanya luas deh. Kok sekarang dibatasi ya?

Keluar Keraton ke

Musium Kereta Keraton

Ini kereta yang khusus dipakai Sultan. The guide said even his wife is not allowed to hop ini.

Kereta-kereta ini dibuat 1800-an lho! Rodanya import dari Jerman dan Belanda. Cara mereka bertukar informasi gimana ya? Hahahaha, belum ada Letter of Credit kan saat itu?

HTM : IDR 3,000

Isinya koleksi kereta keraton.

Lalu mampir bentar ke Museum Sonobudoyo. Ini museum paling jarang dikunjungi kata guidenya. Padahal HTM cuma IDR 3,000 dan full AC lho! Koleksi benda sejarahnya banyak, contohnya ini.

Al Quran yang dibaca Sultan HB V

Setelah makan siang, balik hotel untuk pesan Go Car. Supirnya sempat kelewatan terus nelpon

“Ini arah Selatanya mbak?”

Ampun dijeee, sini besar di ibukota, ngga paham arah selatan, utara, dsb! Padahal petunjuk arah mata angin ini yang benar dibanding kanan atau kiri.

Cuss, I bid this city farewell. Ampun airport penuh nya.

Oh ya, another tips for me, if you travel back to Cengkareng from Jogja, chose the right side! It gives you mountains view!

Merapi and Merbabu

Till next time Jogja! Semoga transportasi umumnya lebih memadai!

Advertisements

Jalan Sudirman Kini

Mungkin, tidak semua teman yang baca blog saya ini tinggal/beraktivitas di Jakarta.

I tell you what, sekarang Jalan Jendral Sudirman sudah lebih rapih loh!

Bulan Juni kemarin, masih kayak gini. Sebelumnya lebih parah! Berasa main Benteng Takeshi deh (kids grew up in 80’s). Naik turun gundukan tanah, nginjak sisa sisa bongkaran, semen, batu, dll.

Sekarang, sudah lebih kece. Trotoarnya nyaris sebesar yang di Orchard road! Hahahah

Trotoar depan hotel Sahid

lalu, yang lebih menyenangkan buat saya karena commuting dengan transportasi umum, ya halte bus-nya. Pakai lampu! Ngga was wasan lagi kalau nunggu bus di malam hari.

Halte

Bahkan, saya posting ini sembari nunggu bus Trans Jakarta di halte itu. Hahahaha

Oh ya, busnya sendiri (bus Trans Jakarta) sudah semakin banyak koridornya. Ada yang lewat jalan biasa malah, contohnya bus yang saya tunggu ini untuk ke Stasiun Sudirman.

Dan tambahan lagi…

gratis!!!

bus-nya gratis! Lampunya terang, AC dingin, ngga kalah deh sama bus yang saya tumpangi di Kyoto atau Penang.

Jeleknya, saya jadi malas jalan dari kantor ke stasiun! Alasannya , dulu jalan ke stasiun karena males macet di atas Metromini atau Kopaja yang macam sarden itu. Belum resiko copet!

Sekarang, Mending nunggu bus TJ yang gratis atau ada yang bayar juga cuma IDR 3,500. Turun pas di atas stasiun. Masih lebih murah dibanding metromini 604 atau Kopaja P 19 dengan kondisi jauh lebih manusiawi.

Inside the Bus yang bayar

Gimana? Seru kan kelen keliling ibukota dengan TJ bukan dengan ojek apalagi becak. Jiahahahahha!

update : ini foto jalan Jendral Sudirman diambil dari JPO depan Hotel Le Meridien

Arah Blok M

Arah Bunderan HI

The Notebook

Biar sekarang sudah jamannya digital, I still write on Notebook. Dari 10 tahun lalu, notebook favorite saya tetap sama.

Memang sih, harganya di atas rata-rata. Itu pintar pintar alokasi expense saja sih 😉

Moleskine yang sekarang, kecil saja. Segenggam tangan ukurannya. Sudah 3 tahun punya ini.

Waktu saya tweet tentang diary hardcase ini, teman saya Ariemega nanya isinya apa.

Ngga penting penting banget rupanya.

Draft itternary Eropa Trip *excuted*

Draft untuk Kasus Financial Planner

Akhir tahun 2015, saya ambil sertifikasi Financial Planner. Rencana awal mau kerja freelance saja, tapi tetap harus presentasi suatu kasus kalau mau join firma. Long story short, saya cemen. Takut gagal. Tidak diteruskan cita cita ini

Übung machte Perfekt

Latihan Bahasa Jerman. Kalau ada daily quiz di instagram atau twitternya DW (DeutschWelt) biar tidak lupa saya suka tulis lagi. Hahahaha.

Termasuk THINGS TO DO

task list

Ini waktu mau pindahan, bolak balik rumah lama-rumah baru lelah benar.

Things For Sale

wspesifikasi barang-barang yang mau dijual :))

Termasuk mimpi mimpi seperti ini

persiapan dana haji

Sapa Tau ke Itali

Notebooknya sisa 2 halaman lagi. Tapi saya sudah beli yang baru sih.

Dekil Sekali

sampai dekil banget noteboknya.

Ada yang masih pakai notebook untuk menunjang aktivitas sehari-hari? Atau nulis draft novel kehidupan lah :))

PS : forgive my ugly handwriting. Kadang saya juga ngga bisa baca tulisan saya sendiri.

For my friend, really…

Saya barusan bersih bersih foto di Hp. Terus ketemu foto ini

Cezh Beer

Teman kantor, Citra, ke Ceko 6 bulan sebelum saya pergi. Blio nitip minuman itu, katanya enak dan murah.

Lupa harganya berapa, kalau tidak salah tidak lebih dari 600Kroner (IDR 30,000-an)

Gampang banget sih nyarinya, macam kita cari Teh Pucuk lah kalau di Indonesia.

( PS : btw, konon. Penjualan Teh Botol S*s#* sudah dilampaui oleh Teh Pucuk? Incumbent tidak selamanya berjaya)

Balik lagi.

Yang bikin saya ketawa simpul, pas nemu minuman ini, saya bawa ke kasir kan. Bukan di convenient store sih belinya, tapi di sekitar deretan toko souvenir, yang jual minuman ringan.

Nah pas di kasir, yang jaga laki-laki. I think he is either Turkey or somewhere from North Africa (Tunisia / Algeria). He greeted me Salam.

Dia langsung nyari bottle opener, saya nyaris teriak

Me : hey don’t (open). It’s for my friend!

Him : where is he?

Me : in my country. I’ll give that as souvenir.

Him: *ketawa nyegir* yeahh! I trust you.

Me : bener kok!! (I said it In English, of course!)

Terus dia senyum penuh arti gitu ke saya. Ish!!! 😀

PS : itu tangan saya garis garis hitam karena lagi nyari eyeliner. My favorite eyeliner tetiba hilang, padahal besoknya ada janji . Ingin terlihat kece maksudnya, mewakilkan pesona wanita Asia gitu. #tsaaaahh

Lampung Trip : back to the South

A.k.a Tang(erang) Sel(atan)

We went for a short run again, exploring the other side. Ira lived here during her first 18 years, so she was reminiscing her old days, her school and place where she practiced her swim (she is a good swimmer).

Pahoman Swimming Pool

Remind me, I have to go back to my swim class again, sudah absent dari bulan Mei.

We run for a purpose, Mie Ayam Lampung for breakfast.

Mie ayam Lampung and fresh orange juice

We already stopped by yesterday, too bad the line was too long.

Return to hotel, packing, and check out heading for a (modern) coffee shop. I think This chain coffee-shop is only serve in Lampung.

Had lunch outskirt the city, Cek Mat who provide all-fish-dishes. Heaven!

Udang Bakar, Ikan Belida and Patin Baung for Lunch

We met the owner, who greeted his customers also clean up the table by himself. To make sure all tables are clean before another guests coming.

Then we had to bid farewell to the city, 2 hours drive to Pelabuhan Bakauheni.

View to the Port

On the left is Menara Siger (Lampung Singnature — also marked as Titik Nol Selatan Sumatara, Km 0 South-est Sumatra. Km 0 in the North-est located in Pulau Weh – in case you’re non Indonesian.

Unfortunately, we (again) had horrible experience for ferry boat. Urgh! This one is smaller to compare to the other day, yet more passengers. AC is not working too.

I climbed at the upper deck, people smoke everywhere though there is designated smoking area and threw rubbish everywhere. Yahh kalo kelen masih sengsara, keknya kumengerti. Gw sampe pungutin tuh botol plastik sendiri deh. Gemes!

Ngemper Jek! Di dalam panas

Jikalau kelen menggerutu commutting dengan Taksaka, percayalah, hidup 7 jam di kereta with reliable schedule lebih enak daripada 2.5 jam menyebrang laut :)) dan antri keluar kapal 45 menit.

Approaching Merak Port

Anyway, I stayed in Sheraton Hotel, and had this mark in my room.

I’m puzzled, I don’t remember I have signed any hotel member or alike. I always chose the lowest price of course! For this one, I paid for the same price with my friends but better view.

Then I remember, during my business trip, the company set this hotel for the accommodation. hahahahah.

Ada benernya juga isi isi form, otomatis nama saya sudah ada, regardless who paid for the room. Manyanlahh…rejeki. Biar ngga upgrade kamar, at least you’ll have better room view…if that matters.

Room view

Time for laundry, 10-step-skin care and ngejar commuter line besok pagiiii!!

Until my next trip!

Where to go next?

Lampung Trip – Elephant Can Remember

Lampung Trip – Elephant Can Remember

The Jersey

I woke up this morning with a purpose, I had to do morning run in this hilly city. Owww those hills are killer!

And anyway, Yes, you’re right! We went to Way Kambas National Park this morning, via Metro. i think this is the second largest city in Lampung. Road trip took 2.30 hours. More or less.

We already bought our lunch in the city – the famous Ayam Bergadang – since there are no restaurant at National Park.

The Enterance Gate

Arrived near noon, and since it’s quite far, even from Bandar Lampung, there were not so many visitors.

Male Elephant! How do I know??

We bought a ticket to do jungle tracking for 30 mins. It’s scary! Yet fun!

Elephant Ride

During tracking, we met, a Erin, 4-year-old-elephant that lost her trunk. Our guide told us, she got trapped by the local who wanted to turn her “home” into Palm Plantation.

Fortunately, the ranger could save her, otherwise she might got killed, like her mother.

Human – some said they are the most dangerous creature on earth.

Poor Erin

After we had our lunch by the pool – where the elephants take their bath – then witnessing they had fun in water.

one of them without the guide, ran away, but her front legs were chained, so she wont run far. She was very hungry she kept looking for food even on the rubbish ban! Gee.

But #1 could pat her!

Lost and Hungry Elephant

We cancel our trip to Pungug Raharjo, too late. Teman saya Iin juga bilang kemarin, tempat menarik di propinsi ini berjauhan satu sama lain. Mungkin kalau sudah ada jalan yang memadai waktu tempuh jadi lebih cepat ya. Negara sebegini kaya, kalah saing dengan Thailan atau Malaysia karena infrastructure-nya. Tapi tadi saya ada lihat, pembangunan ruas jalan tol di dekat Metro. Semoga memangkas waktu tempuh antar kota di Sumatra ini.

Too bad this “rich” country couldnt compete its tourism business with neighborhood countries due to the infrastructure.

We were heading back to Bandar Lampung and saw Durian Seller! Dapat salam dari Liptor! There goes my cholesterol.

King of Fruits. Either you like it or hate it

PS :

  • Enterance Fee WayKambas National Park : IDR 5,000/person + IDR 10,000/car
  • Parking IDR 10,000
  • elephant Jungle Tracking 30 mins : IDR 150,000 for Indonesia, foreigner IDR 250,000/person.
  • One hour jungle tracking IDR 250,000/person for Indonesian.

2nd PS : The title is the book by Agatha Christie published in 1972. i read the book, but I forgot the story.

Lampung Trip : Snorkeling until you drop

We spent the day, by island hopping, to the famous Pulau Pahawang via Pantai Klara, just across the TNI AL complex ( Indonesia’s Marinir)

With a rented boat and snorkeling equipments.

we were sailing again, island hopping and arrived at Pulau Pahawang.

For the only purpose..snorkeling.

heading Pulau Pahawang

And another spot at “Taman Nemo” – this where you can find Nemo – from Finding Nemo the movie.

A floating warung! Can you spot POP MIE?

snorkeling in near Pahawang Island

I don’t have an underwater camera…but hope you can picture beautiful school of fishes, colorful ones, beautiful corals.

both Pahawang and Kolam Nemo had several “instagramable properties” under the water. there were two bicycle wrecks, even a mannequin, and funny writings like

“jangan iri gw liburan di Pahawang

Feeling Pentagon

We had lunch in Pahawang Besar, a very humble lunch cooked by local, with a great view ever! Berasa di Itali Selatan ya?

Our Humble Lunch

Then sailed again to Pulau Kelagian Besar, an uninhabited island, except for these dogs. This is a training ground for Indonesia Marinir.

Actually there were four dogs

In total we spent 7 hours for this trip. Itu aja kurang puassssss!

After arriving back at Pantai Klara, took a shower then we were heading to new instagramable spot, Muncak Teropong Laut, looking out Teluk Lampung.

Teluk Lampung Look Out

Too bad it was cloudy.

We had dinner at the famous Nasi Uduk Toha.

Later, I met my High School friend, who I havent seen since graduate (I doubt tho, is that that long not seeing each other). She had live in this city since early 2000’s. She made cakes! Kalau ada yang tinggal di Lampung mau pesan kue, bisa lewat blio.

Long time no see high school buddy

Iin suggested me to visit Pantai Hiu, too bad it’s too far.

pantai Hiu, taken by iin

PS: today expenses (buat yang planning ke sini ya)

  • Masuk Pantai Klara : IDR 30,000
  • Sewa kapal : IDR 500,000/boat up to 15 people. Tapi sepertinya max 10 kalo buat nyaman.
  • Konstribusi per snorkeling spot : IDR 20,000/visit. Dua spot jadinya IDR 40,000. Untuk apa? Rasanya buat bayar yang bolak balik jaga orang snorkeling deh.
  • Makan Siang : IDR 20,000 per orang- ikan bakar, ceplok telor, sayur asam, kerupuk! Ohhh heaven!!!
  • Sewa snorkeling equipment : IDR 50,000/orang
  • Tiket Masuk Muncuk Teropong Laut : IDR 5,000/orang + parkir mobil IDR 5,000.

2nd PS : TNI Angkatan Laut ini kalo latihan renang, full suits with helmet and gun, plus army boot! my Got! Berat bener pasti.

Marinir On training under scorching sun